Mohon tunggu...
Imamatus Sadiyah 15705
Imamatus Sadiyah 15705 Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Saya sangat suka menggambar dan suka hal-hal tentang bidang fotografi begitu videografi

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Pentingnya Menerapkan Kesetaraan Gender di Kehidupan Kita

11 November 2024   19:39 Diperbarui: 11 November 2024   20:26 59
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Apa itu kesetaraan gender?

Kesetaraan gender yaitu proses bersikap adil pada perempuan dan laki- laki. Hal ini merujuk pada gender mereka sendiri, seperti tentang atribut dan peluang ekonomi, sosial, dan budaya yang terkait masing- masing. Pada permasalahan ini perempuan dan laki- laki memiliki harapan yang berbeda tentang bagaimana mereka berpakaian, berperilaku, atau bekerja. Perilaku yang sesuai untuk perempuan dan laki- laki mencerminkan pemahaman tentang bakat dan karakteristik dalam hubungan rumah tangga, tempat kerja, begitu pun ruang publik. Peran yang dimainkan perempuan dan laki- laki serta harapan bagi keduanya sangat bervariasi diantara masyarakat dan berubah seiring waktu. Atribut gender ini dapat diubah dengan cara membuat masyarakat lebih adil dan setara. 

Namun disini kesetaraan mengarah pada kesetaraan. Kesetaraan ini mensyaratkan kenikmatan yang sama oleh perempuan dan laki- laki atas barang, peluang, sumber daya, dan penghargaan yang bernilai sosial. Diperlukan pemberdayaan perempuan, dengan fokus pada mengidentifikasi dan memperbaiki ketidakseimbangan kekuasaan dan memberi perempuan lebih banyak otonomi untuk mengelola kehidupan mereka sendiri. Bukan berarti perempuan dan laki- laki sama, hanya saja akses peluang dan perubahan hidup tidak bergantung pada, atau dibatasi oleh jenis kelamin mereka. 

Kesetaraan gender dimana perempuan dan laki- laki ini menikmati kesempatan, hak dan kewajiban yang sama dalam bidang kehidupan. Kesetaraan ini menunjukkan kemampuan masing- masing gender dalam distribusi kekuasaan dan pengaruh, memiliki kesempatan untuk mencapai kemandirian finansial melalui pekerjaan atau pendirian usaha, mencapai pendidikan setinggi-tingginya dengan akses yang sama, lebih tepatnya bebas dari paksaan, intimidasi, dan kekerasan yang timbul berbasis gender dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan kerja. Oleh karena itu sangatlah penting kesetaraan gender dalam pembangunan yaitu untuk mewujudkan hak asasi manusia bagi semua orang. Salah satu tujuan pendidikan pembangunan berkelanjutan, yaitu dengan focus utamanya pada jaminan perlindungan terhadap hak perempuan dan anak secara global serta dukungan terhadap pembangunan perempuan yang mampu berdaya saing secara unggul dan setara dengan laki-laki.

Namun dalam pembangunan, peran perempuan seringkali diragukan karena dianggap tidak layak dan tidak mampu. Perempuan dijadikan sebagai objek sasaran yang tidak menguntungkan bagi kemajuan dirinya. Padahal jika menggunakan keseimbangan peran dan manfaat bagi perempuan dan laki- laki, pelaksanaan program akan selalu menunjukkan bentuk kesetaraan, keadilan, demokratis dan transparasi yang dapat meningkatkan akuntabilitas kinerja pemerintahan.

Beda dengan laki- laki. Anak laki- laki dipandang lebih baik dan membanggakan dibandingkan anak perempuan. Di sini anak laki- laki diberi kesempatan untuk bersekolah dan mengenyam pendidikan setinggi- tingginya daripada perempuan. Ada yang bilang jika menyekolahkan anak perempuan itu investasi yang sia- sia. Faktor sosial budaya dan keluarga itu cenderung menggunakan tenaga perempuan untuk membantu mengurus urusan rumah tangga yang menyebabkan rendahnya kinerja akademik bahkan sampai putus sekolah. Selain itu juga rendahnya pendidikan dan pengetahuan ibu tentang gizi dan kesehatan mempenharuhi pada tingkat kesehatan anak, tingginya anak kematian ibu dan bayi disamping sebabkan pula oleh kemiskinan. Perempuan masih saja dianggap sebagai manusia kelas dua oleh para masyarakat. 

Hal diatas disebut ketimpangan gender dalam pembangunan. Ketimpangan gender dalam pembangunan merupakan proses peminggiran akibat perbedaan jenis kelamin yang mengakibatkan kemiskinan. Banyak sekali fakta yang membuktikan peminggiran bagi perempuan, seperti perempuan bekerja dianggap untuk mencari nafkah tambahan, tidak mendapat posisi kerja yang strategis, dan upah yang diberi pun lebih rendah daripada laki- laki karena dianggap oleh mereka para perempuan pantas mendapatkannya. Tidak heran jika pekerjaan yang dilakukan perempuan tidak jauh dari perawat, pekerja rumah tangga, buruh pabrik, dan sebagainya. Dalam sebuah pabrik, rentan sekali terkena PHK bagi seorang perempuan. Karena faktor tadi itu, dianggap sebagai pencari nafkah tambahan, pekerja sambilan. Faktor reproduksi seperti menstruasi, hamil, melahirkan serta menyusui dianggap menghambat produktivitas suatu pabrik atau perusahaan. 

