Mohon tunggu...
Imanuel Lopis
Imanuel Lopis Mohon Tunggu... Petani - Petani

Petani tradisional, hobi menulis.

Selanjutnya

Tutup

Halo Lokal Pilihan

Dari Toko Kelontong dan Pasar Inpres Beralih ke Swalayan

9 Agustus 2023   08:35 Diperbarui: 9 Agustus 2023   08:44 687
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Potret pertokoan di sisi jalan Diponegoro Kota Soe, NTT. Gambar: tangkapan layar ponsel dari Google Street View.

Kota Soe ibu kotanya Kabupaten Timor Tengah Selatan di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Berjarak 110 Km dari Kota Kupang yang merupakan ibu kota propinsi.

Jumlah penduduk di Kota Soe menurut data agregat penduduk 2022 pada papan informasi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Timor Tengah Selatan adalah 40.146 jiwa. Sementara secara keseluruhan penduduk di kabupaten ini adalah 471.010 jiwa.

Di wilayah Kota Soe terbentang jalan raya trans Timor sepanjang 7 Km lebih. Berbagai tempat usaha seperti toko ada di sisi kiri dan kanan sepanjang jalan. Ada toko yang berdiri sendiri dan ada yang berjejeran dengan toko-toko lain.

Dua toko legendaris yang ada di Kota Soe ini adalah Toko Mubatar dan Toko UD Wijaya. Sejak saya masih bocah pada tahun 90an, toko ini sudah populer di masyarakat. Tidak hanya melayani warga di Kota Soe namun di Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Kedua toko saling berhadapan di komplek pertokoan di Jalan Diponegoro, hanya terpisah jalan raya. Toko Mubatar dan Toko Wijaya merupakan toko kelontong yang konvensional.

Toko-toko ini berupa ruko yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari. Ukuran toko tidak terlalu luas dengan etalese-etalase kaca yang penuh dengan dagangan. Ruang atau akses jalan di antara deretan etalase tersebut.  

Toko konvensional tersebut memiliki beberapa pelayan toko dengan pakaian biasa. Saat berbelanja, para pelayan yang mengambilkan barang dan kemudian pembeli membayar ke kasir yang merupakan bos toko.

Saya sering juga berbelanja di kedua toko kelontong ini, membeli onderdil mesin perkakas dan jaring ikan. Suatu kali saat berbelanja, sang kasir harusnya memberikan kembalian Rp 1.000 namun justru kembaliannya berupa beberapa bungkus permen kecil.

Sejak beberapa tahun lalu di komplek pertokoan ini kemudian berdirilah dua swalayan besar yaitu Wijaya Swalayan dan Mubatar Swalayan. Wijaya Swalayan berdampingan dengan Toko Mubatar sedangkan Mubatar Swalayan hanya berjarak dua toko dari Toko Wijaya di sebelahnya.      

Dua swalayan dengan nama yang sama dengan dua toko tersebut ini ibarat transformasi dua toko konvensional menjadi toko modern. Pemilik toko dan swalayan pasti orang yang sama atau masih satu keluarga.

Bangunan kedua swalayan berupa gedung besar berlantai dua dengan jejeran jendela kaca nan besar, tertutup, luas dan full AC. Dagangan dalam swalayan tertata rapi per item di tiap rak. Tanpa pramuniaga dan pembeli mengambil sendiri kemudian membayar di kasir dengan scan belanjaan. Para karyawan swalayan berpakaian rapi dan seragam.

Saya sering nongkrong di kawasan pertokoan ini dan mengamati suasana hiruk pikuk kota. Dalam pengamatan saya, pengunjung swalayan selalu ramai. Datang, belanja dan pergi, seolah tak ada putus-putusnya.

Tak jauh dari Wijaya dan Mubatar tersebut terdapat Suba Suka fashion store dengan konsep  swalayan pula. Bangunannya luas dengan aneka fashion yang tersusun rapi dalam deretan keranjang.

Toko fashion ini juga sangat ramai dengan para pengunjung khususnya ibu-ibu dan cewek-cewek. Daya tariknya adalah harga murah meriah, diskon dan ketersediaan pakaian yang banyak serta variatif.

Pemandangan kontras dengan toko-toko kelontong yang ada di sekitar swalayan.  Pengunjung toko kelontong tidak seberapa bahkan sepi sehingga pelayannya hanya bersantai.

Sewaktu beranjak ke Pasar Inpres Soe, saya lihat lapak-lapak pedagang pakaian lumayan sepi. Toko-toko pakaian di sekitar pasar juga tampak sepi. Kios-kios sembako juga sedikit pembeli, hanya area lapak sayuran yang ramai.

Pasar Inpres Soe merupakan satu-satunya pasar tradisional terbesar yang selama ini menjadi pusat jual beli di Kota Soe dan sekitarnya. Di dalam pasar terdapat area untuk kios sembako, area lapak sayuran, daging dan ikan, pakaian, perkakas, dll.

Bangunan tempat jualan ada yang representatif, bangunan darurat atau hanya lapak ala kadarnya. Akses jalan dalam pasar sebagian besar sudah rusak, hanya sebagian yang berpaving. Para pedagang kerap berjubel di jalan-jalan dalam pasar sehingga membuat macet.

Pemandangan di toko konvensional dan pasar tradisional ini sangatlah kontras dengan toko swalayan dalam berbagai aspek. Hal ini rupanya membuat perilaku sebagian masyarakat dalam berbelanja mulai berubah. 

Dahulu berbelanja di toko konvensional atau pasar tradisonal, sekarang beralih perlahan ke toko swalayan yang modern dan kekinian.
Secara fisik, toko swalayan lebih luas, rapi dan nyaman dari toko konvensional atau pasar tradisional. Harga barang juga sedikit lebih murah.

Berbelanja di swalayan juga tidak hanya soal harga namun juga soal gaya hidup dan prestise. Lebih prestisius dan keren berbelanja di swalayan daripada tempat yang konvensional.

Sebagai ibu kota dari kabupaten dengan penduduk terbesar di NTT, Kota Soe akan terus berkembang menjadi pusat perekonomian. Toko modern, minimarket dan sejenisnya akan terus bertambah bahkan di suatu saat akan ada mall yang pertama di kota ini. 

Saat ini saja mini market sudah ada di berbagai penjuru kota. Tidak hanya menyediakan barang kebutuhan sehari-hari namun juga transaksi keuangan digital.

Pasar tradisional yang selama ini menjadi pusat perbelanjaan harus berbenah agar mampu bersaing dan eksis. Perlu ada penataan pasar tradisional agar lebih rapi, bersih dan nyaman.

Toko-toko konvensional terutama toko pakaian jika sepi pun harus mengubah strategi pemasaran misalnya dengan berjualan secara online dengan harga terjangkau.
 

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Halo Lokal Selengkapnya
Lihat Halo Lokal Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun