Aku melepaskan ransel yang sedari tadi menggantung di punggung. Kubuka sepatu dan kaos kaki lantas disimpan di rak depan pintu.
Berjalan kembali ke arah kursi dengan kaki telanjang. Merasakan dinginnya tehel kelabu di bawahku.
Dulu saat masih sekolah, tehel ini selalu jadi tempatku lesehan sambil belajar dan berkhayal. Diriku merajut mimpi untuk bisa menjelajah dunia di luar sana.
Setiap kali kuceritakan deretan impianku, Ibu selalu mengamini. Siapa sangka ternyata impian tersebut terwujud satu persatu.
Berawal mendapatkan hadiah sebagai lulusan SMA terbaik seprovinsi berupa umrah ke tanah suci, beasiswa melanjutkan kuliah di Jerman, hingga menjalani pekerjaan di Qatar. Sudah bertahun-tahun aku pergi dari sini.
Bukan  waktu sebentar untukku meninggalkan Ibu sendirian di kampung. Ternyata tak banyak yang berubah. Rumah ini selalu konsisten dengan aura ketenangannya. Berkat sentuhan tangan Ibu.
"Oalah melamun lagi.. senyum sendiri lagi.. Ono opo tho iki cah wedhok?" tanya Ibu yang baru datang  dari dapur membawa segelas teh panas dengan aroma melati yang begitu harum. Kepulan asap panasnya menari-nari di atas gelas.
"Aku kangen sama rumah. Kangen Ibu. Kangeeeen sekali," ucapku memeluk Ibu.
***
Hanifa Paramitha
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H