Mohon tunggu...
Muh Jauhara el fadhil
Muh Jauhara el fadhil Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Nama: Muh Jauhara El Fadhil Nim: 22107030115 Mahasiswa Gamer yang mencoba menjadi riviewer game sebagai tugas kuliahnya

Selanjutnya

Tutup

Games

Riview Dark Souls 3: Real Dark Souls is the Died We Make Along the Way

7 Desember 2024   20:59 Diperbarui: 7 Desember 2024   21:10 154
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sebagai pendatang baru di seri Souls, saya memutuskan untuk mencoba Dark Souls 3 setelah mendengar segala macam cerita tentang kejamnya dunia Soulsborne. Dengan reputasinya sebagai salah satu game tersulit yang pernah ada, saya bersiap untuk mati berulang kali. Tapi, apa yang saya temukan di dalam game ini jauh melampaui sekadar kematian—Dark Souls 3 adalah pengalaman yang menantang, mendalam, dan tidak akan terlupakan.

Dunia yang Suram tapi Indah

In-game Screenshoot
In-game Screenshoot

Dunia Dark Souls 3 adalah campuran sempurna antara keindahan dan kehancuran. Lothric, sebagai setting utama, dipenuhi dengan kastil megah, reruntuhan yang penuh misteri, hutan kelam, dan area bawah tanah yang membuat pemain merasa terasing. Semua lokasi terhubung secara cerdas, menciptakan rasa eksplorasi tanpa batas yang mengundang rasa penasaran, meskipun rasa takut selalu menyertai setiap langkah.

Apa yang membuat dunia ini begitu istimewa adalah desain visualnya yang suram tapi memikat. Setiap area memiliki atmosfer yang unik, seperti Irithyll of the Boreal Valley dengan cahaya bulan yang menawan, atau Farron Keep yang mencekam dengan rawa beracun. Namun, setiap keindahan itu dibarengi dengan bahaya yang mengintai, membuat saya terus-menerus waspada.

Selain itu, narasi dunia Dark Souls 3 disampaikan secara tidak langsung melalui deskripsi item, percakapan NPC, dan lingkungan. Sebagai pemain baru, saya sering merasa bingung dengan cerita yang kompleks ini, tetapi ada rasa puas tersendiri ketika mulai menyusun potongan-potongan cerita yang tersebar.

Pertarungan yang Menguji Kesabaran dan Keahlian

Dark Souls 3 (Reddit)
Dark Souls 3 (Reddit)

Pertarungan di Dark Souls 3 adalah inti dari pengalaman bermain. Sistem combat yang berbasis stamina terasa sangat responsif, dan setiap serangan, penghindaran, atau blok membutuhkan perencanaan yang matang. Tidak ada ruang untuk kesalahan, terutama melawan musuh yang bisa membunuh dalam hitungan detik.

Sebagai game Souls pertama saya, saya membutuhkan waktu lama untuk memahami bahwa ini bukanlah game yang bisa dimenangkan dengan hanya menekan tombol serangan tanpa pikir panjang. Setiap musuh, bahkan yang terlihat lemah, bisa menjadi ancaman nyata jika tidak dihormati. Dan bos? Mereka adalah ujian terbesar.

Bos seperti Abyss Watchers dan Pontiff Sulyvahn memberikan pengalaman yang tidak hanya menantang tetapi juga memuaskan ketika akhirnya berhasil dikalahkan. Masing-masing bos memiliki pola serangan yang unik dan membutuhkan pendekatan strategis. Ada rasa frustrasi ketika mati berkali-kali, tetapi ada pula euforia luar biasa ketika berhasil mengatasi mereka.

Kematian sebagai Guru Terbaik

In-game Screenshoot
In-game Screenshoot

Dalam Dark Souls 3, kematian bukanlah akhir—kematian adalah pelajaran. Di awal permainan, saya sering merasa frustrasi karena terus-menerus mati, baik karena musuh, jebakan, atau kesalahan sendiri. Namun, seiring waktu, saya mulai menyadari bahwa setiap kematian mengajarkan sesuatu, entah itu pola serangan musuh, jalur alternatif, atau pentingnya bersabar.

Dark Souls 3 tidak memberi petunjuk dengan cara yang jelas, dan ini adalah salah satu aspek yang membuat game ini begitu menarik. Pemain dipaksa untuk belajar sendiri melalui eksplorasi dan eksperimen. Bagi seorang pemula, ini adalah pengalaman yang brutal tetapi juga mendalam.

Membuka Tingkat Kesulitan Baru

Setelah bermain Dark Souls 3, saya merasa telah memasuki dimensi baru dalam dunia gaming, terutama dalam hal tingkat kesulitan. Game ini memiliki cara unik untuk melatih pemainnya, bukan melalui tutorial panjang atau panduan, melainkan melalui pengalaman langsung yang keras.

Setelah menyelesaikan Dark Souls 3, saya mendapati bahwa tingkat kesulitan "Hard" di game lain terasa biasa saja. Game ini membentuk mentalitas "belajar dari kesalahan" yang kuat. Saat menghadapi tantangan di game lain, saya tidak lagi merasa terintimidasi oleh bos besar atau musuh tangguh. Sebaliknya, saya justru merasa termotivasi untuk mempelajari pola dan strategi mereka—persis seperti yang saya pelajari di dunia Souls.

Efek ini adalah sesuatu yang luar biasa. Bermain Dark Souls 3 seperti memasuki sekolah keras gaming, di mana keberanian, ketekunan, dan kecerdikan diuji. Game lain yang sebelumnya terasa sulit kini tampak lebih bisa didekati, seolah-olah Dark Souls 3 telah membuka "mode Hard" dalam mindset gaming saya.

Multiplayer: Membantu atau Menghancurkan?

Sistem multiplayer di Dark Souls 3 adalah elemen yang menarik. Saya mengalami momen tak terlupakan ketika memanggil pemain lain untuk membantu saya melawan bos yang sulit, dan bersama-sama kami merayakan kemenangan. Namun, di sisi lain, invasi pemain lain ke dunia saya adalah sumber frustrasi yang tak kalah besar. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada hampir mencapai api unggun (bonfire), hanya untuk dibunuh oleh seorang invader yang lebih berpengalaman.

Meski demikian, sistem ini menambah dimensi baru pada pengalaman bermain, memberikan rasa komunitas sekaligus bahaya konstan.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan:

  1. Desain dunia yang terhubung dengan cerdas, memberikan rasa eksplorasi tanpa batas.
  2. Pertarungan yang responsif dan menantang, menguji keterampilan dan kesabaran pemain.
  3. Atmosfer yang luar biasa, memadukan keindahan dan kehancuran secara harmonis.
  4. Cerita yang mendalam, meskipun disampaikan secara tersirat.
  5. Sistem multiplayer yang memperkaya gameplay.
  6. Fire Keeper :)

Kekurangan:

  1. Kurangnya panduan bagi pemula, yang bisa membuat pengalaman awal terasa terlalu membingungkan(mid-game baru tau ada mekanik kick).
  2. Beberapa area seperti Farron Keep terasa repetitif dan membosankan.
  3. Invasi multiplayer bisa terasa tidak adil, terutama bagi pemain baru.

Kesimpulan: Pengalaman yang Tidak Terlupakan

In-game Screenshoot
In-game Screenshoot

Sebagai game Souls pertama saya, Dark Souls 3 adalah perjalanan yang brutal tetapi memuaskan. Meskipun saya sering merasa frustrasi, pengalaman mengalahkan bos yang sulit atau menemukan rahasia tersembunyi membuat semua penderitaan itu terasa layak.

Dark Souls 3 bukan hanya tentang tantangan atau kematian berulang kali—game ini adalah tentang pertumbuhan, kesabaran, dan rasa pencapaian. Dunia yang suram, pertarungan yang menguji keterampilan, dan cerita yang penuh misteri menjadikan game ini salah satu pengalaman gaming paling mendalam yang pernah saya rasakan.

Untuk pendatang baru seperti saya, Dark Souls 3 adalah pintu masuk yang brutal ke dunia Soulsborne. Namun, di balik semua kesulitan itu, ada pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Seperti yang saya katakan: “Real Dark Souls is the died we made along the way.”

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Games Selengkapnya
Lihat Games Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun