Saya kembali berkaca pada diri, sudahkah diri saya mampu untuk melakukan apa yang diharapkan dari hasil networking saya? Apakah orang di sekitar saya happy dengan keberadaan saya dan puas dengan apa yang saya lakukan?Â
Lho kok jadi berpikiran yang tidak-tidak?Â
Begini, networking yang saya bangun terutama untuk menunjang kerja, harus bebarengan dengan kemampuan saya untuk melakukan pekerjaan yang timbul dari networking tersebut. Meski pekerjaan itu tak melulu mendapatkan uang, tetapi saya tetap melihat situasi, kondisi, dan kemampuan saya.Â
Intinya, saya tak ingin mempertaruhkan nama saya demi menjalin networking semata.
Ketika saya membangun networking, saya harus memiliki komitmen yang tinggi untuk menjaga networking tersebut.Â
Jangan sampai karena saya ingin mencari sebuah networking yang lebih besar maka saya menyepelekan networking yang lebih kecil yang sudah saya bangun sebelumnya. Jangan sampai karena ingin ikut Miss Universe tapi saya malah enggak ikut Pemilihan Puteri Indonesia.
Eh enggak nyambung plis.Â
Tapi paham kan maksud saya? Pemikiran ini saya utarakan karena saya sering sekali menemui orang yang terlalu mementingkan networking tetapi tidak mengasah skillnya sendiri.Â
Parahnya, orang tersebut juga kadang tidak komitmen terhadap pekerjaan dan tanggung jawab dari hasil networking tersebut.Â
Saya kerap menjumpai orang yang sudah diberi tanggung jawab dari hasil networkingnya tetapi malah tidak melaksanakannya dengan baik dengan alasan sedang menjalankan kegiatan networkingnya yang lain.Â
Apakah ini ada?Â
Banyak saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air.Â