Kejadian salah tanggal atau salah hari yang masih saya ingat adalah saat menentukan tanggal ujian komprehensif sewaktu masih kuliah pascasarjana di kampus biru, UGM.
Saya berdiskusi dan meminta tanda tangan promotor saya. Beliau harus tanda tangan terlebih dahulu, sebelum saya meminta tanda tangan dari dosen pembimbing lainnya dan juga dosen penguji.
Sewaktu beliau tanda tangan, alisnya berkerut. "Maksudmu Sabtu ini atau Sabtu depan? Ini tanggalnya Sabtu ini, saya tidak bisa."
Astagfirullah, hampir saja saya melakukan kesalahan fatal. Segera saya merevisi tanggal ujian sebelum beredar meminta persetujuan dosen lain. Coba kalau urusan tanggal ini tidak beres untuk hal sepenting itu, entah apa jadinya saya harus meralat dan keliling lagi mengulang kesepakatan tanggal dengan dosen-dosen lain. Â
Salah tanggal yang lain terjadi baru-baru ini ketika saya harus menghadiri seminar parenting yang diselenggarakan oleh sekolah si bungsu. Jadwal acaranya kebetulan Sabtu juga. Sejak pagi saya bersiap-siap dan meminta suami mengantar. Saya sudah memakai gamis dan berdandan siap berangkat, lalu berpamitan pada bungsu.
"Nak, mama mau ke sekolahmu dulu, ya?"
"Kenapa? Mau apa ke sekolahku?"
"Lho, seminar parenting, kan? Kamu mau ikut?"
"Astaga mama...itu Sabtu depan!"
Doengng!
Saya terkejut dan membaca ulang undangan seminar. Ternyata memang baru Sabtu depan. Olala. Suami saya yang sudah manasin mobil nyengir lebar, lalu dia tetap pergi ke lapangan bulutangkis untuk olah raga. Sedangkan saya jadi gabut karena sudah dandan cantik tapi tidak jadi pergi, hahaha.