Mohon tunggu...
Mh Firdaus
Mh Firdaus Mohon Tunggu... Wiraswasta - Penulis

Penulis dan Traveler amatir. Menggali pengetahuan dari pengalaman terus membaginya agar bermanfaat bagi banyak khalayak..

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Data GEDSI, Cerminkan Keanekaragaman Indonesia

17 Januari 2023   11:39 Diperbarui: 17 Januari 2023   11:48 741
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Seminar data GEDSI secara on line mendapat apresiasi kementrian/lembaga dan pengamat sosial (dok. prinadi)

Kompleksitas Indonesia tidak cukup digambarkan dengan data kuantitatif melalui survey nasional misalnya. Survey menggambarkan kecenderungan umum dan belum memoret kompleksitas. Gambaran riil lapangan, bahan berharga penyusunan program tepat sasaran.

Data Yang Berkonteks

 Data yang menggambarkan kondisi subyeknya tak berdiri di ruang hampa. Kala subyek data tergali, konteks penyertanya pasti mengiringi. Itu yang terjadi di penggalian data PRA perspektif GEDSI. Keanekaragaman Indonesia melatarbelakangi penggalian, seperti; daerah pegunungan dan pegunungan terpencil, pesisir, wilayah rentan bencana alam dan kehutanan, pulau terpencil, desa adat, desa terpencil dan terluar, dsb. Umumnya akses jalan yang rusak, licin, curam, ancaman binatang buas, perkebunan kelapa sawit, tak berlistrik dan air bersih, perahu terbatas dan jalan tergantung cuaca, potensi banjir, rob, longsor, dsb.

Hasilnya, PRA perspektif GEDSI menemukan jumlah data lebih besar dari sumber dokumen di desa. Contohnya, 399 orang dissabilitas di 9 desa yang belum masuk data resmin, 146 kasus perkawinan anak, 745 kejadian kekerasan terhadap perempuan (termasuk anak Perempuan), dsb. Tak jarang, PRA menemukan kasus tidak terungkap seperti; KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), kemiskinan ekstreem, beban kerja berlebih, tak memiliki identitas hukum, minim akses bantuan social, buta huruf perempuan, dan Kepala Keluarga Perempuan, dsb (sumber; presentasi hasil PRA oleh Institut KAPAL Perempuan, 2022)

Data yang digali bersama seluruh perwakilan masyarakat laksana cermin kisah nyata kehidupannya. Masyarakat penyusun terasa memiliki. Pejabat (pemerintah desa, RT dan RW serta kepala kampung) terupdate situasi anyar dan kondisi nyata lingkungan dan warganya.

Masyarkat aktif menyusun rangking tingkat kesejahteraan warga secara partisipatif (dok. pribadi)
Masyarkat aktif menyusun rangking tingkat kesejahteraan warga secara partisipatif (dok. pribadi)

Penulis merasakan antusiasme warga dalam penggalian, kala terlibat PRA di desa Sesait, Kec. Kayangan, kab. Lombok Utara, 13 -- 15 Juni 2022. PRA difasilitasi LPDSM dan Institut KAPAL Perempuan di Bale Sangkep, bruga berbentuk rumah panggung bambu dengan pelataran indah. 40 orang dari unsur desa hadir terdiri; 14 Kawil (kepala wilayah), guru, petani, bidan desa, pelaku usaha mikro, guru PAUD, buruh tani, eks buruh migran, remaja, lansia dan disabilitas tuna runggu dan tuna wicara. PRA dibuka Ibu Desa dan sekdes hadir sore hari.

Warga memulai PRA dengan mempraktekan alat kaji aktifitas harian untuk mendalami aktivitas istri, suami, anak perempuan, anak laki-laki di keluarga. Di sini, masyarakat mampu membedakan kegiatan produktif dan reproduktif, dan pembagian peran suami, istri, anak perempuan, anak laki-laki di keluarga. Aktivitas harian menggambarkan kegiatan 24 jam anggota keluarga yang menunjukan beban masing-masingnya. Tingkat keadilan beban kerja setiap anggota keluarga terpotret jelas.

Informasi ini bahan masyarakat menggambar peta desa, rangking sosial ekonomi, serta memasukannya di tabulasi data. Data yang memerlukan pendalaman dilakukan dalam wawancara dan FGD (diskusi terfokus). Kini, desa pun memiliki data riil warganya yang disusun partisipatif.

"Pendataan PRA ini luar biasa. Semua unsur dilibatkan. Manfaatnya menghasilkan data pilah gender secara detail, data dissabilitas dan kelompok marjinal beserta kerentanan yang selama ini belum ada. Sebagian tak beridentitas hokum. Masyarakat tak memiliki identitas hukum berdampak ke penerimaan bansos. Ini bahan advokasi kami ke dinas terkait. Data akan kami gunakan sebagai perencanaan desa", ungkap Pak Munirep, kepala desa Lenek Kalibambang, kab. Lombok Timur, menanganggapi presentasi data PRA di seminar.

Kontribusi Data GEDSI Bagi Pendataan Nasional 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun