Tingkat konsentrasi tersebut masih 6-7x lipat lebih tinggi dari standar yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini didominasi oleh sumber polutan terbesar yaitu asap kendaraan bermotor khususnya kendaraan pribadi disusul oleh kebakaran lahan hutan dan PLTU batubara. Laporan IQAir menyebutkan, polusi udara terus menjadi persoalan lingkungan terbesar yang berisiko terhadap kesehatan. Kelompok yang terus-menerus terekspos dengan udara buruk rentan mengalami gangguan kesehatan, mulai dari mengidap penyakit asma, kanker, paru-paru, jantung, hingga mengalami kematian.
Emisi Karbon, Kontributor Utama Perusak Bumi
Sebenarnya masih banyak sekali permasalahan lingkungan selain yang disebutkan diatas. Masalah polusi hanya satu dari sekian banyaknya problem lingkungan yang akan terus menjadi PR bagi negara. Belum lagi soal urusan pengelolaan sampah, sisa makanan, limbah industri tekstil, pencemaran tanah dan air, banjir bandang, tanah longsor, rusaknya ekosistem keanekaragaman hayati, dan masih banyak lagi. Semua permasalahan tersebut tentu akan mengganggu kondisi lingkungan yang ujung-ujungnya berkontribusi terhadap jejak emisi yang dihasilkan.Â
Salah satu emisi yang berbahaya dan dapat menyebabkan perubahan iklim adalah emisi karbon. Sederhananya, emisi karbon adalah proses terlepasnya senyawa karbon ke atmosfer yang mana karbon tersebut dapat merusak lapisan ozon sehingga menyebabkan suhu di bumi meningkat.Â
Emisi karbon paling sering dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia maupun kegiatan industri dan manufaktur. Saat ini, emisi karbon menjadi kontributor utama penyumbang terjadinya perubahan iklim dan pemanasan bersamaan dengan emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Keduanya menyebabkan naiknya suhu bumi atau efek rumah kaca.
Kontribusi dibidang alat telekomunikasi dan informasi terhadap jejak karbon global akan terus meningkat setiap tahunnya. Di tahun 2020 saja mencapai 3,5% dan diperkirakan akan mengalami kenaikan yang signifikan sebesar 14% di tahun 2040. Itu baru dari sektor telekomunikasi belum lagi sektor lainnya. Sebuah kendaraan bermotor saja dapat menghasilkan emisi sebesar 4,6 metrik ton karbon dioksida per tahunnya. Ini baru satu kendaraan belum dikalikan dengan jumlah kendaraan pribadi yang ada di Indonesia.Â
Pembukaan lahan akibat industri penambangan dan ekstraktif lainnya saja bisa menghasilkan 2,6 juta metrik ton karbon dioksida atau setara dengan sepertiga dari emisi karbon yang dihasilkan oleh bahan bakar fosil. Selain itu, pembakaran sampah juga menjadi penyumbang emisi karbon karena 40-50% sampah terdiri dari massa karbon dan ironisnya sekitar 40% sampah dunia dibakar setiap harinya.
Dampak buruk dari emisi karbon turut menyertai kehidupan manusia di berbagai bidang. Di bidang lingkungan sendiri dampak emisi karbon yang nyata terlihat seperti meningkatnya suhu bumi, abrasi pantai, potensi banjir meningkat akibat curah hujan yang lebat, risiko terjadinya kebakaran hutan meningkat, mengganggu ekosistem sehingga berdampak pada keanekaragaman hayati dan lain sebagainya. Di bidang kesehatan dampak nya seperti timbulnya berbagai penyakit baru, terjadi masalah serius pada pernapasan serta risiko penularan penyakit menjadi lebih cepat.Â
Lebih lanjut lagi, emisi karbon juga berdampak pada sektor ekonomi seperti gagal panen sehingga menyebabkan produktivitas pangan terganggu, kerusakan infrastruktur, pengurangan populasi dan sulitnya pengembangan sumberdaya bahkan dapat mempengaruhi stabilitas sistem keuangan negara secara makro. Dari sini terlihat bahwa dampak emisi karbon sangat banyak dan mempengaruhi berbagai lini sektor kehidupan serta menjadi kontributor utama perusak bumi.
Aksi Nyata #BersamaBergerakBerdaya Persembahan #UntukmuBumiku
Tentu kita tidak mau hidup dengan keadaan bumi yang terus memburuk seperti ini. Untuk itu diperlukan aksi nyata yang sudah seharusnya kita lakukan bersama. Saya lebih senang membagi aksi nyata tersebut ke dalam 3 level yaitu level individu (masyarakat), level korporasi dan level negara.