Mohon tunggu...
rokhman
rokhman Mohon Tunggu... Freelancer - Kulo Nderek Mawon, Gusti

Olahraga

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Cerita Kehilangan Perhiasan dan "Orang Pintar"

6 April 2022   14:49 Diperbarui: 6 April 2022   14:51 505
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi. foto: thinkstock.com

Cerita tentang pawang hujan di Mandalika beberapa waktu lalu membuat saya ingat tentang cara-cara nonilmiah. Ini adalah kisah tahun 90-an tentang pencurian perhiasan dan memakai dukun atau kadang disebut orang pintar. Kisah ini bukan hal ilmiah. Jadi jangan dilihat dari sudut pandang ilmiah. Ngga akan ketemu!

Sebelum cerita soal dukun yang tidak ilmiah, saya akan mengawali tulisan tentang cara ilmiah. Cara ilmiah menurut Pak Sugiyono dalam bukunya tentang penelitian, ada tiga. Ada tiga cara dikatakan ilmiah yakni rasional, empiris, dan sistematis.

Rasional artinya masuk akal. Empiris artinya bisa diterima pancaindera dan laku empiris ini bisa dipelajari secara ilmiah dan dilakukan oleh orang lain. Sistematis adalah menggunakan langkah-langkah yang logis. Sudah sampai itu saja.

Saya akan cerita tentang kisah nonilmiah terkait pencurian. Ceritanya, rumah saudara saya kemalingan. Eternit rumah jebol dan ada kayu yang disandarkan ke eternit. Perhiasan yang nilainya jutaan rupiah raib. Kemungkinan pencurinya adalah orang yang sudah paham dengan situasi rumah tersebut.

Pencurian itu membuat geger di pagi hari. Saya yang saat itu masih SMP atau SMA pun ikut melihat TKP selepas pencurian. Rasa sedih terlihat dari saudara saya tersebut. Setelah pagi geger, pada sore hari saudara saya ini bersama beberapa tetangga memutuskan mendatangi dukun.

Rumah dukun ini sangat jauh. Jika naik kendaraan bermotor bisa memakan waktu sampai 4 jam. Jadi, sampai tempat dukun itu sudah larut malam. Salah satu orang yang ikut menemani korban ke dukun itu bercerita pada saya.

"Jadi, ada toples yang berisi air, kemudian ada ritual. Lalu, dari toples itu muncul wajah orang yang diduga mencuri. Aku lihat jelas wajah itu. Tapi aku meraba-raba itu wajah siapa," katanya padaku.

"Nah, setelah muncul wajah itu. Dia (si korban) menyebut satu nama. Lalu, dia (si korban) meminta pada orang pintar itu agar si pencuri mengembalikan semua perhiasannya," cerita orang itu padaku.

Si pencuri tersebut menurut korban adalah masih saudaranya sendiri. Selang beberapa hari, perhiasan yang dicuri itu tiba-tiba ada di ruang tengah rumah dan berserakan. Jadi, orang yang mencuri mengembalikan perhiasan tersebut secara diam-diam. Katanya karena merasa ketakutan.

Aku lupa istilahnya apa. Tapi ada ritual untuk membuat si pencuri mengembalikan barang yang dia curi ke si pemilik. Di dunia perdukunan, cara seperti ini sudah familiar.

Konon, si dukun yang didatangi oleh saudara saya itu memang terkenal paten. Banyak pasien yang berhasil mendapatkan kembali barang penting yang hilang.

Dua tahun lalu, aku kembali bertemu dengan orang yang pernah ikut ke dukun di tahun 90-an itu. "Setelah kejadian itu, beberapa tahun kemudian ada orang yang kehilangan dan ingin ke dukun itu. Ya akhirnya aku tunjukkan petanya dan rumahnya. Tapi katanya dukunnya sudah tidak beroperasi lagi. Kemampuan untuk mengembalikan barang curian sudah tidak ada, alias luntur," katanya padaku.

***

Saya hanya ingin mengatakan bahwa fenomena nonilmiah itu ada di sekitar kita. Jadi, jangan dibilang tidak ada.

Jika fenomena nonilmiah berhasil, ya mungkin saja. Cuma keberhasilan dengan cara nonilmiah tidak bisa ditelaah secara ilmiah.

Sehebat apapun cara nonilmiah itu berhasil, ya jangan diklaim sebagai cara ilmiah. Sejuta orang memberi testimoni bahwa cara nonilmiah itu berhasil, bukan berarti cara nonilmiah itu langsung berubah menjadi cara ilmiah.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun