Persiapan Ramadan 2023 sudah harus dilakukan dari sekarang. Sayangnya, banyak orang yang mengartikan persiapan memasuki bulan suci dengan berbelanja dalam jumlah banyak.
Disebut dalam jumlah banyak, karena jenis barang yang dibeli, dan jumlah masing-masing barang per jenisnya, lebih banyak dari biasanya.
Tentu, jumlah rupiah yang dihabiskan juga jauh di atas belanja rutin di hari-hari atau minggu-minggu sebelumnya.
Tak ada yang aneh dengan kebiasaan banyak orang seperti itu dalam menyambut bulan puasa. Maksudnya pasti baik-baik saja.
Bukankah hal itu untuk  menyetok barang yang diperlukan selama puasa, terutama bahan makanan? Kalau perlu, sekalian berbelanja pakaian dan kebutuhan lebaran lainnya.
Mereka beranggapan, makin terlambat berbelanja, kemungkinan besar harga berbagai barang akan semakin naik.
Padahal, sebetulnya, persiapan untuk berpuasa yang lebih penting adalah dalam konteks ritual ibadah.
Dalam hal ini, paling tidak ada beberapa hal berikut ini yang perlu dipersiapkan dengan baik.
Pertama, membayar utang puasa tahun sebelumnya jika ada. Jangan sampai pada 1 Ramadan, utang tersebut belum lunas.
Kedua, memperkuat keimanan dan ketakwaan dengan memperbanyak ibadah dan lebih mendalami ilmu agama. Kebiasaan buruk di masa lalu, upayakan untuk dihilangkan.
Ketiga, perbanyak berbuat baik sesama manusia dan memupuk silaturahmi dengan famili, tetangga, kerabat, dan sahabat. Saling bermaafan sebelum memasuki bulan suci sangat dianjurkan.
Keempat, lebih banyak memberikan bantuan kepada warga yang kurang mampu. Bantuan bisa berupa uang, barang yang mereka butuhkan, atau memberikan perhatian secara khusus.Â
Kelima, nah ini baru yang terkait dengan belanja. Itupun maksudnya belanja yang berkaitan dengan barang yang akan digunakan untuk beribadah.
Nah, kembali ke soal belanja bahan kebutuhan pokok dan kebutuhan lainnya, memang dapat dimaklumi bila terjadi lonjakan konsumsi masyarakat.
Tak ada salahnya juga bila dana tersedia, kita berbelanja dalam jumlah yang cukup. Tapi, jangan memborong barang seperti pedagang berbelanja yang akan menjual kembali barangnya.
Kalau konsumen biasa berbelanja seperti pedangang berbelanja, ini yang disebut kalap. Tetap gunakan logika dan jangan terkesan rakus.
Bayangkan, jika mayoritas warga bertindak kalap, maka barang akan langka, baik yang tersedia di pasar tradisional maupun di pasar swalayan.
Jika sudah begitu, hukum ekonomi akan berlaku, ketika barang langka di pasar, harga barang akan naik.
Memang, kemungkinan harga naik karena dipermainkan para spekulan, bisa saja terjadi.Â
Ada pula pedagang nakal yang sengaja menimbun barang, sementara Bulog sebagai instansi yang bertugas menstabilkan harga pangan sering kalah kuat dibanding pedagang besar.
Ada juga kenaikan harga karena kegagalan panen raya atau harga impor yang naik jika barangnya diimpor.
Tapi, terlepas dari itu semua, perilaku konsumen pun turut mempengaruhi harga. Dalam hal ini, jika banyak konsumen yang kalap, akan mengerek harga barang.
Maka, mari kita bijak dalam berbelanja. Perilaku keseharian kita harus terfokus pada kelancaran ibadah, bukan soal stok barang harus banyak di rumah.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI