Saya yakin maksud ibu-ibu melarang anaknya makan permen dan mi instan, tentu demi kesehatan dan tumbuh kembang si anak tercinta.
Namun, kecintaan nenek-nenek pada cucunya, berujung pada ketidaktegaan melihat cucu tercinta memendam keinginan makan permen atau mi instan. Masak begitu saja tidak boleh?
Nah, posisi saya di mana? Pro nenek atau pro bunda? Saya sendiri bingung. Saya pikir-pikir lagi, jangan-jangan yang betul adalah cara nenek ke cucu, sehingga yang toksik adalah cara ibu ke anaknya.Â
Bahkan, ada tiga hubungan yang kemungkinan toksik, yakni nenek-cucu, ibu-anak, dan nenek-menantu perempuan. Karena saya terlanjur bingung, saya sudahi saja tulisan ini sampai di sini, tanpa kesimpulan.Â
Jika ada pembaca yang berpendapat bahwa yang toksik adalah ibu yang terlalu ketat mendisiplinkan anaknya, boleh-boleh saja.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI