Mohon tunggu...
Jessy Nora Sandy
Jessy Nora Sandy Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya

Jessy Nora Sandy, mahasiswa sastra Indonesia UNESA 2023. Penulis pemula yang gemar berbagi cerita dan pemikiran melalui tulisan. Ikuti blog saya untuk membaca berbagai topik menarik!

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Ketika Jatuh Menjadi Batu Loncatan

5 November 2024   20:05 Diperbarui: 5 November 2024   20:23 107
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sinar mentari pagi menembus jendela kamar Zahra yang masih tertutup rapat. Gadis itu tengah menatap layar laptopnya dengan mata berkaca-kaca. "Mohon maaf, Anda belum berhasil dalam seleksi tahap 2 Beasiswa Unggulan 2023." Kalimat itu seakan menusuk tepat ke ulu hatinya. Zahra menghela nafas panjang. Pikirannya melayang pada usaha keras yang telah ia lakukan. Namun ia sadar, kesibukannya sebagai mahasiswa baru dengan segala kegiatan PKKMB membuatnya kurang maksimal dalam persiapan.

"Gapapa, masih ada kesempatan kedua," bisiknya pada diri sendiri, mengingat kutipan dari Catatan Najwa yang selalu ia pegang: "Jatuh itu biasa, bangkit itu luar biasa. Yang luar biasa lagi adalah ketika kita jatuh, kita bangkit, lalu berlari lebih kencang."

Malam itu, Zahra membuka jurnalnya yang bersampul biru, hadiah dari kakaknya saat ia diterima di universitas. Dengan tangan bergetar, ia menuliskan segala perasaannya. Di sampingnya, foto keluarga terpajang rapi, potret bahagia bersama ayah, ibu, dan kakaknya saat wisuda SMA.

"Ya Allah, berikan aku kekuatan," doanya lirih. Zahra teringat pesan ibunya sebelum berangkat ke perantauan untuk melaksanakan pendidikan. "Zahra, Ibu yakin kamu bisa jadi yang terbaik. Belajar yang rajin ya, Nak. Ibu selalu mendoakanmu."

Rutinitasnya sebagai mahasiswa baru terasa begitu berat. Pagi hingga sore diisi dengan perkuliahan, dilanjutkan kegiatan PKKMB yang menguras tenaga dan pikiran. Tapi Zahra tak pernah mengeluh. Ia percaya setiap tantangan akan membuatnya lebih kuat.

Setiap pagi, Zahra bangun sebelum subuh, memulai hari dengan mandi pagi dan membaca Al-Quran. Ia percaya, setiap kesulitan pasti ada hikmahnya. Mungkin Allah punya rencana yang lebih baik untuknya. Setahun kemudian, jiwa pemimpinnya semakin terasah. Zahra kini berdiri di posisi berbeda yakni sebagai panitia PKKMB Asmaraloka 2024. Di tangannya tergenggam jadwal kegiatan yang padat. Sebagai koordinator acara, ia harus memastikan semuanya berjalan lancar. Namun tekadnya untuk meraih beasiswa tak pernah pudar. Kali ini, ia bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Setiap hari adalah pertarungan dengan waktu. Alarm berbunyi pukul 04.30, dan rutinitas dimulai. Zahra membasuh wajahnya, bersiap untuk mandi dan membaca Al-Quran, kebiasaan yang selalu memberinya ketenangan. Pukul 06.00, ia sudah berada di kampus untuk Training of Trainer acara PKKMB. Di sela-sela waktu istirahat, tangannya sibuk menyusun esai beasiswa.

Siang hari dihabiskan dengan rapat koordinasi panitia. Zahra mencatat setiap detail acara dengan teliti. Usai rapat, ia bergegas ke bagian akademik fakultas, mengurus segala persyaratan yang dibutuhkan. Langkahnya kemudian menuju ruang dosen untuk bimbingan dengan DPA. Meski lelah, senyumnya tak pernah pudar.

Malam harinya, di kamar asrama yang temaram, Zahra tekun menyusun esai beasiswa. Teman sekamarnya, Rani, sering kali memergoki dia masih terjaga hingga lewat tengah malam.

"Zah, istirahat dulu. Sudah larut," ujar Rani khawatir.

"Sebentar lagi, Ran. Tinggal sedikit revisi," jawab Zahra sambil tersenyum, matanya tetap fokus pada layar laptop.

Hari-hari berlalu dengan ritme yang sama. Zahra belajar membagi waktu dengan lebih baik. Setiap detik berharga, dan ia tidak ingin menyia-nyiakannya. Di sela kesibukannya sebagai panitia, ia selalu menyempatkan diri untuk memperbaiki berkas beasiswa dan melatih diri untuk wawancara.

Hingga takdir seakan menguji tekadnya, jadwal wawancara beasiswa jatuh tepat di hari pelaksanaan PKKMB. Jantungnya berdegup kencang membaca email pemberitahuan itu. Namun Zahra tak sendiri. Rekan-rekan panitianya memberikan dukungan penuh.

"Tenang aja, Zah. Kita support kamu. Fokus ke wawancara aja," kata Dimas, ketua pelaksana, diikuti anggukan setuju dari yang lain.

"Alhamdulillah, terima kasih teman-teman," ucap Zahra terharu.

Di hari H PKKMB, dengan senyum mengembang dan suara yang lantang, Zahra membawakan acara pembukaan. Penampilannya sempurna, tak ada yang menyangka bahwa hatinya berdebar memikirkan wawancara yang akan dihadapi beberapa jam lagi.

Tepat pukul 09.00 setelah acara pembukaan, ia pamit untuk persiapan mentoring dan wawancara beasiswa. Teman-temannya memberikan pelukan hangat dan doa-doa yang tulus. Zahra merasakan kekuatan dari dukungan mereka.

"Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya sebelum melangkah masuk ruang wawancara. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, namun tekad dan persiapannya jauh lebih matang dibanding tahun lalu.

Dua minggu kemudian, Zahra baru saja menyelesaikan sholat maghrib ketika ponselnya berdering, sebuah email masuk. Dengan tangan gemetar, ia membuka notifikasi tersebut. Air matanya mengalir deras, kali ini air mata bahagia. Ia telah berhasil! Di layar ponselnya tertera dengan jelas: "Selamat! Anda dinyatakan LOLOS seleksi Beasiswa Unggulan 2024..."

Zahra segera sujud syukur, mengucap terima kasih pada Allah atas karunia ini. Perjuangannya tidak sia-sia. Semua pengorbanan, air mata, dan lelahnya terbayar sudah.

"Kegagalan tahun lalu ternyata bukan akhir, tapi awal dari perjalanan yang lebih baik," ucapnya sambil tersenyum. "Karena terkadang Tuhan tidak mengabulkan doa kita bukan karena Dia tidak sayang, tapi karena Dia sedang menyiapkan waktu yang lebih tepat."

Di jurnalnya malam itu, Zahra menuliskan: "Setiap kesulitan adalah tangga menuju kesuksesan. Setiap air mata adalah saksi perjuangan. Dan setiap doa adalah kekuatan yang menggerakkan langkah ini. Terima kasih ya Allah, untuk segala pelajaran berharga yang Engkau berikan."

Kisah Zahra mengajarkan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Ia adalah batu loncatan menuju kesuksesan yang lebih besar, yang terpenting adalah bagaimana kita bangkit, belajar dari kesalahan, dan berlari lebih kencang mengejar mimpi kita.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun