Berpendapat bahwa eksistensi manusia adalah eksistensi yang dipilih dalam kebebasan. Bereksistensi adalah bereksistensi dalam suatu perbuatan yang dilakukan semua orang bagi dirinya sendiri.Â
Menurut beliau kebenaran adalah kebenaran untuk aku atau untuk diri sendiri karena para filosof sebelumnya hanya melihat dari segi teoritis yang bersifat objektif dalam mencari kebenaran.Â
Hal ini tidak menempatkan diri mereka sendiri sebagai subjek dalam penelitian kebenaran tersebut. Oleh karena itu menurut Soren Kierkegaard sangatlah penting untuk menunjukkan eksistensialisme dari teoritis dan konsepsi tersebut dalam diri kita sendiri.Â
Dimana dalam diri kita terdapat pengaktualisasian didalamnya dari teoritis dan konsepsi yang mereka dapatkan yang berupa refleksi obyektif dalam menemukan kebenaran yang obyektif.Â
Kebenaran yang obyektif adalah kebenaran yang berasal dari diri manusia itu sendiri. Konsepsi dan gambaran tidak memiliki arti jika tidak tumbuh atau tertanam dalam diri kita sebagai subyek dari penelitian kebenaran tersebut.
3. Martin Buber
Berpendapat bahwa eksistensi adalah nilai eksistensi manusia tidaklah murni dari individualis semata tetapi dengan adanya relasi bersama maka dapat menunjukkan eksistensi dirinya dan teman relasinya tersebut.Â
Martin Buber memiliki pemikiran prinsip dialogis yang berisi manusia dimana memiliki 2 macam relasi yang secara fundamental berbeda. Relasi pertama adalah relasi terhadap barang/benda yang disebut "aku itu". Kedua adalah relasi antara manusia dan tuhan.
Berpendapat eksistensialisme lebih dikenal sebagai bentuk gaya berfilsafat. Â Tokoh utama atau subyeknya adalah manusia dengan bagaimana caranya atau strategi beradanya dia ditengah maklukh-maklukh lainnya. Pemikiran ini sangat berhubungan dengan humanisme dimana sikap manusia yang memanusiakan manusia.Â
Banyak orang modern sekarang hanya melihat dari sisikuantitas, materialistik, dll. Dengan adanya eksternalisasi eksistensialisme menurut Martin merupakan salah satu bagian filosofi keberadaan dengan hal-hal sekitar.Â