Mohon tunggu...
JBS_surbakti
JBS_surbakti Mohon Tunggu... Akuntan - Penulis Ecek-Ecek dan Penikmat Hidup

Menulis Adalah Sebuah Esensi Dan Level Tertinggi Dari Sebuah Kompetensi - Untuk Segala Sesuatu Ada Masanya, Untuk Apapun Di Bawah Langit Ada Waktunya.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Tersesat Idealisme, Terjebak Pragmatisme

15 Juni 2021   16:10 Diperbarui: 12 November 2021   06:53 1026
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

“Saya harus juara” demikian janji seorang anak yang bersekolah kepada orang tuanya dengan cara yang dilakukan adalah dengan “belajar keras”. Tujuan juara melalui cara atau ide belajar keras adalah sebuah bentuk paham yang akan kemudian menjadi kebiasaan si anak.

Bila kemudian dari pengalaman berikut hasil yang diperoleh sejak kecil “belajar keras dan menjadi juara” akan selalu tertanam sampai kapan pun dan akan menjadi label sebagai seorang pekerja keras dan sang juara. Cara lain di luar bekerja keras adalah bukan pilihan bagi anak idealis.  

Kaum idealis menganggap ide, cara dan metode adalah terletak dengan proses yang harus dilaksanakan dan menjadi kunci meraih tujuan atau hasil. Proses yang dipatuhi dengan baik adalah menjadi satu-satunya cara agar bisa mencapai tujuan.

Mereka tahu apa yang menjadi tujuan dengan jelas, menghormati ide dan nilai-nilai yang adalah sebagai kontrak tercapainya tujuan, punya mentalitas dan upaya yang lebih untuk menggapainya dan kemudian melaksanakan dengan patuh atas proses yang telah dibuat.

Kegagalan untuk mencapai hasil akhir dari tujuan, akan menjadi tamparan keras. Kelemahan yang diakibatkan karena meletakkan sebuah tujuan dan cara yang pakem tak jarang idealisme tersesat karena mengabaikan pilihan lain, dan hanya fokus pada satu cara.

Keagungan ide dan cara yang mumpuni berdasarkan nilai-nilai luhur manusia, kesempurnaan hidup, fantasi yang berlebihan terhadap sebuah realita bukanlah tidak diantispasi namun menjadi antiklimaks apabila berujung dengan “takdir” atau nasib.

Banyaknya dukungan dengan pendapat yang sama dengan para pengikut atau teman sejenis adalah menjadi penyemangat tersendiri. Namun ini justru menjebak tatkala salah memilih kelompok yang bertamengkan karena hanya untuk membuat senang dengan paham mereka. Menjadi jebakan mimpi dan terluka dalam.

Tidak sedikit para kaum idealis menjadi pemimpi dan menjadi “gila” apabila ternyata ide dan cara yang telah direncanakan jauh dari kenyataan hidup. Namun tidak sedikit pula sebagai anti-mainstream yang memiliki prinsip tersendiri yang mampu mempengaruhi orang lain untuk bekerja sesuai dengan nilai-nilai baru yang mereka ciptakan, patuhi dan hormati.

Pada banyak pengamatan, para kaum idealis yang perfeksionis adalah para risk taker dan punya komitmen kuat untuk mencapai hasil yang dituju. Rangkaian proses adalah menjadi sebuah kepatutan dan kepatuhan bersama yang wajib dijalankan apabila hendak mencapai hasil yang optimal.

Kesempurnaan antara proses dengan hasil yang dituju menjadi sebuah idealisme yang akan mewarnai pemikiran dan perbuatan di tengah tantangan perubahan yang sering terjadi.

Sehingga mewariskan nilai-nilai kepada orang lain. Pada akhirnya bila ternyata pada perjalanan tugas yang tidak seindah yang direncanakan maka tidak sedikit dari mereka menarik diri dan mengambil sikap masa bodoh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun