"Mohon kepada semua pihak, agar tak menambah kepedihan warga dengan perilaku yang tidak jujur!"
Kira-kira begitu ucapan KH. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym lirih di acara paripurna Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa malam.Â
Lanjutannya, Aa Gym pun mengutip sebuah hadist yang menyerukan setiap orang (terutama yang tengah memegang amanah) untuk berlaku benar dan jujur, bukan dusta.Â
Logika sederhananya, kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan. Sementara dusta akan mengantarkan pada keburukan dan marabahaya.
Ada banyak alasan bagi kita untuk sependapat dengan ucapan Aa Gym. Karena sejatinya kejujuran adalah nilai universal, yang dalam banyak kasus menjadi fondasi utama dalam hubungan antarmanusia dan berujung pada rasa saling percaya dan aman.Â
Terutama hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin. Petinggi perusahaan dengan karyawan. Pejabat negara dengan warga biasa.
Permasalahannya, bagaimana kita bisa percaya satu sama lain dan merasa aman, jika para pemimpin saja sudah terbiasa untuk berlaku tidak jujur?
Pemimpin yang peduli dan trustworthy
Dalam salah satu video Ted Talksnya yang paling populer di internet, Simon Sinek menjelaskan tentang pentingnya setiap orang merasa aman dalam perusahaan/organisasi/kelompoknya.Â
Ia menyebutkan pemimpin yang hebat dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan rasa aman bagi setiap orang yang dipimpinnya.
Persis seperti kawanan wildebeest di padang Serengiti, Afrika, yang perlu waspada dan saling menjaga satu sama lain dalam kawanan dari ancaman predator.
Kepercayaan (trust) tersebut adalah basis dari kehidupan sosial kita di masyarakat. Sebagai sebuah peradaban yang tumbuh dari kelas yang paling sederhana menjadi yang paling kompleks, kita masih berpegang teguh pada keyakinan, manusia membutuhkan manusia lainnya agar Ia merasa aman ketika menghadapi suatu masalah di hidupnya.Â
Persis ibarat seorang ayah yang melindungi dan mengayomi semua anggota keluarganya, dalam kondisi apapun, kapanpun, di manapun.
Selama hayat masih dikandung badan, hidup kita tak akan lepas dari yang namanya masalah. Selalu ada persoalan yang harus diselesaikan, misteri yang perlu dipecahkan, menghadapi ketidakpastian bisnis, pasar, kesulitan dalam pekerjaan karena lesunya ekonomi, hingga menghadapi ancaman pandemi yang tak kasat mata.Â
Namun, jika manusia kompak, bekerja sama, saling membantu, dan percaya satu sama lain, manusia akan bisa melakukan hal-hal luar biasa.
Â
The key factor of good leadership
Terdapat key factor yang dapat membentuk suatu ikatan yang kompak tadi, baik dalam perspektif masyarkat luas, satuan tentara di medan perang, kehidupan bernegara, hingga dalam scope perusahaan.Â
Key factor itu tergantung pada siapa pemimpinnya. Karena, pemimpin lah yang akan menentukan arah, visi, goals, dan tujuan kapal besar kompi/negara/organisasi/perusahaan ke depan.
Jika, seorang karyawan misalnya, merasa bahwa bosnya di kantor bersikap acuh tak acuh, tak punya empati, tak menaruh perhatian, atau bahkan tak peduli dan merasa keberadaan karyawan tersebut tak berharga di perusahaan, tentu hal logis yang dilakukan pertama kali oleh karyawan itu adalah menyelamatkan dirinya sendiri. That's just human nature.
Dalam kondisi ini, collective actions & calls menjadi mustahil untuk dilakukan. Nilai-nilai dan tujuan bersama akan memudar. Kepercayaan hilang. Pesimisme muncul. Pikiran dipenuhi prasangka dan praduga.Â
Setiap orang merasa cemas akan hari esok, menerka-nerka nasib mereka ke depan, sehingga mencari jalan selamatnya sendiri-sendiri. Kapal goyang, semangat kolektif tumbang.