Dalam politik pun seperti itu juga, strukturnya masih menempatkan perempuan sebagai strata kedua setelah laki-laki. Relasi timpang ini sering kali membatasi peluang perempuan untuk mencapai posisi strategis dalam politik. Perlu adanya perempuan pada posisi pengambilan keputusan strategi agar kebijakan dan arah program pembangunan memihak kepada perempuan. Karena penentu kebijakan, arah dan program pembangunan diputuskan oleh pemerintah.

Mencari Solusi Ketimpangan Gender di Indonesia 

Untuk mencegah terjadinya ketimpangan pada generasi Indonesia yaitu dengan:

1. Program Pembangunan Ekonomi 

Program ini memperdayakan kaum perempuan melalui keterampilan, cara pengembangan usaha kecil, dan akses ke modal dengan tujuan untuk mencegah ketimpangan gender.

2. Penghapusan Pernikahan Anak 

Sangat diharapkan penghapusan untuk praktik ini karena sangat berdampak negatif bagi anak apalagi konsekuensinya. Dapat dilakukan dengan mengedukasi masyarakat tentang konsekuensi pernikahan dini .

3. Pendidikan Seksual

Pendidikan ini memberikan informasi tentang hak- hak reproduksi, perlindungan diri, dan cara melaporkan kekerasan seksual, adalah langkah penting dalam mengatasi ketimpangan gender.

Disini saya akan memberi contoh suatu penerapan kesetaraan gender yang sering terjadi yaitu pada lingkungan keluarga dan lingkungan kerja.

Contoh pertama yaitu penerapan kesetaraan gender di lingkungan keluarga 

a. Pembagian peran dalam pengambilan keputusan. 

Suatu pasangan harus saling terbuka satu sama lain, tidak ada yang ditutup- tutupi serta mendengar pendapat masing- masing. Biasanya disini peran suami lebih besar karena ia merupakan kepala keluarga. Jika ada suatu permasalahan dalam rumah tangga, diselesaikan dengan bermusyawarah terlebih dahulu. Namun terkadang perempuan cenderung lebih pasif dan lebih mengikuti apa kata suami. Namun, disini suami jangan langsung mengiyakan, ia harus benar- benar berunding bersama istri sebelum menentukan keputusannya.

b. Pembagian peran dalam pengasuhan anak. 

Pengasuhan anak itu tidak dilakukan orang satu saja, bukan tugas istri saja tetapi juga tugas seorang suami karena anak adalah tanggung jawab keduanya. Disini dapat dibagi tugas untuk merawat sang anak. Hal ini bertujuan suatu pekerjaan rumah tangga tidak dilakukan oleh istri saja melainkan juga suami. Bahasa kerennya sekarang adalah mencegah budaya patriarki. Dengan adanya pembagian peran dalan mengasuh anak dapat membantu meningkatkan hubungan keluarga menjadi lebih harmonis dan saling mendukung. Selain itu, anak merasa sangat disayang oleh orang tuanya karena keduanya terlibat aktif dalam mengasuh sang anak.

c. Peran suami dan istri dalam pengelolaan

keuangan keluarga.

Suami dan istri harus bekerja sama dalam mengelola keuangan keluarga. Pengeluaran terbanyak untuk keperluan rumah itu berasal dari hasil kerja sang suami. Jika sang istri bekerja, itu hanya untuk memenuhi kebutuhan tambahan saja.

Contoh kesetaraan gender dalam lingkungan kerja

a. Memenuhi hak-hak ketenagakerjaan

Hak dasar seorang pegawai adalah cuti. Memberikan cuti kepada perempuan saat hamil, melahirkan maupun menyusui. Begitupun memberi cuti bagi seorang laki- laki saat istri mereka butuh dukungan saat melahirkan dan menjalankan perannya sebagai ayah yang baik. Cuti menstruasi dan keguguran juga sangat penting untuk perempuan.

b. Melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan.

Pada hal ini perempuan seringkali diremehkan bahkan diragukan. Dengan menempatkan perempuan pada serikat pekerjaan, hak dan kewajiban perempuan bisa dijaga dan tidak dilupakan.

c. Memberikan kesempatan jenjang karir yang sama.

Banyak perempuan yang tidak diberi jenjang karir yang sama alasannya harus mengasuh anak, dari hal ini perempuan sangat susah untuk naik staf pada posisi teratas. Pembatasan ini menyia-nyiakan potensi yang dimiliki perempuan, padahal banyak profesi yang membutuhkan seorang perempuan untuk memimpin.

Kesimpulan 

Laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama dalam segala aspek kehidupan, seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan perlindungan dari kekerasan. Pada prinsip kesetaraan gender penting untuk dijunjung tinggi agar terciptanya masyarakat yang adil dan merata bagi semua orang tanpa terkecuali. Kesetaraan gender ini bertujuan untuk menciptakan kesetaraan dan keadilan gender, serta meningkatkan partisipasi aktif perempuan dalam pembangunan dan pengambilan keputusan di masyarakat. Dalam kemitraan gender laki-laki dan perempuan memiliki peran yang sama pentingnya dalam mencapai tujuan bersama.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun