Judul buku: Dunia Kecil yang Riuh
Pengarang: Arafat Nur
Penerbit: DIVA Press
Tahun terbit: 2021
Tebal halaman: 330
Ket: Juara Dua Lomba Novel Perihal Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh DIVA Press.
Saya ingat tatkala lomba novel tentang Nabi Muhammad SAW diluncurkan tahun 2020. Penyelenggaranya Diva Press, penerbit mayor yang berlokasi di Yogyakarta.Â
Saya waktu itu tertarik untuk ikut, tapi tidak ada ide dan kerjaan utama juga pas lagi lucu-lucunya. Info lomba itu lewat begitu saja, padahal hadiahnya menarik sekali. Juara 1 akan menerima uang tunai 20 juta rupiah, juara 2 menerima 15 juta rupiah, dan juara 3 menerima 10 juta rupiah.Â
Wow banget kan, hadiahnya ... sebanding juga dengan bobot novel. Pasti berat nulis novel tentang Nabi Muhammad SAW.
Ketika kemudian membaca info bahwa salah satu pemenang lomba adalah bang Arafat Nur, saya sudah tidak heran lagi. Beliau penulis novel dari Aceh yang karyanya sering menerima berbagai penghargaan.
Alhamdulillah saya berkesempatan bisa memiliki novel pemenang tersebut yang berjudul "Dunia Kecil yang Riuh."
Arafat Nur menceritakan tentang suatu tempat di tanah Jawa. Kampung kecil yang orang-orangnya malas salat dan masih sangat tergantung pada dukun-dukun.
Satu2nya masjid di kampung tersebut sudah jarang mendirikan salat berjamaah sejak imam masjid melarikan diri setelah terkena penyakit aneh.
Suatu saat datanglah seseorang ke kampung tersebut. Ia seorang ustadz muda dengan penampilan bersahaja. Modin kampung langsung girang dan meminta si ustadz untuk tinggal di masjid sebagai imam.
Sang ustadz muda mengiyakan dan mulailah salat berjamaah kembali meramaikan kampung. Namun, ada yang tidak senang yaitu para dukun di pondok yang terang-terangan membenci si ustadz.
Pak ustadz ini namanya sulit dilafalkan dan diingat oleh penduduk kampung, karena kebiasaan ustadz yang suka berselawat setiap saat, maka orang2 memanggilnya ustadz selawat.
Setiap selesai salat, ustadz berselawat, juga jika ia berjalan di keramaian pasar bibirnya tak henti bergerak. Ustadz juga menyembuhkan orang dengan cara membacakan selawat.
Sesuai gaya Arafat Nur dalam menulis novel, ia menyelipkan humor-humor sehingga pembaca merasa terhibur. Bagaimana ia menggambarkan riuhnya pertelon yang merupakan titik pusat kehidupan kampung dengan suara musik dari bengkel yang selalu meneriakkan lagu dangdut dan iklan membesarkan kelamin.Â
Sambil menceritakan kehidupan penduduk kampung, Arafat akan memixkan dengan suara musik yang sedang terdengar.
Misalnya saat Daiman, preman sekaligus dukun memasuki warung makan, Sandrina meneriakkan (lagu) "Jijik" dari bengkel. Unik dan lucu caranya bercerita.
Satu percakapan remeh dan lucu dari seorang penjual pakaian dalam dan calon pembeli (halaman 40) sebagai berikut:
"Kenapa mahal?"
"Ini merek terkenal. Tidak murahan seperti punyamu yang bolong di bagian pantat."
"Yang kubeli kemarin juga merek ini, tapi cepat bolong!"
"Salahmu sendiri, kenapa banyak duduk!"
"Masa sih aku pakai sempak harus berdiri terus?!"
Dialog retjeh itu membuat saya terbahak, dan banyak dialog macam ini yang bikin senyum-senyum sendiri.
Kehadiran ustadz selawat memberikan warna tersendiri di kampung kecil yang bernama Parengan, dengan pusat kehidupannya di Pertelon (pertigaan). Gadis-gadis Parengan yang cantik dan berkulit putih serta senang mengenakan rok mini atau celana pendek, mulai rajin salat berjamaah di masjid.Â
Awalnya rajin salat karena tertarik pada ustadz selawat yang berwajah tampan. Namun setelah menyadari bahwa tak satupun gadis Parengan menarik hati ustadz, para gadis itu tak lagi berharap banyak. Meski demikian mereka tetap memenuhi masjid saat mendirikan salat wajib.
Ustadz selawat hanya tertarik dengan seorang gadis buta dan kumal di Parengan, yang bernama Narsih.Â
Kepopuleran ustadz selawat makin terdengar setelah ia menyembuhkan Sumi dari kegilaan, menyembuhkan ibu Nojo dari sakit pinggang, membuat pak modin bisa punya keturunan dan masih banyak lagi penyakit tersembuhkan dengan bacaan selawatnya.
Kepopuleran itu makin membuat para dukun gondok. Puncaknya saat dua orang preman dukun menghunus keris di tubuh ustadz selawat. Ustadz terluka parah namun masih dapat tersembuhkan. Saat polisi bertandang dan mengatakan akan mengejar pelakunya, ustadz selawat melarang dan berdalih biarkan semua diselesaikan secara kekeluargaan saja.
Selain suka berselawat, ustadz tersebut juga mengikuti karakter Nabi Muhammad SAW, yang tidak mendendam bahkan penuh cinta kasih pada orang yang mencelakainya.
Novel ini berakhir open ending (menurut saya). Ustadz selawat pergi dari kampung setelah berhasil mempersunting pujaan hatinya. Apakah orang2 kampung yang ia tinggalkan menjadi taat dan rajin salat? Tidak digambarkan seperti itu, namun ada clue-clue bahwa kampung itu akan berubah.
Sudah ada Misdi yang dilatih oleh ustadz selawat yang akan menggantikan menjadi imam masjid dan berselawat.
Ada Sumi, mantan penderita gangguan jiwa yang disembuhkan oleh ustadz selawat dengan dibacakan selawat. Sumi adalah pembela dan pengikut ustadz yang setia.Â
Ada Nojo, jodoh Sumi, tukang ojek yang pernah mondok di pesantren selama dua tahun tapi kemudian berhenti karena malu akibat bapaknya meninggal akibat mabuk minuman.
Novel yang memenangkan lomba novel tentang Nabi Muhammad ini, ternyata bukan seperti novel dalam bayanganku ... yang penuh dalil-dalil dan hadits bertebaran dan menggurui. Tidak perlu seperti itu ternyata.
Cukup menceritakan seseorang yang sangat mencintai Nabi SAW, dan melakukan semua sunnahnya, dan tak pernah alpa membacakan selawat tanda cinta.
Saya belajar banyak dengan membaca novel ini.**
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI