Mohon tunggu...
Irna Djajadiningrat
Irna Djajadiningrat Mohon Tunggu... Pegiat Literasi

Sejatinya semua penghuni jagat raya memiliki derajat yang sama. Yang membedakan hanya budi baik atau buruk hati. https://bumiseniorcicibey.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Orang Tua, Guru, dan "PJJ"

20 Juli 2020   13:59 Diperbarui: 29 September 2020   09:49 221
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Ada suasana yang berbeda pada awal tahun ajaran baru  2020/2021. Kita tidak lagi melihat kerumunanan orang tua di gerbang sekolah bahkan di pintu depan kelas menunggu anak-anaknya yang mulai masuk sekolah. Juga tidak ada lagi himbauan pejabat pemerintah kepada  orang tua agar meluangkan waktu untuk mengantar anak pada hari pertama masuk sekolah.

Dalam masa darurat Covid 19 sebesar 90 % siswa belum belajar di sekolah tetapi dalam rangka pemenuhan hak peserta didik mendapatkan layanan pendidikan selama pandemik Kementerian Pendidikan dan kebudayaan meminta siswa belajar dari rumah secara daring.

Kebijakan Belajar dari Rumah (BDR)  memang relatif tepat mengingat sekolah memiliki resiko yang tinggi dalam persebaran virus Covid 19. Apalagi pada tingkat satuan pendidikan dasar yang masih agak sulit memahami "arti bahaya" dan prinsip kehati-hatian sesuai protokol kesehatan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah cukup cepat tanggap dalam menyikapi keadaan ini dengan menyiapkan berbagai aplikasi dan panduan untuk membantu siswa dan guru dalam berbagai tingkat satuan pendidikan.

Betapapun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengupayakan perangkat dan piranti untuk belajar secara daring, tetap saja menyisakan persoalan. Keputusan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama covid 19 berimbas kepada para guru yang harus menyiapkan berbagai hal terkait dengan PJJ ini. 

Memang tak mudah karena selama ini yang menjadi andalan proses belajar mengajar "model" tatap muka sehingga semua persiapan mengajar dirancang dengan gaya tersebut. 

Gurupun harus berpikir membuat rancangan penilaian capaian pembelajaran yang pasti jadi berbeda dalam situasi normal. Para pendidik (guru)mungkin belum sempat berpikir tentang pembelajaran daring dalam era 4.0, ternyata Covid 19 memaksanya mulai berpikir memanfaatkan teknologi digital untuk pendidikan. Perubahan memang tidak bisa ditolak, be there or behind.

Tetapi karena tugas guru memang mendidik para siswa di sekolah, saya selalu berpikir sangat positif bahwa para guru berupaya melakukan tugasnya dengan baik walaupun dengan pernuh perjuangan.

Di luar para pendidik yang berjuang keras menuntaskan berbagai agar tujuan pembelajaran tercapai atau setidaknya  mendekati target capaian sudah ditetapkan, orang tua juga terkena imbas "kerepotan" karena harus mendampingi anak belajar. Lagi-lagi, terutama pada siswa tingkat satuan pendidikan dasar yang sangat perlu pendampingan pada saat BDR.

Bukan tak sudi mendampingi anak belajar di rumah, tetapi sebagian besar orang tuapun harus bekerja kembali setelah beberapa bulan Work from Home. 

Belum lagi jika orang tua dan anak sama-sama tidak "melek" teknologi dan bahkan tidak memiliki perangkat komputer, laptop atau gawai untuk menyampaikan/mengunggah hasil belajar siswa. 

Andai saja orang tua boleh mengatakan secara jujur masuk sekolah seperti biasa akan menjadi pilihan, tentu jika suasana sudah aman. Alasannya tentu beragam mulai dari  orang tua menjadi leluasa untuk melakukan aktivitas rutin atau bekerja, tidak perlu tergagap-gagap menjawab pertanyaan anak-anak yang kadang memang tidak dipahami sampai dengan cadangan kesabaranpun perlu dilipatgandakankan. Memang tak mudah menjadi guru.

Menyikapi kondisi "mendadak" harus belajar dari rumah pada semester sebelumnya (genap 2019/2020), Kemendikbud sudah merilis kampanye publik "Seru Belajar Kebiasaan Baru" Kempanye ini bertujuan untuk menginformasikan dan mengedukasi masyarakat tentang pembelajaran tahun ajaran 2020/2021 di masa pandemi. Bahkan Dinas Pendidikan dan Kemenag DKI juga sudah membuat panduan orang tua  mendampingi anak belajar.

Tentu dengan adanya kampanye publik, panduan dan beragam platform yang disediakan oleh Kemendikbud bekerjasama dengan berbagai pihak diharapkan dapat membantu siswa belajar dari rumah dan membantu para pemangku kepentingan, orang tua serta khalayak dalam mendukung pemenuhan hak peserta didik. 

Setidaknya bisa mengurangi beban siswa dan orang tua karena telah mempertimbangkan kondisi kesenjangan akses atau fasilitas belajar di rumah. Meskipun demikian, jika boleh dikritisi kampanye panduan atau pedoman yang dirilis oleh Kemendikbud harus lebih berfokus kepada sekolah yang masih harus menjalankan sistem pembelajaran jarak jauh.

Jika demikian mari kita tunggu hasilnya pada akhir semester gasal tahun ajaran 2020/2021 sambil terus berdoa agar wabah Covid-19 dapat segera berakhir.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun