Kalangan pemilih muda sangat aktif dan gencar tidak hanya dalam aksi nyata namun juga di media sosial. Mungkin karena aktivitas pemilih muda lebih longgar dan mereka dianggap loyal jika sudah punya kandidat yang disuka.Â
# Pemilih Muda Bisa Diarahkan
Mungkin alasan ini akan kontras dengan pemaparan awal saya. Namun dalam kasus khusus justru ada fenomena pemilih muda mudah diarahkan khususnya oleh kalangan yang mereka hormati atau dianggap senior.Â
Ini diceritakan langsung salah satu tokoh pemuka kepada saya di satu kegiatan. Ada pengurus pondok pesantren yang mengarahkan santri untuk memilih paslon pada pileg, pilpres ataupun pilkada. Santri akan menuruti instruksi karena diarahkan oleh orang yang dihormati atau tetua di lingkungan mereka.Â
Jangan kaget jika suara yang terjadi akan timpang karena paslon atau caleg akan mendapatkan suara sangat dominan dibandingkan yang lain. Saya akui proses demokrasi cara ini kurang baik tapi secara realita banyak terjadi dan terbukti memberikan dukungan besar pada kandidat tertentu.Â
Ini juga terjadi dalam lingkungan keluarga. Tidak jarang orangtua menggunakan kemampuannya untuk mendoktrin anak untuk mengikuti pilihan orangtua. Meskipun si anak memiliki pilihan sendiri namun karena instruksi dari orangtua dan takut dianggap tidak berbakti alhasil ia akan menggunakan hak suara sesuai arahan.Â
***
Pemilih muda dianggap kritis maupun polos namun memiliki potensi besar dalam meningkatkan jumlah pemilih. Jangan kaget kini parpol hingga paslon berlomba-lomba merekrut hingga menarik perhatian kalangan muda.Â
Mirip kenangan saya dengan kedua teman yang antusias menggunakan hak suara karena sudah merasa yakin dengan kandidat yang dipilih. Bahkan kami memilih tidak bersifat subyektif namun berdasarkan analisis yang matang.Â
Semoga Bermanfaat
--HIM--