Sementara itu, ketika pemimpin fokus dan mengutamakan orang-orang di dalam organisasi/perusahaan ketimbang hal-hal lainnya, sehingga mereka merasa nyaman, terapresiasi, dan merasa berharga dengan tanggung jawabnya saat ini, banyak hal ajaib akan terjadi.Â
Keberadaan mereka yang dinilai jauh lebih penting ketimbang angka, akan membawa perusahaan pada hal-hal tak terduga.
Kepercayaan diri setiap orang akan naik. Moral dan semangat meningkat. Trust menjadi kunci dalam setiap aktivitas dan keputusan yang dibuat. Orang akan merasa aman.Â
Dengan kondisi ini, setiap orang akan selesai memikirkan keselamatan dirinya sendiri, mulai melihat ke depan, dan fokus terhadap tanggung jawab yang harus dituntaskan.Â
Bahkan, para pengikut rela melakukan apa saja untuk perusahaan/organisasi, berbekal keyakinan para pemimpinnya akan melakukan hal yang sama untuk mereka.
A good leader is a servant leader
Saya teringat sebuah cerita Perang Dunia ke-2 yang datang dari seorang jenderal bernama George C. Marshall.Â
General Marshall terkenal piawai memimpin pasukan AS di masa perang dan berjasa dalam menyusun Marshall Plan, sebuah inisiatif pascaperang untuk pemulihan kawasan terdampak perang, menyambung konektivitas perdagangan, modernisasi industri, meningkatkan kesejahteraan masyarakat Eropa, hingga mencegah penyebaran paham komunis, di akhir Perang Dunia ke-2.Â
Bagi banyak sejarawan, Ia adalah figur yang tepat untuk mempelajari sosok a good leader.
Di balik keahliannya dalam memobilisasi pasukan militer, Ia dikenal juga sebagai pemimpin yang sukses berkat kemampuannya untuk menemukan talenta-talenta terbaik dari prajuritnya, dan menempatkan mereka di posisi-posisi strategis sesuai dengan kapasitasnya.Â
Alhasil, setiap prajurit dapat tumbuh lebih cepat, dengan skill lapangan yang lebih terasah, sehingga makin memperkuat kompi-kompi pasukan AS kala itu.
Selain itu, General Marshall juga dikenal sebagai pemimpin yang selalu tampil, pasang badan dan bertanggung jawab untuk semua hal yang terjadi, dan mendukung para prajuritnya di masa-masa sulit sekalipun. Soal melayani pengikutnya, tak sedikitpun Ia memikirkan diri dan kenyamanannya sendiri.
General Marshall memiliki apa yang kini kita sebut dengan emotional intelligence dan mampu secara jernih melihat potensi dari setiap bawahannya.Â
Kemampuan ini memunculkan ikatan emosional yang kuat dengan trust sebagai landasannya. Ia memandang setiap bawahannya sebagai pribadi yang punya keunikan masing-masing.Â
Ia membangun hubungan personal. Ia menjalin ikatan yang kuat, agar ketika bawahan membutuhkannya, Ia mampu hadir dan membantu mereka dengan tepat sasaran, tak lagi memedulikan status dan kedudukan. Ini lah yang disebut sebagai servant leader.Â
Â
Leadership is a choice, not a rank
Dalam sebuah kesempatan, Sabtu lalu, saya belajar mengenai level-level kepemimpinan dari Prof Rhenald Kasali di Rumah Perubahan. Ia menjelaskan singkat, kalau seseorang masih menganggap kepemimpinan itu adalah jabatan, maka itu adalah level kepemimpinan yang paling rendah.
Orang mengikuti kita semata-mata karena jabatan yang kita miliki. Ketika jabatan itu hilang, hilang pula lah pengikut kita.Â
Ini menjelaskan, hanya karena seseorang punya otoritas untuk memimpin, bukan berarti Ia orang yang pantas untuk diikuti (mengenai level kepemimpinan akan dibahas di tulisan-tulisan selanjutnya).
Ini juga berlaku untuk oknum pemimpin/pejabat publik yang kian hari kian banyak menunjukkan tabiat yang sama sekali tak menimbulkan rasa aman dan kepastian kepada masyarakat.Â
Sebaliknya, malah terus membuat gaduh dengan perilaku-perilaku yang tidak jujur, rakus, ingin menang sendiri, sembunyi dari masalah, dan tak memiliki empati sama sekali.
***
Artikel baru, setiap Rabu dan Sabtu.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H