Mohon tunggu...
YEREMIAS JENA
YEREMIAS JENA Mohon Tunggu... Dosen - ut est scribere

Akademisi dan penulis. Dosen purna waktu di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Artikel Utama

Memahami Strategi Politik TGB

18 Juli 2018   08:26 Diperbarui: 19 Juli 2018   15:18 3519
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kedua, alasan "objektif" sebagaimana saya katakan di atas, yakni bahwa TGB memandang pentingnya Jokowi melanjutkan pembangunan Indonesia yang sudah dimulai dan sudah berada di jalan kesuksesan.

Di sinilah pertanyaan yang saya ajukan di atas relevan untuk dijawab. Jika strategi "menghindari taktik agresif" memang diterapkan TGB, seperti apakah strategi itu dioperasikan?

Dua Wajah Politik Machiavelli

Dalam bukunya berjudul The Discourse, Machiavelli tampak mendiskusikan pemerintahan yang ideal. Pemerintahan dan politik yang ideal bagi dia adalah tercapainya apa yang dia sebut sebagai keadaan vivere libero, yakni kehidupan sipil dan politik yang ditandai oleh kebebasan menyatakan pikiran dan kehendak. Machiavelli melihat bahwa keadaan ini hanya bisa dijamin perealisasiannya oleh sebuah pemerintahan Republik. 

Sebaliknya, Machiavelli juga melihat keadaan politik di mana pemerintah hanya menjamin terealisasinya apa yang disebutnya sebagai vivere sicuro. Hal terakhir ini pernah dialami Machiavelli sebagai keadaan kehidupan politik yang dipraktikkan oleh rezim Monarki di Prancis. Dan itu terjadi ketika Machiavelli menjadi diplomat dari Republik Florence yang ditugaskan di Paris.

Niccolo Machiavelli dan buku berjudul The Discourse.
Niccolo Machiavelli dan buku berjudul The Discourse.
Bagi Machiavelli, politik yang ideal dan kehidupan sipil yang diangan-angankan suatu negara adalah terbentuknya kebebasan dalam segala aspek kehidupan. Bentuk pemerintahan yang paling cocok merealisasikan hal ini adalah Republik. Dalam konteks pemerintahan modern, kita melihat relevansi pemerintahan Republik yang demokratis, yang menjamin terlaksananya seluruh hak-hak asasi manusia. 

Dalam sistem pemerintahan semacam ini, pemerintahan dilaksanakan berdasarkan Konstitusi dan perundang-undangan lainnya yang disusun secara demokratis pula. Pemerintahan dijalankan secara demokratis, seluruh perangkat demokrasi berjalan sebagaimana mestinya, antara lain adalah terselenggaranya pemilihan umum, adanya pembagian dan pemisahan kekuasaan, pembatasan kekuasaan negara, terciptanya mekanisme kontrol, dan sebagainya.

Sebaliknya, pemerintahan monarki memang memberi ruang bagi kebebasan warga negara, tetapi kebebasan dengan syarat-syarat sebagaimana dikehendaki kekuasaan monarki. Hal yang menarik bagi Machiavelli adalah ketika kekuasaan semacam ini justru besifat terbatas persis ketika parlemen membatasi kekuasaan monarki. 

Dengan begitu, Machiavelli sebenarnya ingin mengatakan bahwa dalam situasi di mana pemerintahan ideal (republik) tidak tercapai, pemerintahan monarki tetap bisa dipraktikkan, tetapi dengan syarat kekuasaan monarki yang dibatasi oleh Parlemen. Dan ketika parlemen itu adalah wakil rakyat, kekuasaan monarki sebenarnya dibatasi oleh rakyat sendiri. Machiavelli melihat bahwa Prancis berhasil mempraktikkan hal ini.

Kembali ke pertanyaan saya di atas, seperti apa TGB mempraktikkan watak kekuasaan Machiavellian dalam pilihan politiknya? Pertanyaan ini memang tidak dijawab Ikhsan Mahar dalam reportasenya. 

Meskipun begitu, kita hanya bisa memberikan gambaran secara tidak langsung, bahwa pemerintahan Jokowi memang mencerminkan ideal sebuah pemerintahan Republik sebagaimana dimaksudkan Machiavelli dalam gagasan vivere libero. Pemerintahan Jokowi juga pemerintahan presiden lainnya pasca 1998 sebenarnya ditandai oleh praktik politik yang bebas. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun