Secara de jure itu benar karena sejak reformasi semua tempat pelacuran, disebut lokalisasi atau lokres, ditutup.
Tapi, secara de facto apakah Pemkot Bukittinggi bisa menjamin di Kota Bukittinggi tidak ada praktek pelacuran yang melibatkan PSK langsung dan PSK tidak langsung?
Tentu saja tidak bisa!
Maka, itu artinya insiden infeksi HIV baru di hulu akan terus terjadi pada laki-laki dewasa. Mereka selanjutnya akan jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.
Di bagian lain disebut: Peran penting dinas kesehatan sangat diperlukan untuk mensosialisasikan tentang bahayanya seks bebas dan juga dampak dari penyakit HIV/AIDS.
Lagi-lagi pernyataan di atas tidak akurat. Lagi pula sosialisasi HIV/AIDS sudah dilakukan sejak awal epidemi yaitu tahun 1987. Itu artinya sosialisasi sudah berjalan selama 36 tahun.
Tapi, mengapa hasilnya nol besar? Ya, itu terjadi karena materi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) tentang HIV/AIDS dibalut dan dibumbui dengan moral dan agama sehingga mengaburkan fakta medis tentang HIV/AIDS yang bermuara pada mitos.
Satu hal yang menggelitik dari berita ini adalah: Mengapa yang dibicarakan hanya remaja?
Secara empiris kasus HIV/AIDS pada remaja ada di terminal akhir epidemi karena mereka tidak mempunyai pasangan tetap, dalam hal ini istri.
Bandingkan dengan seorang suami yang tertular HIV/AIDS. Dia jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS ke istri dan pasangan seks lain. Bahkan, tidak jarang ada laki-laki yang beristri lebih dari satau sehingga jumlah perempuan yang berisiko tertular HIV/AIDS kian banyak.