Mohon tunggu...
rokhman
rokhman Mohon Tunggu... Freelancer - Kulo Nderek Mawon, Gusti

Olahraga

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Jens Raven dan Gabriel Batistuta

24 Juli 2024   06:09 Diperbarui: 24 Juli 2024   06:35 323
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Jens Raven (9). (Kompas.com/suci rahayu)

Melihat penyerang timnas Indonesia U19 Jens Raven bermain, seperti melihat mantan penyerang timnas Argentina Gabriel Batistuta. Tentu saja dengan level berbeda.

Gabriel Batistuta adalah penyerang timnas Argentina di tahun 90-an dan awal 2000-an. Dia pernah main di Fiorentina, AS Roma, dan Inter Milan.

Gaya main Batistuta adalah sosok nomor 9 murni. Kelebihan paling menonjol darinya adalah mencetak gol. Dia bisa dikatakan mampu mencetak gol dengan semua anggota tubuhnya. Kalau tak salah, semasa di Fiorentina dia pernah mencetak gol dengan punggungnya.

Dia adalah pencetak gol atau pembunuh yang jujur dan mematikan. Jujur karena jarang terlihat Batistuta menipu kiper. Dia hanya menendang bola ke satu titik sekeras-kerasnya.

Aksi membunuh dengan menendang sekeras-kerasnya pernah dia lakukan saat membela Argentina melawan Jamaika di Piala Dunia 1998. Gol ketiganya melalui penalti adalah contoh bahwa dia menendang sekeras-kerasnya.

Karena tendangan keras itulah maka dia mematikan. Jarang melihat atau malah tak pernah terlihat Batistuta mencetak gol diawali dengan meliuk-liuk melewati beberapa pemain. Sebab memang bukan itu keahliannya.

Jarang melihat Batistuta mencetak gol berawal dengan umpan kombinasi satu dua dengan kawannya. Ya karena memang bukan itu kelebihannya.

Di luar kotak penalti, ketika mencoba membawa bola, maka kemungkinan tak berhasil. Ya karena memang bukan itu kelebihan Batistuta. Keistimewaannya adalah membunuh tanpa belas kasihan.

Karena pembunuh istimewa, maka Batistuta butuh pembuka ruang dan pelayan. Pembuka ruang adalah striker tandem dan pelayan adalah gelandang atau pemain nomor 10.

Di Fiorentina, pembuka ruang atau striker tandem bagi Batistuta adalah Francesco Baiano dan kemudian Luis Oliveira. Mereka adalah sosok yang memang membuka ruang bagi Batistuta. Adapun sosok pelayan bagi Batistuta, yang jadi pengumpannya adalah Rui Costa.

Semasa di AS Roma, pembuka ruangnya adalah Marco Delvecchio dan pelayannya adalah Francesco Totti.

Semasa di timnas Argentina, pembuka ruang baginya adalah Claudio Lopez. Nah, pelayannya tak terlalu jelas. Kadang Juan Veron dan kadang Ariel Ortega. Semasa Piala Dunia 1994, pelayan Batistuta adalah Maradona.

Maka, striker nomor 9 sejenis Batistuta tak akan bisa jika jadi penyerang tunggal. Sebab dia tak memiliki kemampuan untuk gocek sana sini. Batistuta butuh tandem di depan untuk membantu membuka ruang.

Contoh lain nomor 9 murni yanh butuh tandem adalah Alan Shearer. Di timnas Inggris, dia selalu punya tandem. Di Euro 1996 tandemnya adalah Teddy Sherringham.

Lihatlah Raven

Gaya bermain Raven menurut saya tak terlalu istimewa. Dia beberapa kali kehilangan bola. Umpannya pada kawan terlalu kencang. Sebagai nomor 9 murni, dia memang lebih rajin ngepres. Dia juga mau turun ke belakang.

Tapi potensi besar Raven adalah seorang pembunuh alias pencetak gol. Dia bisa membunuh dengan lututnya seperti saat lawan Timor Leste. Dia juga mampu membuat gol dengan sentuhan kecil seperti saat lawan Timor Leste.

Raven juga dingin dalam mencetak gol seperti saat lawan Filipina. Dia adalah tipikal pemain satu sentuhan. Entah sentuhan mencetak gol atau sentuhan assist.

Jadi, Raven memiliki potensi insting membunuh yang luar biasa. Karena potensi membunuhnya luar biasa (seperti Batistuta), maka dia butuh pembuka ruang di kotak penalti dan pelayan.

Maka Raven menurut saya akan kerepotan jika menjadi penyerang tunggal. Dia kesulitan jika tak ada tandem. Sebab tak ada teman yang bisa membuka ruang buatnya.

Tapi ketika ada tandem, maka keistimewaannya bisa muncul. Tengok saja ketika ada tandem di depan yakni M Ragil, Raven mampu mencetak dua gol.

Suka tak suka, adanya dua penyerang akan membuat bek lawan terpecah konsentrasinya. Pecah konsentrasi itu yang membuat Raven memiliki ruang.

Raven juga punya pelayan dalam diri Kafiatur. Kafiatur adalah pelayan istimewa.

Jadi memang Raven sepertinya memiliki potensi insting membunuh istimewa. Maka sepertinya dia butuh tandem dan pelayan. Akan sulit jika dia jadi striker tunggal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun