Masih dalam konteks etika, mari kita ingat bahwa masih ada sesuatu mengenai kebahagiaan yang sifatnya independen dari kebajikan. Dan itu adalah kebahagiaan yang ditemukan dan dialami dalam rasa gembira (joy) atas eksistensi (kegembiraan mengada), rasa tercerahkan bahwa seseorang itu eksis. Dan ini dapat dialami entah dalam relasi dan kehidupan yang membahagiakan bersama dengan orang lain atau dialami dalam momen kesendirian.Â
Ini berhubungan dengan tipe kepribadian dan temperamen kita. Ada orang yang mengalami kegembiraan mengada bersama dan di antara orang banyak karena temperamennya demikian. Disposisi individu dan perkembangan diri akan membawa kita kepada menemukan kebahagiaan dalam cara yang berbeda. Beberapa dari kita memang memiliki pembawaan untuk bersosialisasi dengan orang lain, mudah bergaul dan sebagainya.Â
Tetapi ada juga dari kita yang lebih penyendiri. Demikianlah, ada orang yang menemukan kebahagiaan bersama dengan orang lain, tetapi ada juga yang mengalaminya dalam kesendiriannya, ketika sedang berjalan sendiri dalam sebuah hutan, di tengah kota, dan sebagainya, ketika sedang membaca dan menikmati suatu buku, musik, film, sedang makan sendiri, dan sebagainya.
Apapun juga tipe atau kecenderunan temperamenmu dalam mengalami kebahagiaan, yang tidak pernah boleh dilupakan adalah kenyataan bahwa pengalaman kebahagiaan itu senantiasa didampingi dengan pengalaman cinta, karena pada akhirnya kebahagiaan itu tidak lain adalah cinta akan kehidupan itu sendiri, sebuah perayaan kehidupan.Â
Tanda bahwa Anda sedang berbahagia adalah bahwa Anda semakin peka terhadap kehidupan di sekitar, dan Anda mengakui ketergantungan hidup dengan orang lain dan dengan lingkungan sekitar, dan bahwa dengan berada di dalam dan bersama dengan lingkungan dan orang lain, Anda dipenuhi dengan cinta dan kebaikan hati.
Masih ada banyak orang yang telah memiliki segala sesuatu tetapi tetap saja belum merasa bahagia. Mereka merasa bisa mencapai kebahagiaan tetapi dalam sikap acuh-tak-acuh. Kenyataan dan kebenarannya justru sebaliknya: kebahagiaan menuntut adanya sikap syukur (gratitude) dan sikap mengakui adanya kesalingketergantungan dengan orang dana lam sekitar. Semakin kaya secara material tidak akan membuat Anda berbahagia, kecuali Anda juga memiliki relasi dengan orang lain dan lingkunan yang semakin mendalam dan semakin baik.
Tempat-tempat yang membahagiakan bersifat kekal, sumber-sumber untuk mencapai kebahagiaan tidak pernah berkesudahan. Dan kita semua berada dan hidup di dalam tempat-tempat yang memungkinkan kita mencapai kebahagiaan itu. Di sini masing-masing kita dituntut untuk selalu membuka hati dan mengizinkan orang lain dana lam semesta masuk dan singgah di hati kita.[]
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H