2 bulan ini saya tengah memiliki hobi baru yaitu menonton kisah mistis seputar pendakian di kanal Youtube. Ada beberapa kanal yang menjadi referensi saya seperti RJL5, Prasodjo Muhammad, Sumar Adi Wijaya dan akun pilihan Youtube lainnya.Â
Sudah rahasia umum bahwa hiking atau mendaki menjadi hobi populer belakangan ini dan semakin populer sejak muncul film 5 cm. Meskipun menguras tenaga yang tidak sedikit serta waktu pendakian panjang nyatanya ada kepuasan sendiri ketika berhasil mencapai puncak gunung apalagi menjelajah 7 summit di Jawa, Sumatra, Indonesia bahkan Dunia.Â
Namun kisah pendakian seringkali menciptakan kisah-kisah sendiri seperti tersesat di gunung, terkena gejala hipotermia hingga diganggu hal mistis. Kisah mistis para pendaki inilah yang menjadi hal seru untuk ditonton atau di dengarkan kisahnya.Â
Coba Kompasianer menonton kisah pendakian di atas. Nyatanya banyak hal mistis yang dialami oleh pendaki justru dikarenakan perilaku dan perbuatan pendaki yang bertentangan dengan adab di Gunung.Â
Saya sempat membaca artikel bahwa Gunung, Hutan dan Laut adalah area yang sangat kental nuansa mistis karena menjadi tempat tinggal makhluk halus. Ini karena keberadaan mereka dipercaya sudah sangat lama dan jarang tersentuh aktivitas manusia.Â
Beberapa teman saya yang memiliki hobi mendaki selalu berpesan bahwa kita adalah tamu di gunung. Sebagai tamu tentu ada adab yang harus dijaga.Â
Ada banyak kisah pendaki hilang di gunung. Ada yang beruntung ditemukan selamat, ada yang cidera bahkan meninggal. Tidak sedikit hingga kini belum diketahui keberadaan sama sekali.Â
Kisah Gibran yang sempat viral dikarenakan hilang di Gunung Guntur menjadi salah satu kisah pendakian. Dirinya merasakan sendiri kejadian diluar nalar seperti berada diluar tenda, bertemu dengan penunggu gunung hingga merasa hilang hitungan jam yang ternyata sebenarnya telah hilang berhari-hari.Â
Saya ingin sedikit sharing apa saja hal yang patut kita perhatikan jika ingin mendaki agar terhindar dari hal-hal mistis.Â
# Adab Pertama : Hormati Pantangan
Tidak jarang saat ingin mendaki sebuah gunung, ada informasi terkait pantangan yang harus dihindari dan jangan dilanggar. Pantangan ini bisa diinfokan secara langsung oleh pengelola, warga setempat, tetua, juru kuncen hingga dari mulut ke mulut antar pendaki.Â
Contoh pantangan yang umum beredar di komunitas pendaki seperti jangan kencing sembarangan, jangan berbicara kotor, jangan berbuat mesum, jangan mengeluh, jangan memiliki niat kotor dan sebagainya.Â
Ironisnya masih ada pendaki yang menggangap pantangan itu hanyalah mitos semata. Baginya tidak ada hal mistis di gunung sehingga dirinya mengabaikan pantangan tersebut.Â
Umumnya pantangan yang sering disampaikan oleh pendaki justru bisa diambil sisi positif. Apabila kita merasa mengganggap pantangan jangan terlalu percaya karena bersifat musyrik.Â
Bagi saya, anggap lah pantangan itu sebagai hal tradisi yang tetap harus kita hormati. Sama hal ketika kita mengunjungi daerah baru pasti ada hal atau tradisi yang bertentangan dengan kebiasaan kita. Namun pasti kita berusaha tetap menghormati dan menghargai tradisi yang ada.Â
Saya anggap mendaki ke gunung layaknya bertamu ke sebuah pekarangan rumah orang lain. Jika kita sebagai pemilik rumah pasti akan merasa kesal ada orang lain asal masuk ke pekarangan tanpa permisi, kencing di pekarangan hingga mengeluarkan kata kotor.Â
Wajarlah jika si pemilik rumah marah hingga mengerjai si tamu tidak diundang tersebut. Ini pulalah yang sering dialami oleh pendaki yang merasa mengalami hal mistis di gunung. Mereka seakan mengabaikan pantangan yang sudah diinformasikan sebelumnya.Â
