"Hawa ilmu hitam di sini sangat pekat, Ki Lurah Manggolo Krasak. Saya, tahu karena hawa ini sama dengan hawa yang mengikuti asap hitam pembawa penyakit yang dikirimkan Siluman Ular kepada Parjo dan penduduk yang tewas menurut Ki Masto," tandas ucapan Galih Sukma.
"Sekali lagi Ki Lurah Manggolo Krasak, mohon maaf atas kelancangan saya. Di rumah ini, pasti ada yang diserang Siluman Ular karena balas dendam. Dan...
Belum selesai ucapan Galih Sukma dari ruangan dalam, Nyi Lurah Manggolo Krasak menghambur ke ruang tamu.
"Pak... putrimu muntah darah dan pingsan," teriak Nyi Lurah Manggolo Krasak kemudian menangis sambil menarik tangan Ki Lurah Manggolo Krasak tanpa memperdulikan orang yang hadir di ruang tamu.
"Galih Sukma, benar ucapanmu. Tolong, anakku!" ucap singkat Ki Lurah Manggolo Krasak menghentikan sandiwara. Baginya keselamatan putrinya lebih penting. Ujian kepada Galih Sukma sudah cukup, terbukti apa yang diucapkan Galih Sukma semua benar.
Bergegas Ki Lurah Manggolo Krasak mengikuti istrinya yang menariknya sambil menangis.
Galih Sukma berpaling ke arah Ki Masto.
"Tolong Ki Masto, siapkan semua keperluan seperti di tempat Parjo!"Â
Tanpa menunggu jawaban Ki Masto karena keadaan sudah genting, Galih Sukma mengikuti Ki Lurah Manggolo Krasak dengan cepat.
Ki Masto yang bijaksana mengerti kegentingan suasana, segera menyiapkan semua keperluan Galih Sukma dibantu oleh Nyi Bawel dan yang lainnya.
Mampukah Galih Sukma menyelamatkan Ni Sasi Manah?