Rencana program pengabdian mencakup berbagai kegiatan, seperti pembangunan yang berpusat pada masyarakat (people-centered development), di mana setiap relawan akan tinggal bersama keluarga asuh.
Selain itu, akan ada pemeriksaan kesehatan (general health check-ups), pengelolaan potensi perikanan, aksi lingkungan (environmental action), dan kegiatan lainnya dalam tiga divisi: divisi pendidikan, divisi ekonomi kreatif, dan divisi kesehatan.
Saya terpilih sebagai salah satu delegasi yang didanai penuh (fully funded) untuk program ini, dan saya akan berpartisipasi dalam divisi pendidikan. Program yang saya tawarkan adalah perpustakaan (a book repository) dengan konsep untuk segala usia, agar dapat melayani beragam kebutuhan masyarakat.
Saya berpendapat bahwa pendidikan dapat dianggap gagal jika anak petani tidak lagi mau bertani, dan anak nelayan berhenti melaut.
Saya juga percaya bahwa pendidikan memiliki kekuatan untuk mengubah sebuah bangsa menjadi entitas yang progresif dan kompetitif secara global.
Dalam konteks Runduma, yang kaya akan keanekaragaman hayati dan sumber daya alam, pengelolaan yang tepat belum sepenuhnya tercapai karena akses pendidikan dan literasi yang sangat terbatas. Bahkan, hampir tidak ada.
Saya sempat mewawancarai Ade Setyaningrum Sutrisno, seorang relawan pendidikan di Pulau Runduma pada tahun 2022 lalu.
Arum mengungkapkan tantangan signifikan yang dihadapi di sektor pendidikan di pulau ini. Ia menyoroti berbagai isu kritis yang menuntut perhatian segera di Runduma.
Dimulai dari akses yang sulit menjadi kendala utama. Ada keterbatasan transportasi (hanya 2-3 kali dalam sebulan), dan jarak tempuh yang memakan waktu 9-13 jam dengan menggunakan perahu nelayan.
Ketiadaan jaringan telekomunikasi membuat akses informasi menjadi sulit. Sementara itu listrik masih mengandalkan panel surya namun kebanyakan telah mengalami kerusakan di daerah ini.