Waktu demi waktu kita lalui bersama,
Ada engkau hampir pasti aku pun ngekor disampingmu,
Engkau keenam dan aku adalah yang ketujuh,
Bermain bersama, dan tak jarang jumpa dalam gaduh,
Kala sang pemimpin kita pergi ke alam baka,
Kau setia memberikan penghiburan kepadaku,
Aku tau sesungguhnya kau pun terluka dalam,
Kita berjuang dalam ketiadaan,
Namun kau mengajari akan apa artinya hidup,
Kau tinggalkan aku di kelambu koyak kita,
Dimana itu yang cuman kita punya,
Tapi aku selalu berdoa buat keberhasilanmu di Lembah Tidar,
Meski pernah gagal tapi kau tetap berjuang tiada akhir,
Dicemooh, dikucilkan dalam kesombongan dunia,
Tapi kau kuat, meronta dan akhirnya Dia jadi penolongmu semata,
Disitu aku tahu aku punya harapan meski terkadang goyang,
Jauh jarak tapi kau tetap memberi asa kepadaku,
Bahwa hidup adalah untuk dinikmati dan disyukuri,
Dalam perjalanan panjang yang kita tempuh,
Aku merasa malu karena selalu merepotkanmu,
Pada titik ternadir dalam hidupku pun engkau tidak kelu,
Memeluk aku meski kau lara tiada tara,
Mengajarkan terus akan apa yang telah kita terima,
Apa yang tidak mungkin bagi dunia sungguh mungkin bagi Dia,
Selamat buat mimpi yang telah kau raih,
Impian yang pernah mereka titipkan padamu,
Aku bangga karena kau tidak pernah mengeluh,
Meski peluh bahkan nyawa juga dipertaruhkan,
Buat negeri dan demi bakti buat Ibu pertiwi,
Selamat buat si kepala besar demikian ejekan orang dulu padamu,
Kepala yang memang besar dengan jiwa yang besar pula,
Kebesaran hati dengan syukur tiada akhir...
Komando!!!
*******
Medan di penghujung Maret 2021
Salam dari Medan Ke Papua
Buat Abang Tengah Di Papua, Tugas Bakti Demi Negeri
"Bapak cuman Serma, Anak Jadi Kolonel"
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H