Bitcoin (BTC) mengalami penurunan tajam, jatuh lebih dari 6,5% hingga berada di bawah $98.000 pada Senin (27/1) pagi waktu Eropa. Penurunan ini terjadi saat para pedagang mengambil keuntungan setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan perintah eksekutif yang menyebut industri aset digital sebagai pendorong utama inovasi di Amerika Serikat.
Dilansir dari Forbes, tidak hanya Bitcoin, token lain seperti Solana (SOL) dan XRP yang sebelumnya melonjak sejak kemenangan Trump juga ikut terkoreksi, masing-masing turun sekitar 11% dan 14%. Ether (ETH), token terbesar kedua, sempat turun lebih dari 8%.
Pasar tampaknya bereaksi terhadap keputusan Trump yang berhenti di tengah jalan dan tidak mengonfirmasi pembentukan cadangan Bitcoin nasional, sesuatu yang sempat dijanjikan selama kampanye.
Dalam perintah eksekutif yang diumumkan pada Jumat lalu, Trump memerintahkan pembentukan kelompok kerja untuk menyusun kerangka regulasi aset digital dalam waktu enam bulan.
Kelompok ini juga ditugaskan mengevaluasi kemungkinan penyimpanan cadangan kripto sebagai bagian dari kebijakan ekonomi AS. Meski dianggap sebagai langkah maju, absennya rencana konkret tentang pembelian Bitcoin secara langsung mengecewakan sebagian investor.
Sean McNulty, kepala derivatif di FalconX, menyebut respons pasar ini wajar. Menurutnya, meski sebagian besar harapan pasar sudah terakomodasi, "tanpa pengumuman pembelian langsung cadangan Bitcoin, pasar pasti akan kecewa."
Sejak kemenangan Trump pada awal November, harga Bitcoin sebenarnya telah naik lebih dari 50%. Perubahan sikap Trump terhadap kripto, dari yang awalnya skeptis hingga kini mendukung penuh, tak lepas dari besarnya pengaruh industri ini dalam kampanyenya. Sumbangan politik dari sektor kripto juga menjadi salah satu faktor yang mendorong perubahan ini.
Trump bahkan menjadikan komitmen untuk memimpin inovasi aset digital sebagai salah satu agenda utamanya. Pada Desember lalu, ia menunjuk David Sacks, seorang kapitalis ventura, sebagai "czar" untuk kecerdasan buatan dan kripto.
Menjelang pelantikannya pada 20 Januari, ia dan Melania meluncurkan memecoin, token yang volatilitasnya tinggi dan sering dipertanyakan nilai intrinsiknya.
Namun, di tengah optimisme yang sempat memuncak, pasar kini seolah mengambil jeda. "Setelah serangkaian kabar positif seperti pengangkatan regulator pro-kripto, pengajuan produk ETF baru, dan perintah eksekutif, pasar mulai menyesuaikan diri," kata Justin d'Anethan dari Liquifi.
Faktor eksternal juga memengaruhi sentimen pasar. Popularitas aplikasi kecerdasan buatan asal Tiongkok, DeepSeek, memicu kekhawatiran besar akan gangguan di dunia teknologi. Ketakutan ini merembet ke pasar global, termasuk aset digital, dan memperburuk tekanan pada harga Bitcoin.
Harga Bitcoin bahkan sempat mendekati level terendah sejak mencetak rekor hampir $110.000 sebelum pelantikan Trump. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan aksi jual besar-besaran di pasar saham.
Meski demikian, diskusi mengenai masa depan Bitcoin terus bergulir. Larry Fink dari BlackRock mengungkapkan bahwa dana kekayaan negara tengah mempertimbangkan pembelian Bitcoin, sementara trader ternama Arthur Hayes memperingatkan potensi krisis keuangan yang dapat memicu langkah stimulus baru dari Federal Reserve (Bank Sentral Amerika Serikat)
Dalam kondisi seperti ini, Bitcoin masih harus menghadapi volatilitas yang tinggi, terutama di tengah ketidakpastian global dan kebijakan yang terus berkembang.
Terlepas dari koreksi tajam yang terjadi, langkah Trump tetap dinantikan, terutama janji-janji besar yang ia lontarkan untuk menjadikan Amerika Serikat sebagai pusat inovasi aset digital dunia. Pasar hanya berharap bahwa kata-katanya akan segera diikuti dengan tindakan nyata.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI