Muhammad Nuruddin dalam karyanya "Logical Fallacy" menyoroti pentingnya menyikapi kebenaran dengan lebih kritis. Ia menegaskan bahwa kebenaran tidak bisa diukur semata-mata dengan suara mayoritas atau pandangan umum.Â
Suara minoritas punya nilai yang sama pentingnya dengan suara mayoritas. Yang lebih penting adalah argumentasi dan bukti-bukti yang disajikan.
Kita perlu belajar untuk lebih kritis dalam menilai kebenaran. Kita tidak bisa hanya mengandalkan opini publik atau mayoritas dalam menentukan apa yang benar dan apa yang salah. Kita perlu melihat lebih jauh dari itu, mengeksplorasi argumentasi dan bukti-bukti yang mendasari suatu pernyataan atau keyakinan.
Kita tidak bisa hanya mengandalkan manusia sebagai tolak ukur kebenaran. Manusia, dengan segala keterbatasan dan biasnya, tidak selalu bisa memberikan gambaran yang akurat tentang kebenaran.Â
Kita harus mengembangkan kemampuan untuk melihat lebih luas, melampaui suara-suara yang dominan dan mencari kebenaran yang lebih mendalam.
Dalam pencarian kebenaran, kita juga harus mengakui bahwa prosesnya tidak mudah. Ia sering kali penuh dengan ketidakpastian dan konflik. Namun, melalui diskusi, dialog, dan penelitian yang teliti, kita bisa mendekati kebenaran dengan lebih baik.
Dalam kehidupan yang sering kali terjebak dalam transaksi dan kompromi, mencari kebenaran yang murni dan kebaikan yang tulus bisa menjadi tantangan.Â
Namun, hal ini sangat penting untuk menjaga integritas dan martabat kita sebagai manusia. Kita harus terus berjuang untuk mempertahankan nilai-nilai moral yang mendasar, meskipun terkadang itu berarti berjalan melawan arus.
Penting untuk di catat, kebenaran dan kebaikan tidak boleh dijadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan atau mendapatkan imbalan. Mereka adalah nilai-nilai yang harus kita pegang teguh dalam setiap tindakan dan keputusan kita.Â
Dalam dunia yang sering kali berputar di sekitar kepentingan diri sendiri, kita harus tetap teguh dalam prinsip-prinsip moral kita dan mencari kebenaran dengan hati yang jernih dan pikiran yang terbuka.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H