Masalahnya, sekarang ini bukan soal berpuasa sebagai ibadah yang menghantui para pemain sepak bola di negara kita.
Ada masalah yang lebih mengerikan, yakni ancaman jangan-jangan nantinya mereka terpaksa "puasa main bola" dalam jangka panjang.
Padahal, bagi pemain profesional yang memperoleh penghasilan karena membela klub tertentu, itulah satu-satunya mata pencaharian mereka.
Ancaman tersebut sebagai buntut dari dibatalkannya Indoesia menjadi tuan rumah Piala Duna U-20, yang dijadwalkan berlangsung pertengahan Mei mendatang.
Soalnya, bukan cuma status tuan rumah yang dicabut oleh FIFA. Sejumlah sanksi pun sangat berpotensi dijatuhkan pada PSSI.
Sanksi terberat adalah bila Indonesia tidak diperkenankan mengikuti event sepak bola apapun yang diselenggarakan oleh FIFA.
Hal itu juga akan berlaku terhadap event yang diselenggarakan untuk level Asia oleh AFC, maupun level Asia Tenggara oleh AFF.
Artinya, sepak bola Indonesia akan vakum selama periode sanksi, termasuk juga vakumnya Liga 1, Liga 2, dan Liga 3.
Hanya liga tarkam (antar kampung) saja yang mungkin diam-diam bisa dilakukan, karena tidak terpantau oleh FIFA.
Nah, kalau sanksi itu betul-betul terjadi, yang paling menderita adalah pemain usia muda. Ini karena usia mereka terus bertambah, tanpa diberi kesempatan bertanding.
Sebagai misal, pemain Timnas U20 bahkan terancam kehilangan usia emasnya. Jadi, mereka tidak hanya sedih karena batal tampil di Piala Dunia, tapi juga sekaligus kehilangan masa depan.