Mohon tunggu...
Irwan Sabaloku
Irwan Sabaloku Mohon Tunggu... Editor - Penulis

"Menulis hari ini, untuk mereka yang datang esok hari"

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mencari Kebenaran di Tengah Kehidupan yang Transaksional

7 Februari 2024   18:36 Diperbarui: 7 Februari 2024   18:41 107
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Mencari Kebenaran di Tengah Kehidupan yang Transaksional (Sumber Ilustrasi: SindoNews)

Kehidupan seringkali membingungkan. Di tengah-tengah dinamika masyarakat, seringkali kita merasa terjebak antara apa yang diyakini sebagai kebenaran dan bagaimana kita seharusnya bertindak. 

Pertanyaan-pertanyaan itu sering kali menggiring kita pada pertimbangan tentang kebaikan yang terlalu sering dijadikan sebagai transaksi. Namun, apakah kebenaran dan kebaikan harus selalu ditransaksikan?

Kebenaran dan kebaikan, seharusnya, tidak bersifat transaksional. Mereka adalah landasan moral yang seharusnya membimbing setiap tindakan kita, bukan sekadar alat untuk mencapai tujuan atau mendapatkan imbalan. 

Namun, di dunia yang seringkali dipenuhi dengan kepentingan dan keinginan, kebenaran dan kebaikan terkadang terasa seperti komoditas yang diperdagangkan.

Kita sering dihadapkan pada situasi di mana kebaikan dilakukan dengan tujuan mendapatkan keuntungan, baik itu secara sosial, politik, atau bahkan ekonomi. 

Misalnya, dalam konteks politik, kita sering melihat bagaimana perilaku baik ditunjukkan hanya menjelang pemilihan umum pekan depan, bukan karena panggilan hati atau keyakinan yang tulus.

Bukankah ini merupakan contoh kebaikan yang transaksional? Kita melakukan kebaikan bukan karena keyakinan dalam nilai-nilai moral yang kita anut, melainkan semata-mata karena mengharapkan imbalan atau dukungan di masa mendatang.

Namun, apakah kita bisa menyalahkan individu yang memilih jalur ini? Ataukah sistem yang mendorong mereka untuk berperilaku demikian? 

Hal ini menunjukkan kompleksitas hubungan antara kebenaran, kebaikan, dan norma-norma masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Kita harus kembali ke akar nilai-nilai dasar yang menjadi pedoman kehidupan kita. Kebenaran dan kebaikan seharusnya bersandar pada prinsip-prinsip moral yang mendasar, bukan pada imbalan atau keuntungan pribadi semata. Namun, bagaimana kita bisa menemukan kebenaran di tengah keramaian suara dan pendapat yang beragam?

Muhammad Nuruddin dalam karyanya "Logical Fallacy" menyoroti pentingnya menyikapi kebenaran dengan lebih kritis. Ia menegaskan bahwa kebenaran tidak bisa diukur semata-mata dengan suara mayoritas atau pandangan umum. 

Suara minoritas punya nilai yang sama pentingnya dengan suara mayoritas. Yang lebih penting adalah argumentasi dan bukti-bukti yang disajikan.

Kita perlu belajar untuk lebih kritis dalam menilai kebenaran. Kita tidak bisa hanya mengandalkan opini publik atau mayoritas dalam menentukan apa yang benar dan apa yang salah. Kita perlu melihat lebih jauh dari itu, mengeksplorasi argumentasi dan bukti-bukti yang mendasari suatu pernyataan atau keyakinan.

Kita tidak bisa hanya mengandalkan manusia sebagai tolak ukur kebenaran. Manusia, dengan segala keterbatasan dan biasnya, tidak selalu bisa memberikan gambaran yang akurat tentang kebenaran. 

Kita harus mengembangkan kemampuan untuk melihat lebih luas, melampaui suara-suara yang dominan dan mencari kebenaran yang lebih mendalam.

Dalam pencarian kebenaran, kita juga harus mengakui bahwa prosesnya tidak mudah. Ia sering kali penuh dengan ketidakpastian dan konflik. Namun, melalui diskusi, dialog, dan penelitian yang teliti, kita bisa mendekati kebenaran dengan lebih baik.

Dalam kehidupan yang sering kali terjebak dalam transaksi dan kompromi, mencari kebenaran yang murni dan kebaikan yang tulus bisa menjadi tantangan. 

Namun, hal ini sangat penting untuk menjaga integritas dan martabat kita sebagai manusia. Kita harus terus berjuang untuk mempertahankan nilai-nilai moral yang mendasar, meskipun terkadang itu berarti berjalan melawan arus.

Penting untuk di catat, kebenaran dan kebaikan tidak boleh dijadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan atau mendapatkan imbalan. Mereka adalah nilai-nilai yang harus kita pegang teguh dalam setiap tindakan dan keputusan kita. 

Dalam dunia yang sering kali berputar di sekitar kepentingan diri sendiri, kita harus tetap teguh dalam prinsip-prinsip moral kita dan mencari kebenaran dengan hati yang jernih dan pikiran yang terbuka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun