Kalau diamati dengan teliti, maka orang akan melihat lukisan itu adalah sebatang pohon hidup yang utuh. Pohon yang utuh itu punya akar dan juga punya kenyataan lain, seperti punya batang, dahan dan daunnya.Â
Akan tetapi, pada gambar itu tidak hanya presentasi tentang keutuhan pohon, tetapi juga tentang kenyataan pohon yang sudah mulai dirusakkan. Dahan-dahannya ditebang manusia, akarnya jadi meranggas entah karena abrasi, banjir dan panas panjang dan lain sebagainya.Â
Singkatnya, ada sebuah presentasi yang lebih mewakili realitas dunia saat ini. Â Dari sisi perspektif seperti itu, saya menjadi semakin mengagumi pelukis grafiti di stasiun kereta itu. Saya kagum karena mereka tidak hanya membuka lembaran kenyataan dunia ekologi saat ini, tetapi juga mereka menawarkan solusi, sekaligus kritiknya.Â
Kritik itu tidak lain terkait kenyataan dunia saat ini dimana hutan semakin dirusakkan karena kebakaran dan oleh karena penebangan dengan sengaja lainnya. Kebakaran hutan di Australia misalnya pada tahun 2019/2020 menyebar di area seluas 126.000 kilometer persegi (bdk. wikipedia.org).Â
Tidak secara langsung dengan gema suara demonstrasi pelukis graffiti beraksi menyatakan gagasan ekologi, tapi sangat jelas bahwa pelukis grafiti sedang mempromosikan sebuah kampanye peduli ekologi alam melalui garis dan perpaduan warna. Mungkin mereka meninggalkan ajakan, "mari perhatikan bumi, alam tumbuhan di mana kita tinggal."
3. Grafiti dan visi ekologis
Visi ekologi dalam lukisan grafiti di atas terlihat jelas sekali pada bagian dahan-dahan yang dipangkas, di sana ada lampu yang sedang bercahaya. Kok bisa ya? Ya, itu sebuah imajinasi kreatif (Kreative Vorstellungskraft) tentang sebuah visi.Â
Visi dari dari akar kata bahasa Yunaninya berkaitan dengan penglihatan dan tentu saja indera mata. Orang yang punya visi adalah orang yang sudah bisa melihat apa yang akan terjadi nantinya.Â
Kemampuan melihat apa yang penting dan berguna di masa depan, harus sudah ditempatkan sebagai prioritasnya sejak sekarang.Â
Dalam hal ini, pelukis grafiti sudah punya visi bahwa ekologi alam di muka bumi ini memang perlu ditempatkan sebagai prioritas visi pembangunan.Â
Kalau memang seperti itu, saya yakin bahwa apa yang dikatakan Presiden Indonesia, Joko Widodo beberapa waktu lalu tentang program hilirisasi dan wilayah hijau menjadi sesuatu yang sangat penting dan perlu ditempatkan sebagai prioritas bangsa kita.Â