Mohon tunggu...
Ida Hutasoit
Ida Hutasoit Mohon Tunggu... Penulis - Penulis. Editor

Menulislah dengan hati. Menulislah karena cinta. Niscaya tulisanmu berguna.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Putus Cinta = Baper? Gak Level!

24 Maret 2017   16:02 Diperbarui: 25 Maret 2017   18:00 323
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Putus cinta kadang menimbulkan perasaan buruk dan situasi yang sulit. Entah sebagai orang yang memutuskan hubungan atau dicampakkan, akan ada penderitaan dan luka seiring harapan yang pupus, perasaan gagal dan sakit hati terkait perpisahan yang menyakitkan. Mungkin kita telah menghabiskan banyak waktu, uang, energi dan tahun untuk mencintai seseorang, tetapi malah berakhir dengan kata putus. Kabar baiknya, Tuhan benar-benar tahu dan punya rencana terhadap “rasa sakit” kita, dan akan membimbing kita untuk mendapat pasangan yang tepat jika kita mengizinkannya.

Kuncinya, belajarlah melihat segala yang peristiwa melalui mata Tuhan. Memahami bahwa Ia menginginkan yang terbaik buat kita, termasuk pasangan yang akan mencintai kita sepenuh hati dan menganggap bahwa memiliki kita adalah sebuah anugerah (ohhh so sweet….). Yup, putus cinta memang menyebalkan dan kita terluka untuk sementara waktu. Namun  beberapa kebenaran ini kiranya bisa menolong meringankan rasa sakit yang kita alami dan mempercepat proses penyembuhannya!

Tuhan menyediakan seseorang yang jauh lebih baik

Apa pun alasan yang membuat kamu dan pasangan putus, itu artinya dia bukanlah orang yang tepat, dan Tuhan punya seorang yang lebih layak untukmu. Okay, kita memang anak-anak Tuhan yang berharga tetapi kita semua juga punya banyak kelemahan, dan karena itu kadang kita perlu melakukan satu atau dua kali putaran (baca: pencarian) untuk menemukan yang terbaik dariNya.

“Seseorang yang terbaik” versi dunia mungkin berarti menemukan pasangan yang lebih baik secara penampilan, keuangan, status sosial dan lainnya. Tapi yang terbaik bagi kita di dalam Tuhan berarti menemukan seseorang yang mengerti, mencintai, melindungi dan menghargai perasaan kita. Sesederhana itu. Jadi, jika bukan itu yang terjadi dalam hubunganmu, dan kamu memutuskan untuk berpisah, maka yakinlah bahwa Tuhan punya seseorang yang lebih baik untukmu.

Saat seseorang meninggalkanmu, itu pertanda bahwa dia tak sepenuhnya mencintai dan menghargai siapa kamu seutuhnya. Ini memang kebenaran yang menyakitkan, tapi apakah kamu benar-benar mau bersama seseorang yang tidak setia dan mencintai kamu 100 persen? Pikirkan itu baik-baik! Sayangnya, banyak orang yang menikah atau tinggal dalam satu hubungan demi alasan yang keliru. Ujung-ujungnya, hubungan berakhir dengan ketidakbahagiaan dan kepahitan. Menjadi seorang lajang memang ada tantangannya, tapi kalau kita beriman dan percaya bahwa Tuhan bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi yang mengasihiNya, kesendirian kita hanyalah bersifat sementara.

Fokus pada apa yang berharga

Ada jutaan pasangan potensial di luar sana. Apakah kita mau tinggal dalam kekurangan daripada memiliki hubungan yang luar biasa demi kenyamanan, rasa takut, kesepian atau ribuan alasan lain yang membuat orang tinggal dalam hubungan yang biasa-biasa saja? Tentu tidak! Tuhan melihat setiap kita sebagai anak-anakNya yang berharga. Ia menginginkan kehidupan yang melimpah, penuh kebaikan dan sukacita buat kita. Sewaktu kita mengalami sakit hati, sebenarnya itu bisa mambantu kita untuk fokus pada bagaimana Tuhan melihat dan memahami kita. Tuhan tidak peduli dengan uang kita di bank, ukuran baju, jumlah follower IG yang kita punya, atau kedinamisan kepribadian kita. Kita adalah sebagaimana Dia menciptakan kita, dan tidak ada hal yang lebih indah dibanding menemukan orang percaya lainnya melihat kita di dalam ‘cahaya’ ini.

Kita bisa membayangkan Tuhan berbisik, “Bukankah dia mengagumkan?” ketika kita merasa jatuh cinta pada orang yang tepat. Maka itu, bersabarlah menanti seseorang yang membuat jantungmu berdegup. Nantikanlah dia! Kita semua punya kesalahan, kelemahan dan kekurangan tetapi kita semua berproses menuju kesempurnaan. Camkan, setiap kita berhak mendapatkan pasangan yang menganggap menemukan diri kita adalah anugerah. 

Analisa apa yang salah

Ini bukan berarti mengingatkan kita kembali pada setiap pertengkaran dan keputusan buruk yang kita jalani dalam hubungan sebelumnya, lalu kita menyesalinya dan merasa bersalah. Tetapi kita akan menemukan manfaat dari menganalisa kembali kesalahan yang mungkin kita lakukan, atau batas-batas apa yang sudah kita langgar, atau perilaku-perilaku menyakitkan apa yang sudah kita tolerir. Langkah berikutnya, berjanjilah pada diri sendiri untuk tidak mengulang atau melanjutkan pola tersebut di waktu mendatang. 

Cobalah temukan, apakah kamu sudah membuat kompromi-kompromi atau bersikap di luar kepribadianmu demi menghindari tampil kurang sempurna dalam satu hubungan? Apakah kamu cenderung berkencan dengan seseorang yang kurang beriman atau bahkan tidak beriman sama sekali? Itu dia mungkin masalah besarnya! Berdoalah Tuhan mengubah keinginanmu di masa depan dan menolak untuk jatuh dalam dosa yang sama atau pola pikir yang salah. Tuhan selalu memberi kita kesempatan kedua, dan tidak pernah ada kata terlambat untuk mengubah kebiasaan atau pola buruk dalam kehidupan kencan masa lalumu.

Gambarkan seseorang yang kamu inginkan

Ini kedengarannya seperti kanak-kanak, tetapi serius, buatlah daftar! Ketika kamu bangkit dari putus cinta dan ingin memulai hubungan yang baru, hal ini akan sangat membantu kamu untuk mengindentifikasi kualitas-kualitas apa yang benar-benar penting buatmu. Cobalah untuk tidak terlalu fokus pada yang bersifat fisik. Dalam menemukan pasangan terbaik, konten atau karakter seharusnya lebih diutamakan. Contoh, apakah dia seorang yang rendah hati dan baik. Talenta apa yang ia punya? Bermusik, bernyanyi, dll. Taruhlah kriteria atau ciri-ciri yang kamu cari di nomor pertama, kedua dan ketiga pada daftarmu. Ketika kita benar-benar tahu apa yang kita cari dan inginkan, itu akan menghindarkan kita dari hubungan yang ‘kurang’ atau bahkan mengenal orang yang salah di masa depan.   

Fokus pada apa yang kamu sukai

Ketika kamu menderita dari hari ke hari melewati masa kelabu pasca perpisahan, nasihat terbaik adalah… keep busy! Apa kegiatan atau hobi yang kamu sukai, dimana mungkin selama ini kamu abaikan karena waktumu banyak habis untuk hubunganmu? Cobalah pertimbangkan untuk terlibat dalam pelayanan, atau ikut sebagai sukarelawan dalam acara amal bersama seorang teman, atau bergabung dengan tim doa di gereja. Hang out dengan teman-teman. Atau bahkan, manjakanlah sedikit diri sendiri selama masa sulit. Dikelilingi orang-orang yang berpikiran sama dan melakukan hal-hal yang kamu sukai adalah kunci untuk memulai pemulihan dan mengurangi kesempatanmu untuk larut dalam kesedihan dan menangis berkepanjangan karena meratapi nasib!

Jangan terburu-buru berkencan

Demi meringankan rasa sakit, kita mungkin tergoda untuk bergabung dengan komunitas atau grup pencarian jodoh. Ingat, ketika kisah cintamu yang berakhir tanpa terduga dan malam-malam dimana kamu sering menerima pesan-pesan cinta menghantui, jangan tergoda untuk meng-upload profilmu, mengirim pesan pada sang mantan, atau membuat keputusan berkencan lagi sampai kamu benar-benar siap! Alih-alih menutupi luka dari hubungan yang gagal, kita justru bisa jatuh ke pelukan yang salah. Ini bukan saja tidak adil untuk dirimu sendiri, tetapi juga orang baru yang berharap tentang kencan dan hubungan yang indah. Percayalah, sampai kita benar-benar sembuh dan berhasil mengatasi sakit hati serta emosi dari perpisahan, kita tidak akan pernah berhasil dalam hubungan yang berikut. Jadi, bersabarlah dalam proses dan nantikan waktu Tuhan dimana kita percaya bahwa Ia punya rencana yang lebih baik dan benar-benar akan menjawab doa-doa kita untuk hubungan yang lebih baik.

Andalkan Tuhan

Tidak bisa disangkali, hidup pasca putus dari pasangan adalah masa sulit. Namun, kita punya kekuatan ketika mengandalkan Tuhan. Memilih untuk menjalani hidup dalam kesabaran dan kepenuhan di dalam Kristus. Manfaatkan waktu-waktu kesendirian kita untuk belajar dan bertumbuh sebagai pribadi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun