Kemungkinan si kepala divisi tidak akan datang ke kantor di hari libur jika sudah yakin bisa ditangani si kepala bagian dengan baik.Â
Lazimnya, anak buah dari kepala bagian itu yang buru-buru ke kantor dan tunggang langgang bekerja. Sedangkan si kepala bagian akan menengok  kemudian sekadar mengontrol.
Yang penting, hasil pekerjaan akan dilaporkan bawahan kepada kepala bagian, lalu dari kepala bagian ke kepala divisi, selanjutnya kepala divisi menyampaikan ke direktur dan direktur utama.
Nah, begitulah mekanisme "palu makan paku, paku makan papan" itu. Seperti ditulis di atas, papan adalah "korban" terakhir sekaligus menjadi pelaksana utama.
Kalau perintah ke bawahan diberikan berupa pesan tertulis, ini masih lumayan nyaman, karena ada waktu berpikir untuk membalas pesan tersebut.
Tapi, kalau instruksi via telpon, tak bisa lain, harus dijawab seketika. Tanpa berpikir panjang, jawabannya ya itu tadi, "siap, bapak".
Bagi karyawan yang cerdas, sewaktu bos menelpon dan sebelum diangkat, sudah menduga kira-kira apa yang akan disampaikan bos.
Biasanya bos menelpon berhubungan dengan pekerjaan yang belum tuntas atau yang baru diserahkan sebelum pulang ke rumah.
Namun, bila ada instruksi baru yang tak terduga, ini yang bikin kelabakan. Masalahnya, kalaupun tugas baru itu di luar job description si bawahan, alasan ini jarang dipakai.
Sekiranya punya bos yang tidak terlalu bergaya ngebos, tak ada salahnya bawahan menjawab bahwa hal itu bukan tugasnya.
Kembali ke soal peraturan kerja, diduga di Indonesia belum akan diterapkan gaya Portugal di atas. Tinggal yang diharapkan adalah kesadaran para bos agar menghargai hak pekerja untuk istirahat.