Sudah lama saya ingin memiliki tanaman bunga telang dan baru kesampaian beberapa bulan yang lalu. Ya, seorang teman memberi benih berupa biji bunga telang, hati gembira dong apalagi tinggal menikmati hasilnya secara yang menanam dan memelihara kakak saya, heuheu.
Bunga telang yang berwarna biru ini merupakan bunga edible alias dapat dimakan. Mamak-mamak biasanya memakai bunga telang ini sebagai pewarna makanan dan minuman alami.
Pewarna makanan alami itu banyak sekali ya seperti daun suji, buah naga, kunyit, bayam, sosin, buah bit, ubi ungu, wortel, dan masih banyak lagi.
Bunga telang memberi warna biru keungu-unguan bila diaplikasikan ke olahan makanan atau minuman. Bunga yang juga dikenal dengan nama "Butterfly Pea" ini berasal dari pulau Ternate oleh karena itu nama ilmiahnya Clitoria ternatea.
Bunga telang merupakan tanaman perdu merambat yang dapat hidup selama bertahun-tahun dan memiliki polong yang berbentuk seperti ginjal pipih.
Cara menanam bunga telang sangat sederhana yaitu cukup menyemai bijinya di tanah yang telah bercampur pupuk. Akan lebih bagus bila tanahnya mengandung pasir.
Nah, bunga telang saya, uhuks, merambat kesana-kemari. Bunganya tak berhenti bermekaran sehingga mempercantik pekarangan rumah.
Di balik kecantikan warnanya, bunga ini mempunyai banyak manfaat karena memiliki potensi farmakologi yang mumpuni seperti antioksidan, antibakteri, antihistamin, antiparasit, antidiabetes, anti kanker, anti inflamasi dan analgesik.
Ya, bunga yang sangat mudah ditanam ini dapat digunakan sebagai penurun gula darah, menjaga kesehatan jantung, menjaga kesehatan otak, mencegah kerontokan rambut, mengurangi peradangan, mengurangi resiko hipertensi, mengatasi masalah asma, dan dapat menjadi ramuan penurun berat badan.
Nah, beberapa hari lalu, saya puyeng memikirkan menu sarapan lalu nongkrong sejenak di pekarangan. Melihat bunga telang bermekaran, ide menu sarapan langsung berputar.
Semenjak ditanam, saya belum pernah menggunakan bunga tersebut untuk olahan makanan dan hari itu adalah momennya.
Saya pun langsung memetiki bunga-bunga telang dengan heroiknya, terkumpullah 25 kuntum. Bunga ini akan dijadikan pewarna olahan makanan yang berjudul "Katiri Mandi."
Katiri mandi merupakan olahan percandilan yang berasal dari Mandar, Sulawesi Barat yang berbentuk seperti bubur candil atau bubur biji salak. Namun, tidak seperti biji salak yang rasanya manis, candil katiri mandi memiliki rasa asin sedangkan larutan santan kentalnya rasanya manis.
Katiri mandi juga ada yang menyerupai kolak dengan kuah gula aren. Candilnya terbuat dari tepung ketan. Seperti pada umumnya, beberapa olahan makanan dapat memiliki versi berbeda.
Nah, biasanya saya menggunakan campuran ubi ungu untuk mewarnai candilnya namun kali ini bunga telanglah yang menjadi bintangnya.
Berikut ini adalah resep katiri mandi berbahan tepung tapioka. Biasanya katiri mandi berbahan tepung ketan ya gaes ya.Â
Bila ingin candilnya bertekstur agak empuk maka dapat menggunakan kentang atau ubi yang dikolaborasikan dengan tepung ketan.
Pewarna bunga telang:
25 buah bunga telang
100 ml air
Biji candil:
6 sdm tepung tapioka
2 sdm tepung beras
2 sdm tepung terigu
Secukupnya air
Bubur berupa larutan santan kental:
3 sdm munjung tepung beras
50 gr gula pasir
1 lembar daun pandan
500 ml air
Cara membuatnya:
1. Pewarna bunga telang: satukan bunga telang dan air. Remas-remas sampai air menjadi biru lalu saring.
3. Masak air, gula, dan daun pandan. Larutkan tepung beras dengan sedikit air, masukan ke dalam ke air yang telah mendidih, aduk cepat sampai meletup-letup.
Selain menjadi pewarna dalam olahan makanan, bunga telang pun dapat dijadikan teh.
Teh telang didapat dari mengeringkan bunga telang, namun bunga telang segar pun sebenarnya dapat diseduh menjadi teh. Minuman ini dapat disajikan hangat pun dingin bersama es batu.
Bahan:
10 kuntum bunga telang yang telah dikeringkan.
250 ml air panas
Cara membuatnya:
Seduh bunga telang kering dengan air panas, diamkan sejenak sampai warna birunya keluar lalu saring.
Sodara-sodara, walaupun bunga telang memiliki banyak manfaat, namun disarankan jangan terlalu berlebihan dalam mengkonsumsi bunga ini karena dapat menyebabkan diare.
Sekian.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI