Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer - Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Trip Artikel Utama

Pelaku Perjalanan Domestik Perlu Kejujuran, Bukan Akal-akalan

10 Maret 2022   08:28 Diperbarui: 10 Maret 2022   17:03 528
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi kesibukan di bandara|dok. Tribunnews.com/Dahlan Dahi

Kemudian, kedua orang tuanya juga mencari lab yang menyediakan pemeriksaan antigen. Ternyata ayahnya terpapar, sedangkan ibunya negatif.

Padahal, si ayah tersebut sudah membeli tiket ke Pekanbaru yang berangkatnya 2 hari lagi. Karena merasa sehat, si ayah ini tetap ingin terbang.

Ia teringat ada seorang temannya yang punya klinik yang juga punya fasilitas pemeriksaan antigen. Meskipun agak jauh dari rumahnya, ia tetap pergi ke sana sehari sebelum jadwal ke Pekanbaru.

Tak diceritakannya ke temannya yang pemilik klinik bahwa ia positif, hanya ia minta tolong apakah bisa memberikan surat pemeriksaan antigen tanpa diperiksa.

Mungkin karena percaya bahwa temannya sehat, si pemilik klinik menyanggupi permintaan itu. Maka, terbanglah ia ke Pekanbaru dengan selamat, baru setelah itu ia mengisolasi diri.

Nah, dari obrolan dengan pemilik klinik inilah berkembang cerita bahwa kasus akal-akalan tersebut ternyata masih terjadi. Artinya, diduga jumlah mereka yang terpapar Covid-19 jauh lebih tinggi dari data resmi yang diumumkan pemerintah.

Kisah berikutnya berasal dari teman yang lain lagi, yang pulang kampung dari Jakarta ke kota Padang dengan membawa mobil pribadi.

Ada 3 orang di atas mobil, tapi seorang di antaranya tidak mau diperiksa antigen. Padahal, saat mau naik kapal feri (karena menyeberang pulau), di gerbang masuk ada pemeriksaan tiket dan surat hasil tes antigen. 

Yang satu orang tersebut selamat karena bersembunyi dekat tumpukan barang di jok belakang dan petugas tidak terlalu ketat memeriksa para penumpang di atas mobil.

Begitulah, kreativitas berkonotasi negatif di atas biasanya muncul untuk menyiasati peraturan yang ketat. Dapat disimpulkan, bahwa sebagian warga memandang peraturan sekadar penghambat, bahkan ada yang curiga dengan "permainan" bisnis di balik itu.

Sebetulnya, yang dibutuhkan bukan peraturan yang ketat, seandainya masyarakat punya kesadaran yang tinggi. Inilah yang terpenting, bagaimana membangun kesadaran bahwa semua ini demi keselamatan kita sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun