Mohon tunggu...
jaya eskaem
jaya eskaem Mohon Tunggu... Foto/Videografer - Kreator Digital

sampai saat ini saya sendiri masih sangat sulit untuk mendeskripsikan saya ini termasuk orang yang seperti apa...cuma menurut kuis yg saya ikuti difacebook katanya saya ini orangnya baik, pinter, lucu, cuek, apa adanya dan suka menolong orang lain he3....setelah sekian lama hanya bisa menjadi penikmat terhadap tulisan2 dikompasiana yang menurut saya sangat berwarna, saya kemudian tertarik untuk bergabung...semoga saya bisa memberi warna yang lain dikompasiana ini..

Selanjutnya

Tutup

Indonesia Sehat

"Awan Gelap itu" Bernama "Covid-19", Cakupan Pengentasan Kemiskinan (SDGs) Diprediksi Gagal Mendarat Mulus 2030

21 November 2022   18:15 Diperbarui: 21 November 2022   20:15 349
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Indonesia Sehat. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Author : Jaya, SKM

(Mahasiswa Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin)

Tidak bisa dipungkiri jika kemiskinan global merupakan permasalahan yang sampai saat ini belum dapat diselesaikan secara paripurna, dalam artian tidak ada lagi manusia yang terposisikan di bawah standar layak hidup atau garis kemiskinan. 

Permasalahan Kemiskinan begitu sangat kompleks sehingga tidak dapat dipahami dari satu dimensi saja melainkan multidimensi, oleh karena itu diperlukan strategi yang kompleks pula, tidak heran jika permasalahan kemiskinan menjadi prioritas utama dan pertama yang harus diselesaikan secara global, hal ini sesuai dengan komitmen global dan nasional melalui Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/ Sustainable Developmen Goals (SDGs). 

 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)atau  Sustainable Developmen Goals (SDGs) ataupun juga agenda 2030 dideklarasikan pada tanggal 25 September 2015, sebagai agenda internasional yang disusun oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan melibatkan 194 Negara, civil siciety, dan berbagai stakeholder dari seluruh penjuru dunia. 

Indonesia Sebagai bagian dari masyarakat dunia turut mengambil peran dan berkomitmen untuk mengimplementasikan TPB/SDGs dan mensejalankan dengan arah pembangunan Nasional. 

Salah satu kebijakan RPJMN tahun 2020 -2024 yang selaras dengan strategi TPB/SDGs adalah Pengentasan kemiskinan yang dilakukan melalui dua strategi utama yaitu penurunan beban pengeluaran melalui bantuan sosial serta peningkatan pendapatan melalui program ekonomi produktif, Kebijakan ekonomi makro juga menjadi prasyarat untuk pengurangan kemiskinan yaitu stabilitas inflasi, menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, menciptakan lapangan kerja prduktif, menjaga iklim investasi dan regulasi perdagangan, meningkatkan produktifitas sektor pertanian, serta mengembangkan infrastruktur di wilayah tertinggal.

Angka Kemiskinan Ekstrim di Indonesia Tahun 2015-2021

Memasuki tahun ke tujuh sejak TPB/SDGs di deklarasikan, indonesia telah mengimplemetasikan TPB/SDGs, dimana dari data dalam kurun waktu 2015 sampai dengan 2019 proporsi penduduk yang hidup dalam kemiskinan ekstrim mengalami penurunan yang cukup berarti, dengan mengandalkan dua strategi utama yang ditetapkan oleh pemerintah dapat dikatakan Indonesia mampu mencapai target tanpa kemiskinan pada tahun 2030.  namun pada tahun 2020 awal pandemi covid-19 menghadirkan tantangan unik dalam mencapai SDGs. 

Tidak hanya di Indonesia tapi seluruh dunia Covid-19 tidak hanya melanda Indonesia namun seluruh dunia, menurut Dashboard Covid-19 WHO pada November 2021 tercatat sebanyak lebih dari 251 juta penduduk dunia terkonfirmasi Covid-19 dengan lebih dari 5 juta kematian. Sementara itu di Indonesia sendiri sebanyak 4 juta penduduk terkonfirmasi Covid-19 dengan lebih dari 144 ribu kematian. 

Dampak pandemi Covid-19 yang sangat masif ini mengakibatkan seluruh negara di dunia harus mengevaluasi setiap kegiatan/program pembangunan yang telah direncanakan sebelumnya untuk kemudian digantikan kegiatan/program untuk memperlambat, mengatasi bahkan mengantisipasi dampak pandemi Covid-19 lebih buruk lagi. Banyak negara mengoreksi proyeksi ekonomi dari negaranya, terutama tahun 2020 dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan seperti perlambatan, resesi, dan bahkan depresi ekonomi.

Dalam konteks SDGs, tahun 2020 merupakan tahun yang sangat penting dalam pelaksanaan SDGs, menurut hasil Human Development Report  (HDR) tahun 2020, capaian SDGs Negara-negara sangat bervariasi, beberapa tujuan masih "On Track"  dan membaik sedangkan sebagian lainnya mengalami tantangan yang sangat besar dan stagnan. pada HDR juga disebutkan bahwa dampak jangka pendek pandemi covid-19 terhadap pencapaian SDGs dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu hight (Tinggi), mixed/moderate (Sedang), Unclear (tidak terdefiniskan). Tujuan SDGs yang masuk kategori terdampak negatif Covid-19 yang besar (hight) adalah tujuan (1) Tanpa Kemiskinan, Tujuan (2) Tanpa Kelaparan dan Tujuan (3) Kehidupan sehat dan sejahtera.

Ibaratnya pesawat yang telah direncanakan mendarat mulus di tahun 2030, kehadiran pademi covid-19 bagaikan awan gelap yang disertai petir yang kemudian membuat seluruh negara mengalami turbulensi yang cukup hebat sehingga cakupan pengentasan kemiskinan kembali menukik tajam keatas, Pandemi covid-19 cukup memberikan pukulan yang cukup telak pada tujuan(Indikator) 1 yaitu tanpa kemiskinan. dimana dampak covid 19 menyebabkan banyaknya perusahaan-perusahaan tutup sehingga membuat Pengangguran meningkat, penerapan PPKM di hampir seluruh daerah juga membawa dampak kepada penggiat usaha menengah ke bawah yang memilih untuk berhenti total, yang pada akhirnya kemudian memicu tingkat kemiskinan.

Pemerintah melakukan Pemulihan akibat dampak Covid-19 diberbagai sektor dengan cepat, untuk memastikan bahwa masyarakat mendapatkan bantuan di tengah kesulitan akibat pandemi covid-19,  hal ini dapat dilihat dari alokasi anggaran negara tahun 2020 untuk kesehatan dan jaminan sosial yang mengalami peningkatan.

Meskipun pemerintah memberikan bantuan sosial pada masyarakat, akan tetapi bantuan tersebut sifatnya sementara dan tentunya masyarakat tetap dituntut lebih kreatif serta tetap berusaha menciptakan aktifitas yang tentunya program-program dari pemerintah daerah juga sangat dibutuhkan untuk mensupport masyarakat.  Kolaborasi pemerintah, swasta dan masyarakat juga sangat penting dalam pemulihan ekonomi. 

Sumber Photo : Google

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Indonesia Sehat Selengkapnya
Lihat Indonesia Sehat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun