Mohon tunggu...
Ihshan Gumilar
Ihshan Gumilar Mohon Tunggu... -

Researcher & Lecturer (Neuropsychology)

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Cara Melahirkan Teroris yang Bengis: Sebuah Perspektif Psikologi Forensik

3 Desember 2015   17:59 Diperbarui: 3 Desember 2015   18:36 244
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Serangkaian penyerangan yang membabi-buta di paris pada jumat malam, 13 November 2015 , telah menyebarkan rasa takut yang mencekam ke seluruh penjuru eropa. Bak pergerakan virus Ebola yang mematikan banyak warga afrika pada tahun 1976. Akan tetapi merebaknya serangan teroris ini berbeda dengan virus Ebola, dikarenan aksi ini mempertontonkan darah segar hingga diruang konser sekalipun. Hal inilah yang membuat banyak warga eropa merasa selalu diintai oleh "malaikat" pencabut nyawa yang mengatasnamakan Islam.

Terrorisme yang sudah menjadi ancaman global bisa diartikan sebagai sebuah tindakan kekerasan ataupun ancaman yang ditujukan untuk mengganggu pemerintahan atau kelompok tertentu yang didasarkan pada sebuah ideologi. Oleh karena itu, ada pertanyaan yang kerap kali muncul di benak masyarakat awam. Bagaimana seseorang manusia biasa bisa berubah menjadi seorang teroris yang bengis ?

Merari (2007) sebagai seorang peneliti terkemuka dalam bidang psikologi forensik yang menyelami aspek psikologi terorisme dan bom bunuh diri mengungkapkan bahwa ada tiga tahapan utama yang dilalui dalam proses pembentukan seorang teroris.

Pertama, Doktrinisasi. Dikarenakan tindakan terorisme itu dilandasi oleh ideologi tertentu termasuk ideologi politik, maka orang-orang yang direkrutpun harus dibenamkan dalam ideologi yang mendukung tindakan anarkis tersebut. Ideologi adalah sesuatu hal yang esensial dalam membentuk seseorang menjadi teroris. Tanpa ideologi, tidak mungkin para teroris baru bermunculan. Proses doktrinisasi memerlukan waktu, baik mingguan, bulanan, bahkan tahunan. Proses ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kharismatik yang tinggi di sebuah kelompok, seorang pemimpin kelompok contohnya.

Peranan pemimpin amatlah penting karena ia menjadi sosok model dalam proses doktrinisasi. Doktrinisasi sangat erat kaitannya dengan retorika (proses penyampaian ideologi melalu ceramah ataupun kata-kata). Dengan melalui retorika ini orang akan diajak untuk mendefinisikan kembali siapa dirinya. Definisi ini harus terpatri dengan baik di kepala para calon teroris. Definisi yang diberikan biasanya bersifat sangat ekslusif. Dengan sifat ekslusif inilah yang nantinya menjadikan dunia terbagi kepada dua golongan. Orang-orang yang sepaham (satu ideologi) dengan mereka dan orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka. Golongan yang tidak sepaham inilah yang selalu ditanamankan selama proses doktrinisasi bahwa mereka layak dihabisi sekalipun kaum kerabat dan keluarga mereka.

Kedua, komitmen terhadap kelompok. Adanya komitmen terhadap sebuah grup teroris, menjadi sesuatu hal yang amat penting. Tindakan terorisme biasanya dilakukan secara terorganisir. Oleh karena itu, para teroris harus mempunyai komitmen yang besar terhadap kelompok mereka. Komitmen terhadap kelompok diperlukan untuk menurunkan tingkat keragu-raguan yang ada pada diri seorang teroris sekaligus menjadi sebuah bentuk dukungan secara sosial.

Sebagai contoh, jika seorang teroris hendak melakukan penyerangan terhadap orang yang tidak berdosa, mungkin ada sedikit keraguan dalam pikirannya sebelum mengeksekusi. Akan tetapi, dengan adanya komitmen terhadap kelompok bisa menurunkan keraguan tersebut. Hal ini bisa terefleksi dalam bentuk dukungan yang diberikan oleh sesama teroris di dalam grup mereka baik secara moriil maupun materiil. Tahapan ini amatlah penting untuk menjaga konsistensi ideologi yang sudah tertanam sebelumnya.

Ketiga, komitmen yang bersifat personal. Jika seseorang tidak bisa berkomitmen terhadap diri sendiri maka akan sangat sulit untuk melakukan aksi terorisme. Melakukan tindakan terorisme memerlukan komitmen yang stabil di dalam diri sendiri. Untuk tetap menjaga tingkat stabilitas komitmen tersebut, berbagai cara bisa dilakukan, seperti merekam video sendiri ketika mengucapkan sumpah untuk tetap memegang ideologinya, dan juga menulis surat-surat yang nantinya disebarkan kepada para keluarga pelaku tindakan terorisme. Dengan melihat hasil rekaman ataupun tulisan-tulisan mereka sendiri, akan semakin memantapkan ideoligi dan komitmen mereka terhadap diri sendiri untuk tetap melakukan tindakan anarkis yang dilandasi ideologi terorisme.

  Proaktif dan tim yang multidisiplin

Penyuluhan ideologi yang benar perlu dilakukan secara menyeluruh dan komprehensif oleh tim yang terdiri dari latar belakang yang beragam. Bukan hanya dilakukan oleh agamawan tapi juga melibatkan psikolog, sosiolog, penegak hukum, dan anggota masyarakat (tim yang multidisiplin). Bekerja dalam tim dengan latar yang beragam perlu dibiasakan di Indonesia. Kegiatan seperti ini sepatutnya menyentuh beragam elemen mulai dari sekolah-sekolah hingga kelompok-kelompok kecil di masyarakat.

Pemahaman ideologi yang benar akan mampu menekan tindakan terorisme. Banyak dari calon teroris baru yang direkrut adalah remaja yang tengah mencari jati diri dan tidak matang secara ideologi termasuk pemahaman keagamaan. Penyuluhan ideologi berfungsi agar "tidak matang" nya ideologi ini tidak serta-merta dimanfaatkan oleh kaum teroris yang hendak merekrut anggota baru. Secara psikologis orang akan lebih mudah untuk dipengaruhi ketika dalam kondisi tidak stabil.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun