Mohon tunggu...
Yohanes Arkiang
Yohanes Arkiang Mohon Tunggu... Jurnalis - Mahasiswa

Pembungkus Embun

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Politik Entertainment dan Retorika Sofistik, Akal Sehat Bisa Rusak

17 Februari 2019   12:58 Diperbarui: 18 Februari 2019   21:48 268
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Perbincangan politik hari-hari ini kian panas. Hampir tiap saat dan di mana saja, topik hangat yang dibincangkan adalah isu politik. Politik memang dapat menyentuh semua lini kehidupan sosial.

Tiap kubu pun, masing-masing mengemas argumennya menjadi amunisi tak bersubstansi dengan tujuan menjatuhkan elektabilitas lawan. Narasi dibangun dengan memperhitungkan seberapa besar dampak buruknya bagi lawan politik. Kira-kira paham machiavellisme betul-betul digandrungi.

Lebihnya, figur-figur politik semakin intens tampil di layar kaca guna memenuhi beranda berita tiap harinya, dengan harapan mampu tetap kokoh di atas awan. Hal ini kemudian media (televisi dan media berita lainnya) membikin semacam framing agar warganet semakin menjagokan tokoh politiknya. Artinya, media juga termasuk ikut serta dalam aksi pembodohan ini. 

Sementara itu, masing-masing timses atau kubu kian giat menyebar hoaks di media sosial. Banyak sekali berita bohong berseliweran di media sosial. Konstruksi narasi politik satire dan politik simbol dikembangkan dan dijual di pasar media sosial. Laku terjual. Indikatornya: banyak warganet ikut serta menyerang lawan politik dengan narasi tak karuan hingga lupa apa progam unggul dari jagoannya sendiri.

Politik Entertaintment dan Retorika Sofistik Pilpres
Fenomena perpolitikan di atas membikin masyarkat sulit membedakan mana politik dan mana entertainment. Atau mana tokoh selebritas dan mana tokoh politik. 

Menjelang pilpres April 2019 misalnya, kedua calon presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno, berlomba mendapat simpati masyarakat terlebih kaum milenials melalui media sosial seperti, Instagram dan Youtube.

Terlihat para paslon sering kali muncul di chanel youtuber atau vloger terkenal. Tak hanya itu, tiap kedua capres tersebut berpidato di layar kaca, dapat mendulang dukungan sekaligus nyinyiran dari masyarakat.

Dari situ saya melihat bahwa politik sangatlah menghibur. Di mana berita politik lebih menyuguhkan kontroversial daripada berita para selebritas. Bak sinetron, ada kisah dan skenario tiap hari yang dipertontonkan. Lantas masyarakat dapat saja berimajinasi dan penasaran kisah dan skenario apa lagi selanjutnya.

Baik Joko Widodo maupun Prabowo Subianto, keduanya sudah ikut serta "bermain sinetron". Watak tokoh yang diperankan tergantung sudut pandang penonton atau pendukung. Paling-paling, keduanya adalah tokoh antagonis sekaligus protagonis dari dua sudut pandang yang berlawanan.

Sementara itu, dari kedua kubu masing-masing membangun retorika guna menyerang lawan. Diksi-diksi bermunculan bernada sindir dengan maksud mampu bermain dan menyerang dengan sempurna. 

Kedua kubu menerapkan paham sofisme dalam bernarasi. Sofisme itu sendiri adalah cara berpikir dan berargumentasi yang njlimet, canggih, sangat rasional dan pintar, tetapi sebenarnya palsu dan membuat orang bingung serta tidak tahu lagi mana yang benar atau salah. Alat berargumen dalam sofisme adalah retorika sofistik yakni alat mengagumkan sekaligus mengerikan yang memunculkan efek relativisme moral.

Dalam hal ini kedua kubu politik ini telah menjadikan retorika sofistik sebagai amunisi utama untuk menyerang. Virus sofisme ini dapat menciderai akal sehat masyarakat yang menjadi penonton utama dalam pertempuran politik. 

Kita lihat saja, tamu politik pada acara bertajuk talk show di televisi. Mereka sangat lihai bersilat lidah dan pandai bermain kata-kata. Misalnya, nada-nada manis dari tokoh filsafat Rocky Gerung yang katanya tidak memihak paslon tertentu, mampu membikin pendengarnya terdecak kagum terlebih pendukung Prabowo. Atau argumen-argumen Boni Hargens yang rajin memprotes aksi kampanye Prabowo, serta narasi-narasi miskin substansi dari timses kedua kubu.

Perusakan Akal Sehat dalam Berdemokrasi

Fenomena politik entertainment dan Retorika sofistik secara tak sadar dapat membunuh akal sehat publik. Bagaimana tidak, publik diajarkan untuk menolak argumen pihak lawan dengan cara apapun.

Robert Bala, Seorang alumnus STFK Ledalero, NTT, dalam opininya "Pembusukan Akal Sehat", yang dimuat di harian Kompas Sabtu (16/02/19), mengatakan bahwa ada peristiwa pembusukan akal sehat yang disengaja oleh politisi dalam ajang pilpres 2019.

"Kondisi akal sehat yang tercemar tidak saja menyebar virus yang mengancam akal budi, tetapi juga melumpuhkan tekad membangun bangsa. Untuk itu butuh komitmen untuk menyehatkan kembali," kata Robert dalam artikelnya.

Dalam pesta demokrasi ini, segala peralatan perang digunkan, termasuk masyarakat. Akal sehat masyarakat menjadi korban perusakan. Kemudian masyarakat digiring untuk menyerang tanpa bersikap kritis, melainkan fanatik. Siapa yang menjamin setelah pesta demokrasi 2019, semuanya akan baik-baik saja? Tentu tidak semudah menutup sampul akhir sebuh buku.

Selagi masih bisa berpikir kritis serta selektif, mari kita warnai demokrasi dengan menjual gagasan kepada publik, menjual program nyata yang bisa menjawab keresahan masyarakat. Dengan demikian wajah panggung politik Indonesia menjadi lebih warna menuju panggung yang sinergis dan konstruktif.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun