Mohon tunggu...
rokhman
rokhman Mohon Tunggu... Freelancer - Kulo Nderek Mawon, Gusti

Olahraga

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Panik Saat Pergoki Maling, Ini yang Terjadi...

26 Juni 2020   10:19 Diperbarui: 26 Juni 2020   10:40 105
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

foto hanya ilustrasi. kompas.com

Ini adalah kejadian nyata pada kisaran lima tahun lalu. Di kampungku ada maling yang berhasil dipergoki. Tapi, karena kepanikan melanda kami, maling pun bisa kabur.

Insiden usaha pencurian terjadi pada pukul 10.00 WIB. Di pagi itu, sebagian besar lelaki di kampungku memang bekerja. Ada yang di sawah, ada yang di kantor. Jadi kebanyakan yang ada adalah ibu-ibu dan anak-anak. Aku kebetulan saat itu sering kerja malam hari. Jadi, ketika pagi hari aku ada di rumah.

Saat pagi itu ada dua orang yang berboncengan menaiki sepeda motor. Mereka memakai helm. Di rumah yang ada di pojok kampung, dua pencuri itu beroperasi. Salah satunya membawa linggis ingin mencongkel pintu rumah yang dikunci. 

Pintu memang dikunci sekalipun di dalam ada penghuninya. Maklum di pojok kampung kami memang rawan. Nah, saat pencuri berusaha mencongkel pintu terjadi, dari dalam rumah ibu si empunya rumah berteriak.

Ternyata teriakan itu membuat dua calon pencuri panik dan kabur. Tak hanya itu, warga pun mulai belingsatan keluar rumah. Adegan pencuri kabur dan warga yang keluar rumah itu berlangsung sangat cepat. Tapi aku coba tuliskan dan Anda bisa membayangkan dengan adegan lambat.

Dua pencuri kabur dengan sepeda motor berboncengan. Saat di tikungan, mereka melambat. Ada lelaki (sebut saja Parto) yang bukan warga kami ada di kampung kami dan sedang bertransaksi sebagai penjual jasa. Parto mencoba menghentikan motor pencuri itu. Namun, salah satu pencuri mengarahkan linggis ke arah tubuh Parto.

Parto memilih mundur. Lima meter setelah Parto vs Pencuri, ada ibu-ibu yang teriak "maling" di pinggir jalan. Ada juga satu lelaki, sebut saja Pak Gogo juga persis di tepi jalan.

Pak Gogo ini membawa bambu yang panjangnya 4 meter dengan ujung diberi pisau tajam. Alat itu digunakan untuk mengambil pisang.

Pak Gogo terlihat ikut panik dan teriak "maling" dengan suara yang berat dan keras. Aksi Pak Bowo inilah yang kemudian diprotes ibu-ibu setelah maling berhasil kabur. "Pak, kenapa bambu panjangnya tadi tidak disilangkan ke jalan supaya motor malingnya jatuh," kata seorang ibu. Dengan polosnya, Pak Bowo menjawab. "Ooo iya ya..."   

Kembali lagi ke adegan tadi. Jadi, setelah ibu-ibu teriak itu, dua pencuri bisa tetap ngegas motornya. Aku keluar rumah hanya memakai celana kolor. Tak memakai baju atau kaus alias telanjang dada. Dalam pikiran aku mau ambil pasir dan membuangkannya di depan pencuri dengan harapan pasirnya masuk ke mata dan mengganggu pandangan mereka, khususnya si pengemudi.

Tapi, laju motor pencuri makin cepat dan pasir yang aku ambil sia-sia. Sepersekian detik kemudian, ketika pencuri berjarak 15 meter dari kami, ada tetangga kami yang datang dari keliling jualan. Tetangga kami ini memakai kendaraan roda dua. Dia berhenti dan bingung karena ramai sekali. Mesin motornya dimatikan.

Kemudian, seorang ibu teriak. "Pak itu malingnya, kejar pakai motor pak," kata seorang ibu pada tetangga kami yang baru keliling jualan itu. Apesnya, ketika motornya mau disetater atau dinyalakan, tak bisa. Sampai berkali-kali tak bisa. Maklum motor tua. Motornya malah mogok. "Walaaahhh," kata tetangga kami itu yang akhirnya gagal mengejar motor pencuri.

Jadi, tak ada yang mengejar pencuri itu. Dalam hati aku ikut kecewa karena malingnya bisa kabur. Tapi, aku juga terpingkal-pingkal. Sebab, ada yang bawa bambu tapi tak menggunakannya untuk menghentikan motor pencuri. Ada juga yang sudah siap mengejar, tapi motornya mogok.

Pencurian memang gagal terjadi. Tapi pelajarannya adalah jangan mudah panik. Tidak mudah panik bukan berarti  tak bisa bergerak cepat. Jadi, berpikir cepat dan jangan panik. 

Kami juga tak bisa mendeteksi motor pencuri itu dengan baik karena saking paniknya. Kami juga tak tahu berapa nomor polisi kendaraan si maling tersebut. Jangan sampai pengalaman di kampungku ini terjadi pada tempat Anda. (*)

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun