Nah, saya mencermati ada yang terlewati atau kurang didalami oleh tim yang melakukan riset sebelum film diproduksi.
Yang saya amati adalah soal penggunaan ejaan yang dipakai dalam film tersebut, yang bagi saya terasa tidak pas.Â
Tentu, bagi penonton lain soal ejaan mungkin tidak mengganggu. Toh, tidak merusak esensi ceritanya. Tapi, ini membuktikan bahwa tim riset belum maksimal dalam bekerja.
Tulisan "Tjimacan" yang sangat jelas terbaca di film, menjadi hal pertama yang saya sorot. Ceritanya, Buya Hamka ditahan karena dianggap lawan politik Presiden Soekarno pada tahun 1964.
Cimacan (ditulis sesuai ejaan yang berlaku sekarang) adalah nama kawasan di Kabupaten Bogor yang menjadi lokasi penahanan Buya Hamka.
Karena ditahan pada tahun 1964, waktu itu "Cimacan" ditulis dengan "Tjimatjan", bukan "Tjimacan" seperti yang terlihat di film.
Hal kedua yang menjadi catatan saya adalah saat Buya Hamka berpidato pada pertemuan para ulama se Indonesia yang terjadi di bulan Juli 1975.
Ada tulisan yang membentang panjang sebagai latar belakang pentas tempat acara. Antara lain tertulis "Madjelis Ulama Indonesia " dan "Djuli 1975".
Perlu diingat, Ejaan yang Disempurnakan (EYD) telah resmi diberlakukan sejak Agustus 1972.
Jadi, pada tahun 1975 seharusnya ejaannya sudah sama dengan yang sekarang berlaku, yakni "Majelis Ulama Indonesia" dan "Juli 1975".
Demikian sedikit catatan terkait film Buya Hamka Volume 2. Hal kecil memang, namun akan lebih baik bila soal ejaan juga mendapat perhatian oleh tim yang memproduksi sebuah film.