Kendati demikian, banyak hal lucu dan menarik yang kuperhatikan dari para jamaah calon haji ini. Masing-masing kloter punya ciri khas sendiri-sendiri, punya pembawaan masing-masing. Suatu hari rombongan jamaah dari kloter SOC mendarat di bandara dengan mengenakan caping, yaitu topi anyaman bambu berbentuk kerucut yang biasa dipakai oleh para petani di sawah.
Kontan saja, hal demikian mengundang perhatian orang-orang Arab yang bertugas di bandara. Bagi mereka, pemandangan seperti itu tentu saja unik, karena sebelumnya mereka tidak pernah melihatnya. Bahkan yang hampir terjadi setiap hari, petugas-petugas haji dari Arab Saudi senang meminta permen kepada jamaah haji Indonesia di pintu masuk bandara. Mereka tahu jamaah haji asal Indonesia suka membawa permen dalam perjalanan ke tanah suci. Kata mereka, permen dari Indonesia rasanya enak.
Lain lagi dengan rekan-rekan temus yang bertugas di bagian pengaturan bagasi. Mereka menuturkan, bahwa bagasi dari sebuah kloter terkenal jauh lebih berat dibanding kloter lainnya. Mengapa? Karena jamaah wanitanya banyak yang membawa cobek, alias batu ulekan cabe. Saat mengetehui hal tersebut, kami semua terkekeh-kekeh. Kami membayangkan ibu-ibu itu akan membuat sambal terasi selama di tanah suci. Bahkan yang membuat geleng-geleng kepala, tak sedikit bapak-bapak yang kedapatan membawa berpak-pak rokok di dalam bagasi-bagasi mereka.
Selain itu, ada jamaah yang bisa kooperatif dengan pengarahan dari petugas temus, ada jamaah yang sedikit-sedikit komplain, bahkan ada jamaah yang tak mengerti sedikit pun bahasa Indonesia. Untuk kasus terakhir ini, serius, aku angkat tangan. Guna menjelaskan sesuatu kepada tipe jamaah semacam ini, biasanya aku akan memanggil temus yang berasal dari daerah yang sama dengan jamaah tersebut.
Namun, hampir semua jamaah haji ini memiliki masalah yang serupa: tidak bisa sabar. Suatu ketika saat kepulangan jamaah haji ke tanah air, aku pernah dibentak oleh seorang bapak. Kala itu Bandara King Abdul Aziz tengah mengalami overloaddengan ribuan jamaah haji yang akan kembali ke negara masing-masing. Ribuan orang tumpah-ruah di bandara, petugas bandara kalang kabut. Para temus pun tak kalah panik. Betapa tidak, bila kondisinya demikian, maka alamat delay berjam-jam yang bakal terjadi.
Rupa-rupanya benar. Pesawat kepulangan ke tanah air dikabarkan akan delay. Tak pelak, beberapa kloter jamaah haji Indonesia yang telah sampai dan menunggu di pelataran bandara tampak sangat kecewa. Namun sekonyong-konyong, rombongan dari sebuah kloter yang telah lama menunggu, memaksa bergerak ke arah pintu masuk bandara. Mereka tampak sudah tidak tahan ingin segara pulang.
Melihat hal demikian, beberapa orang petugas temus, termasuk aku, mendekati jamaah tersebut. Kami kembali meminta mereka untuk sabar menunggu karena penerbangan ke tanah air tengah mengalami keterlambatan. Bukannya mengerti, mereka justru marah-marah. Emosi mereka makin menjadi-jadi. Salah seorang dari mereka malah membentak-bentak dan hampir saja memukulku. Aku pucat pasi dibuatnya. Untung saja saat itu salah seorang petugas temus menarikku agar segera menjauh. Sebab, tak ada gunanya juga berbicara kepada mereka di saat-saat kritis seperti itu.
Bagaimanapun, menjadi temus memberikan sejuta pengalaman berharga dalam hidupku. Aku sangat bersyukur diberikan anugerah ini. Menjadi temus banyak sukanya, tapi tak sedikit pula pengalaman tidak enaknya. Di antara sukanya, saat jeda tugas, kami biasanya akan menyempatkan diri untuk menunaikan umrah ke Makkah. Naik bus dari Jeddah pada malam hari, lalu sampai di Makkah menjelang waktu Subuh. Ketika melakukan thawaf wada' di mana saat itu kompleks Masjidil Haram telah sepi, aku pun sempat dua kali mencium Hajar Aswad. Hal yang tentu sangat sulit dilakukan saat jamaah haji sedang ramai-ramainya.
Sedangkan di antara pengalaman tidak enaknya, ketika tengah berwukuf di Arafah, kami, para temus diperintah-perintah seenaknya oleh pejabat-pejabat elit yang berhaji dari dari tanah air. Kami disuruh melayani keperluan-keperluan mereka sedemikian rupa, padahal itu jelas-jelas bukan tugas kami. Duh, jengkel dan makan hati rasanya.
Melalui temus pula, aku jadi kenal lebih banyak manusia dengan beragam tipikal dan karakter, mulai dari jamaah haji dari berbagai daerah, sesama petugas haji, pejabat-pejabat, hingga orang-orang Arab yang kerap menyebalkan. Namun, kesemua itu pada gilirannya mengajarkanku bahwa inilah hidup dengan segala sisinya. Pun kesemua itu melatihku bagaimana memandang orang-orang dan permasalahannya dengan lebih bijak hingga kini.
Solok, Sumatera Barat, 25 November 2017