Untuk bisa menjawab permohonan tersebut, tentu si staf akan melakukan pengkajian setelah mengumpulkan data yang relevan, termasuk datang langsung meninjau usaha si nasabah.
Jika disposisi yang ditulis kepala bagian cukup menjelaskan poin-poin yang harus dilakukan si staf, akan lumayan membantu sebagai acuan.Â
Namun, adakalanya bila disposisi masih ditulis di atas kertas, sering tidak terbaca dengan baik, karena banyak atasan yang tulisannya mirip resep dokter.Â
Tapi, kalau disposisinya masih bersifat umum seperti gaya direktur, kesulitannya adalah memaksa si staf harus kreatif menerjemahkannya.
Maksudnya kreatif, si staf harus mampu mengira-ngira apa maunya atasan. Misalnya dengan kreasi sendiri membuat draft, kemudian menyampaikannya ke si bos untuk mendapatkan koreksian.Â
Terlepas dari contoh di atas, Selain TL, disposisi yang sifatnya umum, memang sering dibuat para atasan. Misalnya, tertulis "Pantau dan laporkan", "Teruskan ke Divisi A", "Harap pelajari", "Koordinasikan dengan Divisi B", dan "Tanggapi segera".
Apa yang tertulis pada disposisi tersebut, secara tidak langsung bisa menggambarkan karakter si bos, termasuk juga kompetensinya dalam memimpin.
Anggapalah ada seorang kepala divisi yang membawahi 5 kepala bagian. Masing-masing kepala bagian membawahi dua kepala seksi, lalu setiap seksi terdiri dari sekitar 5 sampai 8 orang karyawan.
Kepala divisi yang sering salah disposisi, umpamanya secara prosedur pekerjaan harus ke bagian A, tapi didisposisi ke bagian B, jelas mencerminkan si bos belum begitu menguasai struktur organisasi dan job description-nya.Â
Bisa pula si bos bingung, menulis sekaligus untuk beberapa bagian. Atau si bos memanggil seorang kepala bagian dan mendiskusikan isi dokumen yang akan didisposisinya.
Bos yang suka disposisi pendek-pendek, bahkan cenderung ngambang, mencerminkan bos yang memberikan kepercayaan penuh ke bawahan. Si Bos cukup menuliskan "do your best" atau "best effort".