Mohon tunggu...
Izzatiddiena NurSafira
Izzatiddiena NurSafira Mohon Tunggu... Foto/Videografer - no longer sitting on a high school bench

trust no one but Allah

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Sejarah dan Eksistensi Wayang Timplong di Era Globalisasi

24 November 2019   15:25 Diperbarui: 24 November 2019   15:34 423
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Wayang Timplong adalah wayang tradisional yang menggunakan bahan dasar kayu untuk pembuatannya dan menjadi salah satu kesenian khas kabupaten Nganjuk. Wayang Timplong berasal dari desa Jetis, kecamatan Pace, Nganjuk, Jawa Timur. Wayang ini biasa dipentaskan saat berlangsungnya acara hajatan di beberapa daerah di Kabupaten Nganjuk. Pementasan wayang ini mengalami masa kejayaan pada tahun 1940-an karena pada masa itu, wayang dipentaskan selain sebagai hiburan, juga merupakan protes sosial terhadap para penjajah secara tersirat. Wayang ini dinamai timplong karena bunyi peralatan gamelannya yang "pating ketimplong" atau saling susul menyusul sehingga menimbulkan bunyi "plong plong". 

Menurut dokumentasi Dinas Kebudayaan kabupaten Nganjuk terdapat penjelasan lain tentang asal mula nama wayang timplong dimulai pada saat pementasan oleh Eyang Sariguno untuk yang pertama kali inilah seluruh penonton terpukau dan sangat kagum sehingga keadaan sangat tenang (tintrim), sedang mata selalu memandang pada gerak gerik wayang, yang dalam bahasa jawa disebut "mlolong". Berawal dari kata-kata bahasa jawa tintrim dan mlolong ini lama kelamaan menjadi sebutan nama timlong atau timplong.

Wayang Timplong terbuat dari kayu yang relatif empuk, ringan, dan padat[1]. Seperti Kayu Mentaos. Jika dilihat secara kasat mata, bentuk dan ukuran Wayang Timplong relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan wayang-wayang lainnya.

Tidak hanya itu, pementasan Wayang Timplong hanya mengikutsertakan 5-8 orang pemain termasuk 1 dalang, 4 orang pengrawit, dan 1-2 orang sinden. Berbeda dengan Wayang Krucil yang beranggotakan 15-16 orang pemain termasuk 1 orang dalang, 1-2 sinden, dan 12 pengrawit.

Perbedaan lain antara wayang tradisional khas Kabupaten Nganjuk ini juga terletak pada tokoh pewayangannya. Jika pada wayang biasa, setiap tokoh diberi nama khusus seperti Arjuna, Rama, Shinta, Hanoman, Gatotkaca dan sebagainya, akan tetapi Wayang Timplong  tidak memiliki nama atau panggilan khusus untuk setiap tokoh pewayangannya. Hanya sosok figur perempuan yang dijuluki sebagai Sang Ratu, sosok laki-laki keturunan bangsawan yang dijuluki Panji, sosok laki-laki gagah yang dijuluki Prabu dan sosok-sosok lainnya.

Selain itu, jika cerita wayang yang biasanya menampilkan kisah- kisah terkenal seperti Mahabharata, Rama dan Shinta, dan Gatotkaca beserta teman-temannya, Wayang Timplong tidak menampilkan kisah-kisah seperti itu, melainkan tentang asal-usul daerah, legenda, cerita panji, cerita rakyat, dan cerita-cerita lama. Seperti asal usul Anjuk Ladang, Kisah Cinta Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangun, Legenda Gunung Kendil dan Kisah Jaka Tirip, dan masih banyak lagi.

Namun, seiring dengan masuknya berbagai bentuk kesenian dari negara lain yang dianggap lebih menarik, nama Wayang Timplong semakin jarang didengar, apalagi dipentaskan. Pementasan wayang yang awalnya  hingga 7 kali dalam seminggu kini berangsur-angsur turun.

Hingga pada saat ini, pementasan Wayang Timplong ini hanya ditemui pada saat perayaan hari-hari tertentu dalam kalender Jawa. Hal ini bukan hanya disebabkan karena berkurangnya perminat dari Wayang Timplong ini, tetapi juga karena berhentinya regenerasi dalang dalam kesenian tradisional tersebut.

Pada tahun 2018 lalu, hanya tersisa 5 orang dalang Wayang Timplong, sementara pada tahun 2019 ini, hanya 2 orang dalang yang masih mampu mementaskan Wayang Timplong, mengarahkan opini masyarakat bahwa apabila tidak segera dilakukan upaya penyelamatan, Wayang Timplong akan terlupakan dalam waktu singkat, atau lebih buruk lagi, Wayang Timplong akan diakui sebagai kebudayaan asli daerah lain. padahal, Wayang Timplong adalah budaya murni karya anak bangsa tanpa campur tangan bangsa lain.

Wayang Timplong hampir mendekati akhir ceritanya. Diperlukan kerjasama baik dari pemerintah maupun masyarakat dalam upaya pelestariannya. Upaya pemerintah sangat dibutuhkan dalam pelestarian Wayang Timplong, pihak pemerintah sendiri mengaku telah melaksanakan tanggung jawabatas pelestarian Wayang Timplong.

Berbagai pengadaan program baru dalam rangka penyelamatan Wayang Timplong pun telah dilakukan Mulai dari menyisipkan unsur Wayang Timplong dalam gerakan tari di pertunjukan tari tahunan, mengadakan pementasan Wayang Timplong di pusat taman hiburan, mengadakan pementasan saat memeringati hari jadi atau Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Nganjuk, dan masih banyak lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun