Dunia pendidikan tinggi yang digadang-gadang mampu melahirkan insan terdidik, akhirnya berubah menjadi pribadi yang miskin adab dan rendah akhlak. Dijumpai alumni universitas yang terkena kasus narkoba. Ada profesor, tetapi pelaku koruptor. Ada doktor yang ternyata terlibat L687.
Meskipun tidak bisa dimungkiri, Â ada produk pendidikan yang menorehkan tinta emas, tetapi jumlahnya makin minim, idealismenya tergerus dengan keberpihakannya dengan dunia industri. Materi akhirnya menjadi tuan di dunia pendidikan.
Inilah tata aturan yang diberlakukan di tengah masyarakat hari ini, yaitu aturan yang berdasarkan ideologi sekuler kapitalisme. Ideologi ini menjadikan standar kesuksesan dari teraihnya materi sebanyak mungkin.Â
Halal danharam sudah tidak menjadi landasan perbuatan. Kapitalisme sekulerlah sebab utama kerusakan dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari sistem ekonomi, politik, budaya, sosial, hingga pendidikan.
Tata kelola Pendidikan Dalam Perspektif Islam
Pendidikan memiliki posisi yang amat urgen bagi masyarakat. Pendidikan memastikan pemikiran dan pengetahuan (tsaqafah) Islam tetap terjaga di tengah kaum muslim dari generasi ke generasi.Â
Tsaqafah Islam merupakan kekayaan yang menjadi sumber tegaknya peradaban Islam.
Hakekat pendidikan merupakan  proses manusia menuju kesempurnaan yang Allah ridai. Sosok Rasulullah Muhammad saw. menjadi role model (teladan) peserta didik yang mesti menjalankan fungsi sebagai hamba Allah sekaligus  penjaga bumi dari kerusakan. (al-khalifah fil 'ardh).Â
Keberadaan role model ini menjadi ciri pembeda pendidikan Islam dengan yang lain. Oleh karena itu, akidah Islam menjadi dasar pemikiran pendidikan Islam dan metodologi penerapannya.
Fikrah Islam ini tidak bisa dilepaskan dari metodologi penerapannya,  yaitu oleh institusi negara, bukan sebatas individu atau jamaah. Pendidikan  merupakan bagian dari sebuah sistem yang lebih besar, yaitu sistem Islam. Negara berkewajiban  menetapkan kebijakan  dan menjamin pelaksanaannya.
Rasulullah saw. bersabda, "Seorang imam (khalifah) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya." (HR Bukhari dan Muslim).