Sebelum menutup tulisan ini, saya ingin mengingatkan kita pada sebuah fabel tentang lebah dan tupai. Syahdan, seekor tupai memergoki lebah yang tengah berburu nektar pada bunga di pohon tempat tupai tinggal. Tupai khawatir kegiatan lebah di pohon itu akan merusak tempat tinggalnya.
"Aku bisa membantu pohon ini agar lebih cepat berbuah," ujar lebah memberi alasan.
"Tak usah berbohong kamu, cari saja makanan di pohon lain," sergah tupai tak percaya.Â
Lebah akhirnya pergi dan tak pernah lagi menampakkan diri. Tupai puasa tapi sedih sebab lama-lama bunga di pohonnya menjadi layu. Saat pohon-pohon di sekitarnya sudah berbuah, pohon tempat ia tinggal tak menunjukkan hal yang sama. Ia lantas mencari tahu kepada kera sahabatnya.
"Kenapa hanya pohonku yang belum berbuah?" tanya tupai penasaran sekaligus resah.
"Tahukah kamu bahwa lebah bisa membantu pohon agar lebih cepat berbuah?" jawab kera singkat.
Tupai pun sadar telah melakukan kesalahan dengan mengusir lebah yang ia anggap berbahaya padahal sebenarnya sangat berjasa. Ia lantas pergi ke sarang lebah yang pernah diusirnya. Ia meminta maaf telah berlaku kasar dan berjanji tak akan mengulanginya. Lebah pun berbesar hati memaafkan tupai yang menuduhnya semena-mena. Â Â
Puncak cinta adalah pemaafan
Dari kisah tupai dan lebah kita tahu bahwa berbuat kesalahan lazim terjadi di dunia, tak terkecuali dalam konteks kehidupan manusia. To err is human, to forgive divine, begitu kata pepatah dalam bahasa Inggris. Adalah lumrah bahwa manusia berbuat salah tapi yang lebih mulia adalah mereka yang memaafkan. Memaafkan adalah tindakan aktif untuk meniru sifat Tuhan yang penyayang dan penuh pengampunan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pemaafan didefinisakan dengan:  Â
pe*ma*af*an n proses, cara, perbuatan memaafkan; pengampunan
Pemaafan mencakup makna meminta maaf dan memaafkan, tergantung konteks yang dibutuhkan. Meminta maaf atau memaafkan bisa kita anggap sebagai proses yang rumit jika egoisme kita agung-agungkan. Sebaliknya, pemaafan bisa menjadi proses sederhana yang memerdekakan diri jika kita sanggup menaklukkan egoisme.Â
Dalam bahasa syariat, pemaafan melibatkan nafsu dan hati. Manakah yang lebih kuat ketika kita bersalah atau orang lain bersalah kepada kita? Saya tak bisa menjawab selain mengutip penjelasan singkat seorang khatib pada khotbah Jumat dua pekan lalu. Ia merujuk pada doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw sebagai spirit utama dalam mewujudkan kesuksesan berpuasa Ramadan. Doa pendek ini dikenal sebagai doa untuk menyambut malam Lailatul Qadr. Â Â