Mohon tunggu...
Jaludieko Pramono
Jaludieko Pramono Mohon Tunggu... -

Wong kang wus sengsem reh ngasamun, semune ngaksama, sasamane bangsa sisip, sarwa sareh saking mardi marto tama.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Roda Jaman Sidoarjo (Bag. 1); Dari Zaman Medang, Sejarah Mencatat Sidoarjo

26 November 2012   05:29 Diperbarui: 24 Juni 2015   20:40 1408
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Berikutnya, Sidoarjo pun dikait-kaitkan dengan sebuah kerajaan yang bernama Jenggala (baca : Jenggolo). Kisah ini bermula di akhir November 1042. Kala itu Raja Kerajaaan Kahuripan, Airlangga yang agung meminta pendeta sakti bernama Mpu Bharada membagi wilayah kerajaannya menjadi dua bagian.

Bagian Selatan dinamakan Panjalu yang berpusat di wilayah Kediri sekarang ini. Kerajaan itu diberikan pada salah seorang putranya yang bernama Lembu Amisena yang bergelar Sri Samarawijaya atau Sri Jayawarsa. Ibukotanya bernama Daha.

Sedangkan yang sebelah utara dinamakan Jenggala. Ibukotanya bernama Kahuripan. Kerajaan yang menguasai pesisir utara pulau Jawa itu diberikan pada putranya yang bernama Lembu Amiluhung yang kemudian naik tahta dengan menyandang gelar Sri Jayantaka.

Pembagian ini dilakukan lantaran Raja Airlangga tak mau kedua putranya saling berperang untuk memperebutkan tahta yang ditinggalkannya. Ia sendiri memilih lengser dan menjadi pertapa mengikuti jejak putri pertamanya, Sanggramawijaya Tunggadewi atau yang lebih dikenal dengan nama Dewi Kilisuci.

Peristiwa pembelahan ini dicatat oleh Mpu Prapanca dalam kitabnya Negarakertagama. "Demikianlah sejarah Jawa menurut tutur yang dipercaya. Kisah JenggalaNata di Kahuripan dan Sri Nata Kahuripan di Dhaha (Kediri). Waktu bumi Jawa dibelah karena cintanya pada kedua putranya.

Namun niat baik Airlangga ternyata sia-sia, karena keturunan kedua putranya tetap saja terlibat perang saudara untuk saling menguasai. Sejak tahun 1044, Panjalu dan Jenggala saling bertikai.

Pada masa pemerintahan Mapanji Garasakan, antara tahun (1044 - 1052), Kerajaan Jenggala mengalami kemunduran akibat serangan dari Dhaha yang saat itu diperintah raja Inu Kertapati yang bergelar Kameswara 1. Peperangan terus berlanjut kala tampuk kekuasaan kerajaan Jenggala dipegang Mapanji Alanjung Ahyes. Putra Mapanji Garasakan itu berkuasa sejak tahun 1052 hingga 1059.

Sri Samarotsaha adalah raja Jenggala terakhir sebelum kerajaan itu hilang dari pengamatan sejarah. Jenggala kalah dan menjadi kerajaan bawahan Panjalu. Setelah itu keberadaan Jenggala seperti hilang ditelan bumi.

Beberapa bukti prasasti yang menunjukkan jatuhnya Jenggala antara lain Prasasti Banjaran. Prasasti yang berangka tahun 1052 M menjelaskan kemenangan Panjalu atau Kadiri atas Jenggala.

Lalu ada juga Prasasti Hantang di tahun 1135 atau 1052 M yang menjelaskan Panjalu atau Kadiri pada masa Raja Jayabaya. Pada prasasti ini terdapat semboyan Panjalu Jayati yang artinya Kadiri Menang.

Prasasti ini dikeluarkan sebagai piagam pengesahan anugerah untuk penduduk Desa Ngantang yang setia pada Kadiri selama perang dengan Jenggala. Dan dari Prasasti tersebut dapat diketahui kalau Raja Jayabhaya adalah raja yang berhasil mengalahkan Janggala dan mempersatukannya kembali dengan Kadiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun