Dua minggu, tiga minggu berjalan masih sama. Bahkan terasa sangat biasa. Tak terasa kalau aku puasa. Pagi tidak sarapan, siang tidak makan tetapi tak pernah kelaparan. Haus? Tentu saja karena terik matahari di kotaku memang terkenal panas. Namun haus itu masih dapat kutahan. Belum pernah aku tersiksa kehausan. Nah, tentang bersungut-sungut? Â Ini juga terlewatkan dengan kedamaian.
Merasa mantap tanpa hambatan, aku mulai mengubah pola aktivitas. Biasanya kalau di kantor aku membatasi komunikasi agar tidak boros energi. Memasuki minggu keempat sosialisasi dan komunikasi dengan sesama tak kubatasi. Diskusi pekerjaan, ngobrol sana-sini, rasan-rasan, ngrumpi tipis-tipis semua kulakukan.
"Big Bos memang nyebeli akhir-akhir ini!" ucap Karna Gaya, temanku kerja yang duduknya di sebelahku.
"Keputusan-keputusannya tidak membuahkan hasil apa-apa," Tasaro ikut menimpali.
"Aku juga sudah muak dengan caranya berbicara dan ... !" kalimatku tak kulanjutkan sebab tiba-tiba kurasakan tengkuku tertindih beban.
Kutoleh belakang, tak ada bos datang. Kukitari ruangan dengan mata menyelidik tajam, juga tak kudapati siapa-siapa. Hanya ada aku, Karna Gaya, dan Tasaro.
Sesaat kemudian saat aku kembali menghadap ke depan kudapati  pengertian bahwa aku telah gagal hari ini. Aku telah hanyut ikut arus ngrumpi kawan-kawan. Iya, aku telah ikut bersunggut-sungut siang ini. Bukankah, bos sudah seharusnya memiliki otoritas untuk membuat kebijakan! Jadi, tugasku adalah mendukung untuk mewujudkannya.Â
Mestinya aku berdoa dan berjuang demi kemajuan kantor tempatku bekerja. Bukankah keberhasilan dan kesejahteraan kantor ini adalah kesejahteraanku juga. Kenapa aku harus bersungut-sunggut kepada bos! Kalaupun bos ada kekurangannya, bukankah lebih baik aku memberikan saran kepadanya. Bukan malah mempergunjingkannya!
Waktu asar sudah lewat. Sudah saatnya aku pulang. Setelah berkemas, aku bergegas menuju tempat parkiran. Ya, ampun! Beberapa motor terparkir sembarangan di belakang mobilku. Padahal mobilku terpakir menghadap tembok.
"Pak, tolong ini!" teriakku kepada juru parkir.
"Maaf, Mas. Tadi ada tamu terburu-buru." Juru Parkir itu buru-buru menggeser beberapa motor hingga mobilku bisa atret dan meninggalkan tempat parkir.