Mohon tunggu...
Iman Haris M
Iman Haris M Mohon Tunggu... Freelancer - Loper Koran

Semua penulis akan mati

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Artikel Utama

Sekolah Bukanlah Daycare

20 November 2023   12:03 Diperbarui: 30 November 2023   17:44 891
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Komunikasi dan kolaborasi antara orang tua, guru dan anak merupakan hal yang penting dalam pendidikan. (Ilustrasi foto: ANTARA FOTO/NOVRIAN ARBI)

"Kayak nggak disekolahin aja!" seru seorang tetangga tak kuat lagi menahan kekesalannya, jengkel karena si anak seolah tak mau mendengar nasihat dan malah terus membantahnya.

Setelah rasa kaget mereda, dalam hati saya bertanya, "memang di sekolah anak harusnya belajar apa saja?"

"Biologi, Fisika, Kimia? Oh, ya, Budi Pekerti ada juga mata pelajarannya," jawabku sendiri. Hanya saja, apa iya budi pekerti anak sepenuhnya tanggung jawab guru atau sekolah?

Lalu tanggung jawab orang tua di mana? Apa sekedar membiayai saja?

Baca juga: Serba Salah Sekolah

Ayah dan bunda, sebagai orang tua, bukankah tanggung jawab utama atas pendidikan anak-anak tetap berada di pundak kita?

Bapak dan ibu guru membantu pembelajaran anak-anak kita di sekolah, tapi itu tidak memindahkan tanggung jawab kita kepada mereka.

Meskipun demikian, bapak dan ibu guru juga perlu menyadari bahwa mereka adalah para pendidik, bukan sekedar pengajar.

Karakter, budi pekerti, sikap mental dan motivasi bukanlah sesuatu yang bisa begitu saja diajarkan lalu serta merta terbentuk. Hal-hal tersebut tumbuh dan berkembang melalui pengalaman dan pembudayaan.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi karakter seorang anak, lingkungan pergaulan dan pendidikan di sekolah di antaranya, tetapi bagaimana kita mendidik anak-anak semenjak mereka lahir merupakan fondasi utama.

Para guru tidak bisa mengubahnya begitu saja. Bagaimana bisa mereka bisa mengajak anak-anak fokus memperhatikan pembelajaran, jika kita membiarkan anak-anak bergadang main game sepanjang malam?

Ada banyak faktor pendukung keberhasilan pembelajaran di sekolah yang tersedia di rumah, bukan di sekolah; dukungan, perhatian dan pengawasan, tentu selain pembiayaan.

Banyak anak yang bisa dianggap bermasalah di sekolah, ternyata lahir dari beragam masalah di rumah mereka.

Jika kita merasa kesulitan mengawasi dua, tiga, atau beberapa anak di rumah, lalu bagaimana mungkin kita berharap guru harus bisa mengawasi dan mengenali secara dekat puluhan anak didiknya?

Sekolah bukanlah daycare, di mana kita sekedar menitipkan anak selagi kita sibuk bekerja atau atau tenggelam dalam pekerjaan rumah.

Bahkan jika seandainya kita hanya masyarakat kelas bawah yang tidak punya harapan muluk-muluk dengan masa depan anak kita, tentu ayah dan bunda tidak mau melewatkan begitu saja perkembangan anak untuk kemudian terkejut dan menyesal suatu saat nanti karena ternyata perkembangan mereka tidak sesuai dengan harapan.

Sudahkah kita menyampaikan harapan itu kepada pihak sekolah dan para guru? Apakah mereka mengetahui permasalahan kita dalam mendampingi anak-anak di rumah? Apakah kita juga mengetahui kesulitan para guru dalam membimbing putra-putri kita di sekolah?

Kita perlu berkomunikasi, orang tua dan guru perlu bekerjasama, karena anak-anak itu adalah putra dan putri kita bersama.

Komunikasi ini tidak perlu menjadi beban tambahan baik bagi orang tua maupun para guru. Tidak semua orang punya keluangan waktu di tengah tuntutan hidup yang semakin berat.

Jangan lupa juga untuk berkomunikasi secara terbuka dengan anak; berdialog, dua arah. Para orang tua, bapak dan ibu guru, kita bukanlah para pemilik kebijaksanaan kehidupan. Seperti anak-anak, kita juga hanyalah para pembelajar kehidupan.

Boleh jadi, ada hal-hal baru yang bisa kita pelajari dengan mendengarkan, ada hal-hal yang mungkin bisa kita perbaiki selagi kita punya kesempatan.

Suatu kali seorang ibu dipanggil ke sekolah untuk membicarakan permasalahan anaknya, dia merasa kaget mendengar penuturan Pak Guru, "tapi di rumah dia baik kok, pak," ujar sang ibu.

Ayah dan bunda, seberapa jauh kita mengenal anak-anak kita? Berbincanglah dengan mereka, dengarkan mereka, bimbing mereka perlahan, sebagaimana kita membimbing mereka berjalan.

Tentu tidak mudah, perlu kesabaran, tapi bukankah kita juga ingin anak-anak kita menjadi manusia penyabar? 

Jika mereka tidak mengenali kesabaran itu dari orang dewasa di sekitar mereka, lalu dari siapa mereka bisa belajar bagaimana kesabaran itu mungkin dalam situasi yang paling tidak mungkin?

Kita tidak perlu tambahan acara untuk komunikasi, dialog atau ngobrol ini; tidak perlu tambahan anggaran, tidak perlu ada spanduk dan foto-foto untuk laporan.

Para guru sudah terlalu banyak dibebani administrasi, ayah dan bunda juga sudah cukup punya banyak beban biaya. Kita hanya perlu berkomunikasi agar masing-masing pihak bisa saling mendengar, berbagi, memahami dan mencari solusi bersama.

Situasi, kondisi dan kapasitas setiap sekolah berbeda-beda, demikian juga dengan keadaan dan kemampuan setiap rumah tangga tidaklah sama.

Hanya saja, sekali lagi, kita perlu menyadari bahwa sekolah bukanlah daycare, bukan tempat penitipan anak. Sekolah adalah lembaga pendidikan, yang bersama bapak dan ibu guru di sana ayah dan bunda bekerjasama untuk mendidik anak-anak kita.

Pada akhirnya, sebagai orang tua, kita hanya bisa berusaha semampu kita agar anak-anak bisa mempunyai kemandirian kelak.

Berharap semoga doa-doa mereka menyertai kita, baik bagi bapak dan ibu kandung maupun bapak dan ibu guru.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun