Hmmmm...Hmmmm...Hmmmmmm
Hahhahahaaa saya selalu ngakak kalau seorang penceramah di depan saya mulai mengucapkan suatu frasa, sedang berdehem atau menahan tawa seperti itu. Suara ini adalah suara milik KH Zainur Rozikin, seorang penceramah terkenal yang berasal dari Kota Malang.
Betapa tidak, sejak kecil, mulai TK kalau tak salah, suara beliau selalu menyapa saya dan keluarga setiap sore pada sebuah siaran radio lokal. Kala ada kegiatan pengajian di kampung, beliau kembali hadir menyapa warga kampung saya. Saat saya sekolah, lah beliau lagi yang hadir dalam ceramah pondok Ramadan. Ketika saya kuliah dan mengikuti kajian di masjid kampus, lah ada beliau lagi. Puncaknya, saat saya salat idul Fitri di sebuah tempat yang menyediakan sajadah gratis, beliau pun lagi-lagi hadir sebagai imam sekaligus khatib di tempat tersebut.
Pokoknya, kalau menyebut kata pendakwah, di otak saya yang muncul adalah nama beliau. Jika membicarakan bagaimana saya mencoba (berusaha) menjadi lebih baik dari ceramah yang diberikan oleh seorang mubaligh, maka KH Zainur Rozikin adalah sosok yang tak bisa lepas.
Hmmmmm....Hmmmmm.....Hmmmmmmm......
KH Zainur Rozikin Tak Lepas dari Warga Malang
KH Zainur Rozikin memang tak bisa lepas dari kebudayaan dan warga Kota Malang. Berbicara sisi religious masyarakat Malang ya di situ ada peran KH Zainur Rozikin. Sepertinya tidak ada orang Malang yang tidak kenal dengan sosok beliau karena kemunculan beliau yang hampir berada di segala lini pengajian di kota ini.
Bukan mengecilkan peran pendakwah lain, tetapi mau tak mau beliau dan masyarakat Malang seakan sudah menyatu. Ketika masyarakat Malang butuh oase dari pendakwah yang bisa merasuk di hati dan sanubari agar lebih baik lagi, maka KH Zaunur Rozikin adalah sosok yang mampu menembus hati insan-insan yang susah untuk diceramahi. Salah satunya ya saya sendiri.
Jujur, saya itu tipe orang yang malas diceramahi oleh orang lain karena mungkin punya persepsi kuat akan sesuatu. Untungnya, KH Zainur Rozikin adalah sosok yang mampu menembus benteng hati saya agar saya mau menyerap apa yang beliau utarakan dan mengubah perliaku dan pikiran saya lebih baik.