Menurut laporan ICANW (The International Campaign to Abolish Nuclear Weapons), tak kurang ada 12.512 hulu ledak nuklir yang saat ini ada di dunia. Ribuan hulu ledak itu tersebar di sembilan negara.
Rusia menjadi negara dengan hulu ledak nuklir terbanyak. Yakni sebanyak 5.889 unit, melampaui AS dengan 5.224 unit. Kekuatan kedua negara jauh di atas tujuh negara lainnya.
Bagaimana Korea Utara? Dalam daftar yang dirilis ICANW, Korea Utara menempati urutan terakhir dengan 30 hulu ledak nuklir.
Perang nuklir ibarat bom waktu. Apalagi dalam beberapa waktu belakangan ini, sejumlah negara dengan kekuatan nuklir telah menyatakan kesiapannya untuk berperang.
"Korea Utara telah melipatgandakan upaya-upaya untuk membuat semua angkatan bersenjata termasuk kekuatan nuklir sepenuhnya siap bertempur," ujar Kim Jong Un seperti dilansir KCNA (The Korean Central News Agency), 11 September lalu.
Sebelumnya, pada Agustus, Presiden AS Joe Biden dilaporkan telah menyetujui strategi untuk persiapan perang nuklir dengan Rusia, Tiongkok, dan Korea Utara.
Banyak pihak percaya bahwa perang nuklir adalah sebuah keniscayaan.
Annie Jacobsen dalam bukunya Nuclear War: A Scenario menjelaskan soal bagaimana perang nuklir itu bisa terjadi. Jacobsen menulis bahwa perang akan diawali oleh Korea Utara yang meluncurkan serangan nuklir tiba-tiba ke Washington DC dan Pembangkit Listrik Diablo Canyon di California bagian tengah. Selanjutnya, aksi saling balas pun terjadi.
Dalam bukunya, Jacobsen menulis bahwa perang nuklir bisa terjadi begitu cepat. Bahwa "12 ribu tahun peradaban manusia" dapat dihancurkan menjadi puing-puing dalam hitungan 72 menit!
Memusnahkan Senjata Pemusnah Massal
Upaya denuklirisasi itu bermula pada pada 17 Oktober 1958. Dalam sebuah forum di PBB, Irlandia mengusulkan resolusi pertama yang melarang "penyebaran senjata nuklir lebih lanjut". Resolusi itu ditanggapi positif oleh hampir semua anggota PBB. Namun butuh proses panjang sampai akhirnya muncul kesepakatan yang kita kenal sebagai The Nuclear Non-Proliferation Treaty (NPT) atau Perjanjian Nonproliferasi Nuklir.