# Adab Kedua : Jangan Merusak Dan Berniat Tidak Baik
Ada pesan bijak yang selalu ditanamkan kepada para pecinta alam yaitu
- Jangan mengambil sesuatu selain foto
- Jangan meninggalkan sesuatu selain jejak
- Jangan membunuh sesuatu selain waktu
Adab ini lebih menekankan agar kita bisa menjaga alam dan menghindarkan diri dari aktivitas yang merusak ekosistem.Â
Sayangnya tidak sedikit pendaki yang tidak memahami adab ini. Mereka dengan egois melakukan vandalisme, merusak tanaman, mengambil edelweis sebagai kenang-kenangan hingga membunuh satwa yang ada di alam.Â
Saya selalu mencoba menempatkan diri sebagai pemilik pekarangan rumah yang didatangi sekelompok pendaki. Pendaki ini dengan seenaknya memetik bunga terindah di pekarangan karena ingin dijadikan oleh-oleh. Tidak hanya itu pendaki ini juga mencoret pekarangan saya dengan pilox sehingga pekarangan saya tidak seindah sebelumnya. Saat pulang pun, pendaki ini membunuh ayam yang saya pelihara.Â
Reaksi saya sebagai pemilik rumah pasti kesal dan bisa menuntut balas atas perbuatan mereka. Sangat banyak kejadian pendakian yang hilang, tersesat hingga tewas karena bernuansa mistis karena mereka membuat marah penunggu gunung tersebut karena suatu tindakan tertentu.Â
# Adab Ketiga : Jadilah Tamu Yang Baik
Cobalah menempatkan diri kita sebagau tamu yang berkunjung ke rumah kerabat atau rumah calon mertua. Pasti ketika baru sampai langsung mengucapkan salam, berjabat tangan atau salim dengan pemilik rumah, melepaskan alas kaki saat masuk dan jika disajikan makanan, kita dengan sadar diri membersihkan sisa makanan bahkan mencuci peralatan makan yang sempat terpakai.Â
Tanamkan juga hal ini jika ingin mendaki gunung. Selalu ucapkan salam ketika berada di lokasi tertentu seperti pos pemberhentian, serta membersihkan sisa makanan atau sampah yang kita hasilkan.Â
Niscaya jikalau perilaku ini kita lakukan, kita bisa terhindar dari hal-hal mistis di gunung karena kita bertamu dengan menjaga tata krama.Â
# Adab Keempat : Jaga Iman dan Niat Hati
Saya salut dulu ketika mendaki ke Gunung Semeru bersama teman-teman kuliah dan komunitas pendaki. Pendaki yang beragama Islam tetap tekun menjalankan ibadah.Â
Tidak jarang ketika jalan pendakian memasuki jam shalat. Kami berhenti sejenak agar teman-teman yang ingin menunaikan shalat bisa menjalankan kewajibannya.Â
Saya pun juga selama pendakian selalu membaca doa dalam hati agar selama pendakian terhindar dari hal mistis dan tetap dalam lindungan Tuhan.Â
Selain itu dengan tetap menjaga iman bisa menghindari kita dari niat buruk dalam pikiran. Seringkali ada aja niat buruk pendaki misalkan ingin mabuk-mabukan di atas gunung atau berbuat mesum karena mendaki dengan pasangan dan sebagainya.Â
Ketika iman bisa kita jaga, niat buruk yang mungkin sempat ada bisa sirna seketika. Jangan sungkan untuk menegur teman pendaki yang memiliki buruk agar proses pendakian terhindar dari gangguan mistis.Â
***
Pendakian ibarat kita bertamu ke sebuah rumah orang lain. Ketika kita bertamu tentu berharap si pemilik rumah menyambut, menerima dan tidak terganggu dengan kehadiran kita.Â
Hal yang bisa dilakukan adalah menjaga adab diri selama pendakian. Cara ini selain membuat kita menjadi tamu yang tahu tata krama juga menghindarkan diri dari sikap yang memicu kemarahan si pemilik rumah.Â
Kesalahan selama ini banyak pendaki yang seakan mengabaikan adab ini dan terkesan cuek, egois dan mengutamakan hawa nafsu yang buruk. Alhasil muncul kisah pendaki yang dikerjai, disesatkan hingga bernasib naas karena sesuatu hal diluar logika.Â
Semoga Bermanfaat
--HIM--
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI